Menu Tutup

Aspek Kehidupan Kerajaan Mataram Kuno: Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Peninggalan Sejarah

Kerajaan Mataram Kuno, juga dikenal sebagai Kerajaan Medang, merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara yang berdiri pada abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi. Kerajaan ini mengalami perpindahan pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, dengan berbagai dinasti yang memerintah, seperti Wangsa Sanjaya, Syailendra, dan Isyana. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam berbagai aspek kehidupan di Kerajaan Mataram Kuno, meliputi politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, serta peninggalan sejarah yang masih ada hingga kini.

Aspek Politik

Kerajaan Mataram Kuno dikenal memiliki struktur pemerintahan yang terorganisir dengan baik. Sistem monarki yang dianut menempatkan raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dianggap sebagai perwujudan dewa di bumi. Raja bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat dan penegakan dharma (kebenaran dan keadilan).

Pada awalnya, kerajaan ini dipimpin oleh Wangsa Sanjaya yang menganut agama Hindu. Raja Sanjaya, pendiri kerajaan, dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan berhasil memperluas wilayah kekuasaan. Kemudian, muncul Wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha dan memerintah di wilayah selatan Jawa Tengah. Kedua wangsa ini sempat berkuasa secara bersamaan, namun dengan wilayah dan pengaruh yang berbeda.

Perpindahan pusat kekuasaan ke Jawa Timur terjadi pada masa pemerintahan Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isyana. Perpindahan ini diduga akibat letusan Gunung Merapi yang dahsyat atau ancaman dari Kerajaan Sriwijaya. Mpu Sindok kemudian mendirikan ibu kota baru di wilayah Jawa Timur dan melanjutkan pemerintahan Kerajaan Medang dengan dinasti baru.

Aspek Ekonomi

Ekonomi Kerajaan Mataram Kuno sangat bergantung pada sektor pertanian. Letaknya yang subur, dikelilingi oleh pegunungan dan dialiri oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Progo dan Bengawan Solo, menjadikan wilayah ini ideal untuk budidaya padi. Sistem irigasi yang canggih dikembangkan untuk mendukung pertanian, sehingga menghasilkan surplus pangan yang mendukung pertumbuhan populasi dan stabilitas kerajaan.

Selain pertanian, perdagangan juga memainkan peran penting dalam perekonomian. Meskipun berlokasi di pedalaman, Kerajaan Mataram Kuno menjalin hubungan dagang dengan kerajaan lain di Nusantara dan Asia Tenggara. Barang-barang seperti rempah-rempah, hasil bumi, dan kerajinan tangan menjadi komoditas utama dalam perdagangan.

Aspek Sosial

Struktur sosial Kerajaan Mataram Kuno dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Buddha. Sistem kasta diterapkan, terdiri dari Brahmana (pendeta), Ksatria (prajurit dan bangsawan), Waisya (pedagang dan petani), dan Sudra (pekerja). Namun, dalam praktiknya, mobilitas sosial cukup fleksibel, terutama dengan adanya pengaruh ajaran Buddha yang menekankan kesetaraan.

Masyarakat Mataram Kuno dikenal hidup rukun dan damai. Gotong royong menjadi nilai penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kegiatan pertanian dan pembangunan infrastruktur seperti candi dan sistem irigasi. Pendidikan dan seni juga berkembang pesat, dengan adanya pusat-pusat pembelajaran agama dan seni di lingkungan kerajaan.

Aspek Budaya

Budaya Kerajaan Mataram Kuno sangat kaya dan beragam, mencerminkan perpaduan antara tradisi lokal dengan pengaruh Hindu dan Buddha. Seni arsitektur mencapai puncaknya dengan pembangunan candi-candi megah seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Kedua candi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan.

Seni sastra juga berkembang pesat, dengan lahirnya karya-karya sastra berbahasa Jawa Kuno yang mengandung nilai-nilai moral dan ajaran agama. Seni pertunjukan seperti wayang dan tari-tarian tradisional mulai berkembang pada masa ini, menjadi bagian integral dari ritual keagamaan dan perayaan kerajaan.

Aspek Agama

Kerajaan Mataram Kuno dikenal sebagai kerajaan yang menganut dua agama besar, yaitu Hindu dan Buddha. Pada masa Wangsa Sanjaya, Hindu Syiwa menjadi agama dominan, sementara pada masa Wangsa Syailendra, Buddha Mahayana lebih menonjol. Meskipun terdapat perbedaan keyakinan, kedua agama ini hidup berdampingan secara harmonis.

Pembangunan candi-candi besar mencerminkan toleransi dan keragaman keagamaan di kerajaan ini. Candi Borobudur, misalnya, merupakan candi Buddha terbesar di dunia, sementara Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Kedua candi ini menjadi simbol kejayaan dan toleransi beragama di Kerajaan Mataram Kuno.

Peninggalan Sejarah

Kerajaan Mataram Kuno meninggalkan warisan budaya yang kaya, terutama dalam bentuk candi dan prasasti yang tersebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Peninggalan-peninggalan ini tidak hanya mencerminkan kemegahan arsitektur pada masanya, tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang kehidupan sosial, politik, dan keagamaan kerajaan tersebut.

Candi-Candi Peninggalan

  1. Candi Borobudur

    Terletak di Magelang, Jawa Tengah, Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra sekitar abad ke-8 Masehi, candi ini memiliki struktur bertingkat dengan relief yang menggambarkan ajaran Buddha dan kehidupan masyarakat pada masa itu. Candi Borobudur menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO dan destinasi wisata utama di Indonesia.

  2. Candi Prambanan

    Dikenal juga sebagai Candi Rara Jonggrang, Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Raja Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, candi ini didedikasikan untuk Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Arsitektur candi yang megah dengan relief yang indah menjadikannya salah satu warisan budaya dunia UNESCO.

  3. Candi Sewu

    Terletak dekat dengan Candi Prambanan, Candi Sewu adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 Masehi oleh Wangsa Syailendra. Meskipun bernama “Sewu” yang berarti seribu, kompleks candi ini sebenarnya terdiri dari 249 candi. Candi utama dikelilingi oleh candi-candi perwara yang lebih kecil, mencerminkan keahlian arsitektur dan toleransi beragama pada masa itu.

  4. Candi Kalasan

    Candi Kalasan terletak di Sleman, Yogyakarta, dan merupakan candi Buddha yang dibangun pada tahun 778 Masehi oleh Rakai Panangkaran dari Wangsa Sanjaya. Candi ini didedikasikan untuk Dewi Tara dan dikenal dengan ukiran-ukiran halus serta penggunaan lapisan vajralepa pada dindingnya, yang berfungsi untuk melindungi candi dari lumut dan jamur.

  5. Candi Plaosan

    Terletak di Klaten, Jawa Tengah, Candi Plaosan terdiri dari dua kompleks candi utama yang dikenal sebagai Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani, candi ini mencerminkan perpaduan arsitektur Hindu dan Buddha, simbol harmonisasi kedua agama pada masa itu.

Prasasti-Prasasti Penting

  1. Prasasti Canggal

    Ditemukan di Desa Canggal, Jawa Tengah, prasasti ini berangka tahun 732 Masehi dan ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa. Prasasti ini menyebutkan pendirian sebuah lingga oleh Raja Sanjaya di Bukit Kunjarakunja, menandakan awal berdirinya Kerajaan Mataram Kuno.

  2. Prasasti Mantyasih

    Ditemukan di Kedu, Jawa Tengah, prasasti ini berangka tahun 907 Masehi dan dikeluarkan oleh Raja Dyah Balitung. Prasasti ini mencatat silsilah raja-raja Mataram Kuno, memberikan informasi penting mengenai urutan dan legitimasi kekuasaan para raja.

  3. Prasasti Kalasan

    Berangka tahun 778 Masehi, prasasti ini ditemukan di Kalasan, Yogyakarta, dan ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan aksara Pranagari. Prasasti ini berisi perintah dari Raja Rakai Panangkaran untuk mendirikan candi bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Buddha, menunjukkan dukungan kerajaan terhadap perkembangan agama Buddha.

  4. Prasasti Kelurak

    Ditemukan di dekat Candi Lumbung, Prambanan, prasasti ini berangka tahun 782 Masehi dan dikeluarkan oleh Raja Indra dari Wangsa Syailendra. Prasasti ini berhubungan dengan pembangunan arca Manjusri, mencerminkan pengaruh kuat agama Buddha Mahayana pada masa tersebut.

  5. Prasasti Sojomerto

    Ditemukan di Desa Sojomerto, Pekalongan, prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi dan ditulis dalam bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini menyebutkan nama Dapunta Syailendra, yang dianggap sebagai leluhur Wangsa Syailendra, memberikan petunjuk mengenai asal-usul dinasti tersebut.

Kesimpulan

Kerajaan Mataram Kuno memainkan peran penting dalam sejarah Nusantara, dengan kontribusi signifikan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Peninggalan-peninggalan seperti candi dan prasasti tidak hanya menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu, tetapi juga menjadi warisan budaya yang tak ternilai bagi generasi saat ini dan mendatang. Melalui studi dan pelestarian peninggalan-peninggalan ini, kita dapat memahami dan menghargai kekayaan sejarah serta kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya