Historiografi adalah kajian mengenai metode sejarawan dalam pengembangan sejarah sebagai disiplin ilmiah. Bentuknya berupa setiap karya sejarah mengenai topik tertentu. Historiografi tentang topik khusus melingkupi cara kerja sejarawan dalam mengkaji topik tersebut dengan menggunakan sumber, teknik, dan pendekatan teoretis tertentu1. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa jenis historiografi yang berbeda, yaitu:
- Historiografi Tradisional
- Historiografi Kritis
- Historiografi Struktural
- Historiografi Naratif
- Historiografi Kuantitatif
Historiografi Tradisional
Historiografi tradisional merupakan ekspresi kultural dari usaha untuk merekam sejarah. Dalam historiografi tradisional terjalinlah dengan erat unsur-unsur sastra, sebagai karya imajinatif dan mitologi, sebagai pandangan hidup yang dikisahkan sebagai uraian peristiwa pada masa lampau, seperti tercermin dalam babad atau hikayat2. Contoh-contoh historiografi tradisional di antaranya ialah Sejarah Melayu, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Aceh, Babad Tanah Jawi, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Kartasura, dan masih banyak lagi3.
Ciri-ciri historiografi tradisional adalah:
- Religio sentris, artinya segala sesuatu dipusatkan pada raja atau keluarga raja (keluarga istana), maka sering juga disebut istana sentris atau keluarga sentris atau dinasti sentris2.
- Supranatural, artinya kekuatan-kekuatan gaib yang tidak bisa diterima dengan akal sehat sering terdapat di dalamnya2.
- Logis, artinya kisah yang diungkapkan mengandung mitos, legenda, dongeng, asal usul suatu bangsa, kisah disini merupakan suatu pembenaran berdasar emosi dan kepercayaan2.
- Bentuknya bervariasi, seperti cerita rakyat, genealogis, kronik, annals2.
Historiografi Kritis
Historiografi kritis merupakan bentuk historiografi yang muncul sejak abad ke-18 sebagai reaksi terhadap historiografi tradisional yang dianggap tidak ilmiah dan tidak objektif. Historiografi kritis berusaha untuk menganalisis sumber-sumber sejarah secara kritis dan rasional dengan menggunakan metode ilmiah dan filosofis. Historiografi kritis juga berusaha untuk mengungkapkan motif-motif dan kepentingan-kepentingan yang melatarbelakangi penulisan sejarah oleh para sejarawan4. Contoh-contoh historiografer kritis di antaranya ialah Voltaire, David Hume, Edward Gibbon, Leopold von Ranke, dan lain-lain.
Ciri-ciri historiografi kritis adalah:
- Ilmiah, artinya menggunakan metode ilmiah yang sistematis dan logis dalam mengumpulkan, memilah, menafsirkan, dan menyajikan data sejarah4.
- Objektif, artinya berusaha untuk menyajikan fakta-fakta sejarah secara apa adanya tanpa dipengaruhi oleh prasangka atau kepentingan pribadi atau kelompok4.
- Kritis, artinya tidak menerima sumber-sumber sejarah secara mentah-mentah tetapi memeriksa keabsahan dan keandalannya dengan menggunakan kriteria seperti kesesuaian, kesaksian, ketepatan waktu, dan lain-lain4.
- Analitis, artinya tidak hanya menyajikan peristiwa-peristiwa sejarah secara kronologis tetapi juga menganalisis penyebab-penyebab dan dampak-dampaknya secara kausal4.
Historiografi Struktural
Historiografi struktural merupakan bentuk historiografi yang muncul sejak abad ke-20 sebagai reaksi terhadap historiografi kritis yang dianggap terlalu fokus pada peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat individual dan unik. Historiografi struktural berusaha untuk mengungkapkan struktur-struktur yang mendasari sejarah, seperti struktur sosial, ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain. Historiografi struktural juga berusaha untuk menemukan pola-pola dan hukum-hukum yang mengatur perubahan sejarah. Contoh-contoh historiografer struktural di antaranya ialah Fernand Braudel, Marc Bloch, Karl Marx, Max Weber, dan lain-lain.
Ciri-ciri historiografi struktural adalah:
- Holistik, artinya memandang sejarah sebagai suatu keseluruhan yang terdiri dari berbagai aspek yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
- Dinamis, artinya memandang sejarah sebagai suatu proses yang bergerak dan berubah seiring dengan waktu.
- Komparatif, artinya membandingkan sejarah antara berbagai wilayah, zaman, atau peradaban untuk menemukan persamaan dan perbedaan.
- Interdisipliner, artinya menggunakan berbagai disiplin ilmu lain seperti sosiologi, ekonomi, antropologi, psikologi, dan lain-lain untuk membantu memahami sejarah.
Historiografi Naratif
Historiografi naratif merupakan bentuk historiografi yang muncul sejak akhir abad ke-20 sebagai reaksi terhadap historiografi struktural yang dianggap terlalu abstrak dan tidak menarik. Historiografi naratif berusaha untuk menyajikan sejarah sebagai suatu cerita yang menarik dan menggugah dengan menggunakan teknik-teknik sastra seperti plot, karakter, dialog, latar, dan lain-lain. Historiografi naratif juga berusaha untuk menampilkan perspektif-perspektif yang berbeda dari para pelaku atau saksi sejarah. Contoh-contoh historiografer naratif di antaranya ialah Barbara Tuchman, Simon Schama, David McCullough, dan lain-lain.
Ciri-ciri historiografi naratif adalah:
- Estetis, artinya menggunakan gaya bahasa yang indah dan menarik untuk menyampaikan sejarah.
- Emotif, artinya menggunakan unsur-unsur emosi untuk membangkitkan rasa simpati atau empati pada pembaca terhadap para pelaku atau saksi sejarah.
- Subjektif, artinya menggunakan sudut pandang pribadi atau kelompok tertentu dalam menyajikan sejarah.
- Dramatis, artinya menggunakan unsur-unsur dramatik seperti konflik, klimaks, resolusi, dan lain-lain untuk meningkatkan ketegangan dan ketertarikan pada pembaca.
Historiografi Kuantitatif
Historiografi kuantitatif merupakan bentuk historiografi yang muncul sejak pertengahan abad ke-20 sebagai reaksi terhadap historiografi kritis yang dianggap terlalu bergantung pada sumber-sumber tertulis. Historiografi kuantitatif berusaha untuk menggunakan data-data numerik atau statistik sebagai sumber-sumber sejarah. Historiografi kuantitatif juga berusaha untuk menggunakan metode-metode matematika atau komputer untuk mengolah, menganalisis, dan menyajikan data-data tersebut. Contoh-contoh historiografer kuantitatif di antaranya ialah Charles Tilly, Peter Laslett, Emmanuel Le Roy Ladurie, dan lain-lain.
Ciri-ciri historiagrafi kuantitatif adalah:
- Numerik, artinya menggunakan angka-angka sebagai data sejarah.
- Statistik, artinya menggunakan teknik-teknik statistik seperti tabel, grafik, diagram, rumus, indeks, dan lain-lain untuk mengolah data sejarah.
- Matematik, artinya menggunakan metode-metode matematika seperti aljabar, kalkulus, geometri, probabilitas, dan lain-lain untuk menganalisis data sejarah.
- Komputerisasi, artinya menggunakan alat-alat komputer.
Historiografi kuantitatif juga berusaha untuk menggunakan alat-alat komputer seperti program, database, model, simulasi, dan lain-lain untuk menyajikan data sejarah. Contoh-contoh historiografi kuantitatif di antaranya ialah:
- Charles Tilly, seorang sosiolog dan sejarawan Amerika yang menggunakan data statistik untuk mengkaji fenomena-fenomena sosial seperti revolusi, perang, migrasi, urbanisasi, dan lain-lain.
- Peter Laslett, seorang sejarawan Inggris yang menggunakan data sensus untuk mengkaji struktur dan dinamika keluarga di Eropa pada masa lampau.
- Emmanuel Le Roy Ladurie, seorang sejarawan Prancis yang menggunakan data iklimatologi untuk mengkaji dampak perubahan iklim terhadap masyarakat dan budaya di Prancis pada abad pertengahan.
Sumber:
(1) Historiografi – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Historiografi.
(2) Pengertian Historiografi, Ciri, Fungsi, Prinsip & Contoh. https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-historiografi/.
(3) Historiografi – Pengertian, Ciri, Fungsi, Jenis & Contoh. https://www.dosenpendidikan.co.id/historiografi/.