Kerajaan Mataram Islam merupakan salah satu kerajaan besar yang pernah berjaya di Pulau Jawa pada abad ke-16 hingga ke-18. Kerajaan ini memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam penyebaran agama Islam dan pengembangan budaya Jawa. Namun, siapakah sosok di balik pendirian kerajaan ini? Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang pendiri Mataram Islam, latar belakangnya, serta peran pentingnya dalam sejarah Nusantara.
Latar Belakang Sejarah Mataram Islam
Sebelum membahas pendiri Mataram Islam, penting untuk memahami konteks sejarah yang melatarbelakangi berdirinya kerajaan ini. Pada pertengahan abad ke-16, Pulau Jawa terdiri dari beberapa kerajaan dan kadipaten yang saling berinteraksi, baik melalui aliansi maupun konflik. Salah satu kerajaan yang berpengaruh saat itu adalah Kesultanan Pajang, yang merupakan penerus dari Kesultanan Demak.
Kesultanan Pajang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya, yang juga dikenal sebagai Jaka Tingkir. Pada masa pemerintahannya, terjadi berbagai konflik internal dan eksternal yang mempengaruhi stabilitas kerajaan. Salah satu peristiwa penting adalah pemberontakan Arya Penangsang dari Jipang, yang menantang kekuasaan Pajang. Dalam upaya menumpas pemberontakan ini, Sultan Hadiwijaya dibantu oleh dua tokoh penting: Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani. Atas jasa mereka, Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah berupa tanah di wilayah Mataram, yang saat itu masih berupa hutan lebat bernama Alas Mentaok.
Ki Ageng Pemanahan: Perintis Mataram
Ki Ageng Pemanahan adalah tokoh yang berperan penting dalam sejarah awal Mataram. Setelah menerima hadiah tanah dari Sultan Hadiwijaya, ia mulai membuka dan mengembangkan wilayah tersebut menjadi pemukiman yang makmur. Bersama keluarganya, termasuk putranya yang bernama Danang Sutawijaya, Ki Ageng Pemanahan membangun dasar-dasar pemerintahan di Mataram. Meskipun demikian, Ki Ageng Pemanahan lebih dikenal sebagai perintis atau pendiri Desa Mataram, bukan sebagai pendiri Kerajaan Mataram Islam itu sendiri.
Danang Sutawijaya: Pendiri Mataram Islam
Setelah wafatnya Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1584, kepemimpinan Mataram dilanjutkan oleh putranya, Danang Sutawijaya. Sutawijaya memiliki ambisi besar untuk menjadikan Mataram sebagai kekuatan politik yang dominan di Jawa. Ia mulai memperluas wilayah kekuasaan dengan menaklukkan daerah-daerah sekitarnya dan memperkuat posisi Mataram. Pada tahun 1586, Sutawijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Mataram Islam dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama dengan gelar Panembahan Senopati.
Sebagai raja, Panembahan Senopati berhasil memperluas wilayah kekuasaan Mataram hingga mencakup sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang cakap dalam strategi militer dan diplomasi, sehingga mampu menjadikan Mataram sebagai kerajaan yang disegani pada masanya. Panembahan Senopati memerintah hingga wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kotagede, Yogyakarta.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendiri Kerajaan Mataram Islam adalah Danang Sutawijaya, yang dikenal dengan gelar Panembahan Senopati. Meskipun ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, berperan sebagai perintis wilayah Mataram, namun Sutawijaya lah yang mendirikan dan mengembangkan Mataram menjadi kerajaan Islam yang berpengaruh di Jawa. Peran dan kontribusi Panembahan Senopati dalam sejarah Indonesia sangat signifikan, terutama dalam penyebaran Islam dan pengembangan budaya Jawa pada masa itu.