Menu Tutup

Islam dan Pendidikan di Indonesia: Suatu Studi Historis

Pendahuluan

Islam adalah agama yang pertama kali masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7 Masehi, melalui jalur perdagangan dan dakwah. Islam kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara, dengan beragam corak dan tradisi. Salah satu aspek penting dalam perkembangan Islam di Indonesia adalah pendidikan Islam, yang merupakan sarana untuk mengajarkan ajaran agama, membentuk karakter, dan mengembangkan potensi umat.

Pendidikan Islam di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan dinamis, yang mencerminkan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakatnya. Pendidikan Islam di Indonesia juga mengalami berbagai tantangan dan perubahan, baik dari dalam maupun dari luar, yang mempengaruhi bentuk, isi, metode, dan tujuannya.

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara historis perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, dengan menggunakan perspektif Karel A. Steenbrink, seorang orientalis Belanda yang telah banyak menulis tentang studi Islam di Indonesia. Artikel ini akan membahas tiga periode penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia, yaitu:

  • Periode pra-kolonial (abad ke-7 hingga ke-19), yang ditandai oleh munculnya lembaga pendidikan pesantren sebagai model pendidikan tradisional.
  • Periode kolonial (abad ke-19 hingga ke-20), yang ditandai oleh adanya intervensi pemerintah kolonial Belanda terhadap pendidikan Islam, serta munculnya gerakan pembaruan dan modernisasi pendidikan Islam.
  • Periode pasca-kolonial (abad ke-20 hingga sekarang), yang ditandai oleh integrasi pendidikan Islam dengan sistem pendidikan nasional, serta adanya diversifikasi dan transformasi pendidikan Islam.

Periode Pra-Kolonial: Pesantren Sebagai Model Pendidikan Tradisional

Pada periode pra-kolonial, pendidikan Islam di Indonesia didominasi oleh lembaga pendidikan pesantren, yang merupakan asrama tempat belajar agama bagi para santri (murid) yang diasuh oleh kiai (guru). Pesantren berasal dari kata santri, yang berarti orang yang belajar agama1. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang bersifat mandiri, otonom, dan independen dari penguasa2.

Pesantren memiliki karakteristik sebagai berikut2:

  • Menggunakan kurikulum yang berbasis pada kitab-kitab kuning (kitab berbahasa Arab) yang berisi penjelasan tentang ajaran Islam dalam bidang akidah (teologi), syariah (hukum), dan tasawuf (mistisisme).
  • Menggunakan metode sorogan (membaca kitab di depan kiai) dan bandongan (mendengarkan penjelasan kiai) dalam proses belajar mengajar.
  • Menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dan bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.
  • Menekankan pada pembentukan akhlak (moral) dan budi pekerti (etika) santri melalui disiplin, tata krama, dan pengamalan ibadah.
  • Menyediakan fasilitas belajar seperti masjid, pondok (asrama), langgar (tempat shalat), dan perpustakaan.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Pesantren juga menjadi pusat intelektual dan sosial bagi masyarakat sekitarnya. Pesantren melahirkan banyak ulama (cendekiawan) dan tokoh-tokoh agama yang berpengaruh dalam sejarah Islam di Indonesia.

Beberapa contoh pesantren tertua dan terkenal di Indonesia adalah3:

  • Pesantren Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, yang didirikan pada tahun 1926 oleh KH Ahmad Sahal dan KH Zainuddin Fanani. Pesantren ini dikenal sebagai pesantren modern yang menggabungkan pendidikan agama dan umum, serta menerapkan sistem demokrasi dan kemandirian santri.
  • Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, yang didirikan pada tahun 1899 oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren ini dikenal sebagai pesantren salafi yang kuat berpegang pada tradisi awal mengkaji dan mendalami kitab-kitab klasik.
  • Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang didirikan pada tahun 1910 oleh KH Ahmad Sanusi, salah satu tokoh Sarekat Islam (SI). Pesantren ini dikenal sebagai pesantren yang aktif dalam gerakan sosial dan politik, serta mengembangkan metode belajar yang kreatif dan inovatif.

Periode Kolonial: Intervensi, Pembaruan, dan Modernisasi Pendidikan Islam

Pada periode kolonial, pendidikan Islam di Indonesia mengalami berbagai intervensi, pembaruan, dan modernisasi, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut4:

  • Kebijakan pemerintah kolonial Belanda, yang mencoba mengendalikan dan membatasi pendidikan Islam dengan berbagai cara, seperti melarang pengajaran bahasa Arab, memberlakukan sistem izin dan pengawasan, memberikan bantuan finansial dengan syarat tertentu, dan mendirikan sekolah-sekolah model yang bersaing dengan pesantren.
  • Masuknya ide-ide pembaruan pemikiran Islam dari Timur Tengah, yang dibawa oleh para pelajar Indonesia yang belajar di sana, seperti Muhammad Abduh, Rashid Rida, Jamaluddin al-Afghani, dan lain-lain. Ide-ide ini menekankan pada perlunya reformasi dalam bidang agama, pendidikan, sosial, dan politik, dengan mengadopsi nilai-nilai rasionalisme, ilmiah, dan progresif.
  • Munculnya gerakan nasionalisme dan pergerakan kemerdekaan Indonesia, yang melibatkan banyak tokoh dan organisasi Islam, seperti Muhammadiyah, NU, SI, Masyumi, dan lain-lain. Gerakan ini menuntut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda, serta memperjuangkan hak-hak politik, ekonomi, sosial, dan budaya bagi bangsa Indonesia.

Akibat dari faktor-faktor tersebut, pendidikan Islam di Indonesia mengalami dinamika dan perubahan dalam berbagai aspek4:

  • Munculnya lembaga pendidikan baru yang berbeda dari pesantren tradisional, seperti madrasah (sekolah agama), sekolah rakyat (sekolah dasar), sekolah guru (sekolah menengah), dan perguruan tinggi (universitas). Lembaga-lembaga ini mengadopsi sistem pendidikan modern yang menggunakan kurikulum terpadu antara agama dan umum, metode pembelajaran aktif dan partisipatif, serta bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.
  • Munculnya gerakan pembaruan dalam pesantren tradisional, yang berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Beberapa upaya pembaruan ini antara lain adalah memperluas cakupan kurikulum dengan menambahkan mata pelajaran umum seperti bahasa Indonesia, matematika, ilmu pengetahuan alam, sejarah, geografi, dan lain-lain; memperbaiki metode pembelajaran dengan menggunakan media dan sumber belajar yang bervariasi; serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan memberikan pelatihan dan bimbingan bagi kiai dan santri.
  • Munculnya gerakan sosial dan politik dalam pendidikan Islam, yang berusaha memanfaatkan pendidikan sebagai sarana untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Beberapa contoh gerakan ini antara lain adalah mendirikan sekolah-sekolah rakyat yang bersifat nasionalis; membentuk organisasi-organisasi pelajar Islam yang bersifat militan; serta menyelenggarakan kongres-kongres pendidikan Islam yang bersifat aspiratif.

Periode Pasca-Kolonial: Integrasi, Diversifikasi, dan Transformasi Pendidikan Islam

Pada periode pasca-kolonial, pendidikan Islam di Indonesia mengalami integrasi, diversifikasi, dan transformasi, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kebijakan pemerintah Indonesia, yang berusaha menyatukan dan menyelaraskan pendidikan Islam dengan sistem pendidikan nasional, dengan berbagai cara, seperti memberikan pengakuan dan akreditasi terhadap lembaga pendidikan Islam, memberikan bantuan dan subsidi bagi guru dan siswa pendidikan Islam, serta mengembangkan kurikulum dan standar nasional pendidikan Islam.
  • Masuknya pengaruh globalisasi dan modernisasi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan komunikasi, yang membawa dampak positif dan negatif bagi pendidikan Islam. Dampak positifnya antara lain adalah meningkatnya akses dan kualitas pendidikan Islam melalui penggunaan media dan sumber belajar yang lebih canggih dan variatif, serta terbukanya peluang kerjasama dan pertukaran ilmiah antara lembaga pendidikan Islam di dalam dan luar negeri. Dampak negatifnya antara lain adalah munculnya tantangan dan ancaman terhadap identitas dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, seperti sekularisasi, liberalisasi, pluralisasi, radikalisasi, dan lain-lain.
  • Munculnya kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang semakin kompleks dan dinamis dalam bidang pendidikan Islam, yang mengharuskan lembaga pendidikan Islam untuk lebih responsif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Beberapa kebutuhan dan tuntutan ini antara lain adalah mengembangkan pendidikan Islam yang relevan dengan kehidupan nyata; mengembangkan pendidikan Islam yang inklusif dan multikultural; mengembangkan pendidikan Islam yang berorientasi pada pembangunan manusia seutuhnya; serta mengembangkan pendidikan Islam yang berkontribusi pada pembangunan bangsa dan dunia.

Akibat dari faktor-faktor tersebut, pendidikan Islam di Indonesia mengalami dinamika dan perubahan dalam berbagai aspek:

  • Meningkatnya jumlah dan jenis lembaga pendidikan Islam di semua jenjang, mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas), hingga perguruan tinggi. Lembaga-lembaga ini memiliki berbagai bentuk, seperti sekolah umum dengan muatan lokal agama; sekolah agama dengan muatan lokal umum; sekolah agama integrasi; sekolah agama internasional; sekolah agama inklusi; sekolah agama alternatif; serta pesantren modern.
  • Berkembangnya kurikulum dan metode pembelajaran pendidikan Islam yang lebih variatif dan fleksibel, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing lembaga. Beberapa contoh kurikulum dan metode pembelajaran ini antara lain adalah kurikulum tematik-integratif; kurikulum berbasis kompetensi; kurikulum berbasis nilai; kurikulum berbasis konteks; metode pembelajaran kooperatif; metode pembelajaran inkuiri; metode pembelajaran problem-based learning; metode pembelajaran project-based learning; serta metode pembelajaran blended learning.
  • Meningkatnya kualitas sumber daya manusia pendidikan Islam, baik guru maupun siswa, melalui berbagai upaya peningkatan kapasitas dan kompetensi. Beberapa upaya ini antara lain adalah penyelenggaraan program sertifikasi guru; penyelenggaraan program beasiswa bagi guru dan siswa; penyelenggaraan program pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru; penyelenggaraan program bimbingan dan konseling bagi siswa; serta penyelenggaraan program ekstrakurikuler dan nonformal bagi siswa.

Sumber:
(1) Pendidikan Islam di Indonesia : historis dan eksistensinya / Prof. Dr …. https://opac.perpusnas.go.id/
(2) Studi Islam Indonesia: Pendidikan Islam Modern (Kajian Historis …. http://jurnalnasional.ump.ac.id/
(3) Studi Islam Indonesia: Pendidikan Islam Modern (Kajian Historis …. https://www.academia.edu/
(4) Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia: Kajian Historis Dari …. https://ejournal.uin-malang.ac.id/

Posted in Ragam

Artikel Lainnya