Wawancara adalah salah satu cara untuk mendapatkan informasi dari sumber yang relevan, baik untuk keperluan akademik, profesional, maupun pribadi. Wawancara juga merupakan proses komunikasi antara dua pihak atau lebih, yang melibatkan pertanyaan dan jawaban secara lisan. Dalam melakukan wawancara, penting untuk memperhatikan etika atau norma-norma yang berlaku, agar wawancara dapat berlangsung dengan lancar, efektif, dan menghasilkan data yang valid dan reliabel. Berikut adalah beberapa alasan mengapa dalam wawancara harus memperhatikan etika:
Menghormati hak dan kewajiban narasumber
Narasumber adalah orang yang memberikan informasi atau pengetahuan kepada pewawancara, baik secara sukarela maupun atas permintaan. Narasumber memiliki hak untuk menentukan apakah mau diwawancarai atau tidak, kapan dan dimana wawancaranya dilakukan, apa saja yang mau dibicarakan atau tidak, dan bagaimana informasinya digunakan atau disebarkan. Narasumber juga memiliki kewajiban untuk memberikan informasi yang jujur, akurat, dan relevan dengan topik wawancara. Pewawancara harus menghormati hak dan kewajiban narasumber dengan cara:
- Meminta izin terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara, dan menjelaskan tujuan, latar belakang, metode, dan manfaat wawancaranya.
- Menyesuaikan waktu, tempat, dan durasi wawancara dengan kesepakatan bersama.
- Mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan topik dan tujuan wawancara, dan menghindari pertanyaan yang bersifat pribadi, sensitif, provokatif, atau menyinggung.
- Mendengarkan dengan baik dan aktif, serta memberikan tanggapan yang sopan dan menghargai pendapat narasumber.
- Menjaga kerahasiaan informasi yang diberikan narasumber, kecuali mendapat persetujuan untuk menyebarkannya.
Meningkatkan kredibilitas dan profesionalisme pewawancara
Pewawancara adalah orang yang mencari informasi atau pengetahuan dari narasumber, baik untuk keperluan akademik, profesional, maupun pribadi. Pewawancara memiliki tanggung jawab untuk melakukan wawancara dengan cara yang etis, objektif, dan kompeten. Pewawancara juga diharapkan untuk menghasilkan data yang valid dan reliabel, serta mampu menganalisis dan menyajikannya dengan baik. Pewawancara dapat meningkatkan kredibilitas dan profesionalismenya dengan cara:
- Mempersiapkan diri sebelum melakukan wawancara, seperti melakukan riset tentang topik dan narasumber, membuat daftar pertanyaan yang relevan dan bermutu, serta menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
- Menunjukkan sikap yang ramah, sopan, percaya diri, dan antusias saat melakukan wawancara.
- Mengikuti alur wawancara yang logis dan sistematis, serta fleksibel untuk mengubah atau menambah pertanyaan sesuai dengan situasi.
- Mengecek kembali data yang didapat dari wawancara, seperti mencatat atau merekam jawaban narasumber, meminta klarifikasi jika ada informasi yang kurang jelas atau bertentangan.
- Mengucapkan terima kasih kepada narasumber atas waktu dan informasinya, serta memberitahu hasil atau tindak lanjut dari wawancara.
Membangun hubungan yang baik antara pewawancara dan narasumber
Hubungan antara pewawancara dan narasumber adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas wawancara. Hubungan yang baik dapat menciptakan suasana yang nyaman, terbuka, dan saling percaya antara kedua pihak, sehingga memudahkan proses pertukaran informasi. Hubungan yang baik juga dapat membantu pewawancara untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam, luas, dan beragam dari narasumber. Pewawancara dapat membangun hubungan yang baik dengan narasumber dengan cara:
- Menjalin kontak sebelum wawancara, seperti mengirim email, surat, atau telepon untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud wawancara.
- Membuat kesan yang baik saat pertama kali bertemu dengan narasumber, seperti memberi salam, senyum, jabat tangan, atau ucapan selamat datang.
- Membuat percakapan ringan sebelum memulai wawancara, seperti menanyakan kabar, cuaca, atau hal-hal yang menarik bagi narasumber.
- Menunjukkan empati dan rasa hormat kepada narasumber, seperti menghargai latar belakang, pengalaman, dan pandangan narasumber, serta menghindari prasangka atau stereotip.
- Memberikan umpan balik positif kepada narasumber, seperti mengucapkan terima kasih, pujian, atau apresiasi atas informasi yang diberikan.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam wawancara harus memperhatikan etika karena etika memiliki peran penting dalam:
- Menghormati hak dan kewajiban narasumber
- Meningkatkan kredibilitas dan profesionalisme pewawancara
- Membangun hubungan yang baik antara pewawancara dan narasumber
Dengan memperhatikan etika dalam wawancara, pewawancara dapat melakukan wawancara dengan lebih efektif dan efisien, serta mendapatkan data yang lebih valid dan reliabel. Etika dalam wawancara juga dapat meningkatkan kepuasan dan kepercayaan antara pewawancara dan narasumber, serta membuka peluang untuk kerjasama yang lebih baik di masa depan.