Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang berperan penting dalam sejarah Nusantara. Berdiri pada abad ke-7 Masehi, kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya dengan menguasai jalur perdagangan maritim dan menyebarkan ajaran Buddha di wilayah Asia Tenggara.
1. Sejarah Berdirinya Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya, salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, didirikan pada abad ke-7 Masehi oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Informasi mengenai pendirian kerajaan ini diperoleh dari berbagai prasasti dan catatan sejarah yang ditemukan di wilayah Sumatera Selatan.
Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit, ditemukan di Palembang dan bertarikh 682 Masehi, merupakan salah satu sumber utama yang mengungkap awal mula Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini mencatat perjalanan suci (siddhayatra) yang dilakukan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa dengan membawa 20.000 tentara dari Minanga Tamwan ke wilayah yang kini dikenal sebagai Palembang. Perjalanan ini menandai pendirian Kerajaan Sriwijaya dan ekspansi wilayahnya.
Prasasti Talang Tuo
Prasasti Talang Tuo, bertarikh 684 Masehi, ditemukan di dekat Palembang. Prasasti ini mencatat pembangunan taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan taman ini menunjukkan perhatian raja terhadap kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, serta mencerminkan kemajuan peradaban Sriwijaya pada masa itu.
Prasasti Kota Kapur
Prasasti Kota Kapur, ditemukan di Pulau Bangka dan bertarikh 686 Masehi, mencatat ekspedisi militer yang dilakukan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk menaklukkan wilayah di Pulau Jawa yang tidak setia kepada Sriwijaya. Prasasti ini menunjukkan upaya Sriwijaya dalam memperluas pengaruh dan kekuasaannya di wilayah Nusantara.
Catatan I-Tsing
Selain prasasti, catatan dari biksu Tiongkok, I-Tsing, yang mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671 Masehi, memberikan informasi berharga mengenai kerajaan ini. I-Tsing mencatat bahwa Sriwijaya merupakan pusat pembelajaran agama Buddha yang penting, dengan banyak biksu dan pelajar dari berbagai negara datang untuk belajar di sana.
Faktor-faktor Pendirian
Beberapa faktor yang mendukung pendirian dan perkembangan awal Kerajaan Sriwijaya antara lain:
- Letak Geografis Strategis. Terletak di tepi Sungai Musi dan dekat dengan Selat Malaka, Sriwijaya memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan maritim antara India dan Tiongkok.
- Kemampuan Maritim. Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat, memungkinkan pengendalian jalur perdagangan dan ekspansi wilayah.
- Aliansi dan Penaklukan. Sriwijaya membentuk aliansi dan melakukan penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan tetangga untuk memperluas pengaruh dan kekuasaannya.
Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, Kerajaan Sriwijaya berhasil tumbuh menjadi kekuatan dominan di Asia Tenggara pada masa itu, memainkan peran penting dalam perdagangan, penyebaran agama Buddha, dan perkembangan budaya di wilayah tersebut.
2. Letak Geografis dan Pusat Pemerintahan
Letak Geografis
Secara umum, wilayah kekuasaan Sriwijaya mencakup sebagian besar Sumatera, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan beberapa wilayah di Jawa. Posisi ini memungkinkan Sriwijaya mengendalikan jalur perdagangan maritim utama antara India dan Tiongkok melalui Selat Malaka, yang menjadi sumber kekayaan dan kekuatan kerajaan ini.
Pusat Pemerintahan
Penentuan pusat pemerintahan Sriwijaya telah menjadi topik diskusi panjang di kalangan akademisi. Beberapa teori utama mengenai lokasi pusat pemerintahan Sriwijaya antara lain:
- Palembang, Sumatera Selatan. Teori ini didukung oleh penemuan prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo di sekitar Palembang, yang menunjukkan aktivitas kerajaan di wilayah tersebut. Selain itu, catatan dari biksu Tiongkok, I-Tsing, menyebutkan bahwa ia tinggal di “Shilifoshi” (Sriwijaya) selama enam bulan, yang diyakini merujuk pada Palembang.
- Muaro Jambi, Jambi. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa pusat Sriwijaya berada di Muaro Jambi, berdasarkan penemuan kompleks candi Muaro Jambi yang luas dan indikasi sebagai pusat pembelajaran agama Buddha. Penelitian arkeologi pada tahun 2013 menemukan situs-situs keagamaan dan pemukiman di kompleks candi Muaro Jambi, yang menunjukkan bahwa pusat awal Sriwijaya mungkin berada di wilayah ini.
- Chaiya, Thailand Selatan. Teori lain menyatakan bahwa pusat Sriwijaya berada di Chaiya, berdasarkan penemuan prasasti dan artefak yang menunjukkan pengaruh Sriwijaya di wilayah tersebut. Namun, teori ini kurang didukung oleh bukti kuat dibandingkan dengan teori lainnya.
Meskipun berbagai teori telah diajukan, mayoritas sejarawan cenderung mendukung Palembang sebagai pusat pemerintahan Sriwijaya, berdasarkan bukti prasasti dan catatan sejarah yang ada. Namun, penemuan arkeologi di Muaro Jambi memberikan perspektif baru yang menarik dan menunjukkan bahwa pusat pemerintahan Sriwijaya mungkin berpindah-pindah seiring waktu, sesuai dengan kebutuhan politik dan ekonomi kerajaan.
Dengan letak geografis yang strategis dan pusat pemerintahan yang adaptif, Sriwijaya mampu mengendalikan jalur perdagangan maritim utama dan menjadi kekuatan dominan di Asia Tenggara selama berabad-abad.
3. Ekspansi dan Wilayah Kekuasaan
Ekspansi Wilayah
Sriwijaya menerapkan kebijakan ekspansi yang agresif untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Melalui penaklukan dan aliansi dengan kerajaan-kerajaan tetangga, Sriwijaya berhasil menguasai wilayah-wilayah strategis di Asia Tenggara.
Wilayah Kekuasaan
Pada puncak kejayaannya, wilayah kekuasaan Sriwijaya mencakup:
- Sumatera: Sebagian besar wilayah Sumatera, termasuk Palembang sebagai pusat pemerintahan, serta Jambi dan Lampung.
- Semenanjung Malaya: Wilayah di Semenanjung Malaya, termasuk Kedah dan Pahang, berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
- Thailand Selatan: Beberapa wilayah di Thailand Selatan, seperti Ligor (Nakhon Si Thammarat), menjadi bagian dari kekuasaan Sriwijaya.
- Jawa Barat: Sriwijaya juga memiliki pengaruh di wilayah Jawa Barat, termasuk Tarumanagara dan Sunda.
- Kalimantan Barat: Beberapa wilayah di Kalimantan Barat berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
- Kamboja: Wilayah Kamboja juga termasuk dalam pengaruh Sriwijaya.
Penguasaan wilayah yang luas ini memungkinkan Sriwijaya mengendalikan jalur perdagangan maritim utama antara India dan Tiongkok, memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.
4. Raja-Raja
Kerajaan Sriwijaya, sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, dipimpin oleh sejumlah raja yang berperan penting dalam perkembangan dan kejayaannya. Berikut adalah beberapa raja terkenal yang pernah memerintah Sriwijaya:
- Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Dianggap sebagai pendiri Kerajaan Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa memimpin ekspedisi militer yang tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 Masehi. Ekspedisi ini menandai awal berdirinya Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang kuat.
- Balaputradewa. Memerintah sekitar abad ke-9 Masehi, Balaputradewa dikenal sebagai raja yang memperkuat pengaruh Sriwijaya di Asia Tenggara. Ia menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Pala di India dan mendirikan biara di Nalanda untuk para pelajar dari Sriwijaya.
- Sri Cudamani Warmadewa. Memerintah sekitar tahun 988 Masehi, Sri Cudamani Warmadewa dikenal melalui Prasasti Leiden yang mencatat sumbangannya untuk biara di Nalanda, India. Hal ini menunjukkan hubungan erat antara Sriwijaya dan pusat pembelajaran Buddha di India.
- Sangramadhananjaya. Dikenal melalui Prasasti Ligor di Thailand Selatan, Sangramadhananjaya memerintah sekitar tahun 775 Masehi. Prasasti ini menunjukkan pengaruh Sriwijaya yang meluas hingga Semenanjung Malaya dan Thailand Selatan.
- Dharmasetu. Memerintah sekitar abad ke-8 Masehi, Dharmasetu dikenal melalui catatan sejarah yang menyebutkan ekspansi Sriwijaya ke wilayah Indocina, termasuk Kamboja. Hal ini menunjukkan ambisi Sriwijaya dalam memperluas pengaruhnya di daratan Asia Tenggara.
Para raja tersebut berperan penting dalam membangun dan mempertahankan kejayaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara. Melalui kebijakan diplomatik, ekspansi wilayah, dan dukungan terhadap pendidikan agama, mereka memastikan Sriwijaya tetap menjadi kekuatan dominan selama berabad-abad.
5. Sistem Pemerintahan dan Struktur Sosial
Sistem Pemerintahan
Pemerintahan Sriwijaya berbentuk monarki dengan raja sebagai pemimpin tertinggi yang memegang kekuasaan absolut. Raja dibantu oleh sejumlah pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas berbagai bidang pemerintahan. Prasasti Telaga Batu, yang ditemukan di Palembang, menyebutkan berbagai jabatan dalam struktur pemerintahan Sriwijaya, antara lain:
- Rājaputra: Putra raja atau pangeran yang memiliki peran penting dalam pemerintahan.
- Kumārāmātya: Menteri yang bertanggung jawab atas administrasi kerajaan.
- Bhūpati: Penguasa regional atau gubernur yang mengelola wilayah tertentu.
- Senāpati: Panglima perang yang memimpin angkatan bersenjata kerajaan.
- Nāyaka: Pemimpin komunitas lokal atau kepala desa.
- Pratyaya: Bangsa atau kaum bangsawan yang memiliki pengaruh dalam pemerintahan.
- Dandanayaka: Hakim yang bertanggung jawab atas penegakan hukum.
- Tuhā an vatak: Pengawas pekerja atau mandor.
- Vuruh: Pekerja atau buruh.
- Adhyaksa nījavarna: Pengawas tingkat rendah.
- Vāsīkarana: Pandai besi atau pembuat senjata.
- Cātabhata: Prajurit atau tentara.
- Adhikarana: Pejabat atau petugas administrasi.
- Kāyastha: Juru tulis atau sekretaris.
- Sthāpaka: Arsitek atau perancang bangunan.
- Puhāvam: Kapten kapal atau nakhoda.
- Vaniyāga: Pedagang atau saudagar.
- Marsī hāji: Pelayan raja.
- Hulun hāji: Budak raja.
Struktur pemerintahan yang terorganisir ini mencerminkan kompleksitas administrasi Sriwijaya dalam mengelola kerajaan maritim yang luas dan beragam.
Struktur Sosial
Masyarakat Sriwijaya memiliki struktur sosial yang hierarkis, terdiri dari beberapa lapisan:
- Keluarga Raja dan Bangsawan: Lapisan tertinggi yang terdiri dari raja, keluarga kerajaan, dan kaum bangsawan yang memiliki kekuasaan dan hak istimewa.
- Pejabat dan Pemuka Agama: Termasuk menteri, panglima perang, hakim, dan pendeta Buddha yang berperan dalam administrasi pemerintahan dan kehidupan keagamaan.
- Pedagang dan Pengrajin: Kelompok yang terlibat dalam aktivitas ekonomi, seperti perdagangan, kerajinan, dan industri maritim.
- Petani dan Nelayan: Mayoritas penduduk yang bekerja di sektor pertanian dan perikanan, menyediakan kebutuhan pangan bagi kerajaan.
- Buruh dan Budak: Lapisan terbawah yang terdiri dari pekerja kasar dan budak yang memiliki sedikit hak dan kebebasan.
Struktur sosial ini mencerminkan kompleksitas masyarakat Sriwijaya yang multietnis dan multikultural, dengan interaksi antara berbagai kelompok yang berkontribusi pada kemajuan ekonomi dan budaya kerajaan.
Dengan sistem pemerintahan yang terstruktur dan struktur sosial yang terorganisir, Sriwijaya mampu mempertahankan stabilitas internal dan mengelola wilayah kekuasaannya yang luas, menjadikannya salah satu kerajaan maritim terkuat di Asia Tenggara pada masanya.
6. Peran dalam Penyebaran Agama Buddha
Kerajaan Sriwijaya memainkan peran krusial dalam penyebaran dan pengembangan agama Buddha di Asia Tenggara antara abad ke-7 hingga ke-13 Masehi. Sebagai pusat pembelajaran dan praktik Buddhis, Sriwijaya menarik perhatian biksu dan cendekiawan dari berbagai wilayah, termasuk Tiongkok dan India.
Pusat Pembelajaran Buddhis
Sriwijaya dikenal sebagai pusat pendidikan agama Buddha yang terkemuka. Biksu Tiongkok, I-Tsing, yang mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671 Masehi, mencatat bahwa terdapat lebih dari seribu biksu yang belajar dan berpraktik di sana. Ia merekomendasikan para biksu Tiongkok untuk belajar di Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Dukungan Kerajaan terhadap Pendidikan Buddhis
Raja-raja Sriwijaya memberikan dukungan signifikan terhadap pengajaran dan penyebaran agama Buddha. Prasasti Nalanda mencatat bahwa Raja Balaputradewa dari Sriwijaya meminta Raja Dewapaladeva dari India untuk menyediakan tanah bagi pembangunan asrama bagi pelajar Buddhis dari Sriwijaya. Hal ini menunjukkan komitmen Sriwijaya dalam mendukung pendidikan Buddhis hingga ke pusat pengajaran terbesar di dunia saat itu.
Penyebaran Ajaran Buddha ke Wilayah Lain
Selain menjadi pusat pembelajaran, Sriwijaya juga aktif dalam menyebarkan ajaran Buddha ke wilayah lain di Asia Tenggara. Melalui ekspansi wilayah dan pengaruh politik, Sriwijaya memperkenalkan dan mengintegrasikan ajaran Buddha ke dalam budaya lokal di wilayah-wilayah yang berada di bawah pengaruhnya.
Pengaruh terhadap Arsitektur dan Seni Buddhis
Pengaruh Sriwijaya dalam penyebaran agama Buddha juga tercermin dalam peninggalan arsitektur dan seni Buddhis di wilayah Asia Tenggara. Candi-candi seperti Muaro Jambi di Sumatera dan kompleks candi di Thailand Selatan menunjukkan pengaruh arsitektur Buddhis yang berkembang pada masa kejayaan Sriwijaya.
Melalui peran aktif dalam pendidikan, dukungan kerajaan, dan penyebaran ajaran Buddha, Sriwijaya berkontribusi signifikan dalam perkembangan agama Buddha di Asia Tenggara, menjadikannya pusat penting dalam sejarah Buddhis di wilayah tersebut.
7. Peninggalan Sejarah dan Arkeologi
Kerajaan Sriwijaya meninggalkan berbagai peninggalan sejarah dan arkeologi yang menjadi bukti kejayaannya sebagai kerajaan maritim di Asia Tenggara. Peninggalan tersebut meliputi prasasti, candi, dan situs arkeologi yang tersebar di berbagai wilayah.
Prasasti
Prasasti merupakan sumber utama informasi mengenai Kerajaan Sriwijaya. Beberapa prasasti penting antara lain:
- Prasasti Kedukan Bukit: Ditemukan di Palembang, prasasti ini bertarikh 682 Masehi dan mencatat perjalanan suci (siddhayatra) Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang menandai pendirian Sriwijaya.
- Prasasti Talang Tuo: Ditemukan di dekat Palembang, prasasti ini bertarikh 684 Masehi dan mencatat pembangunan taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang untuk kesejahteraan rakyatnya.
- Prasasti Kota Kapur: Ditemukan di Pulau Bangka, prasasti ini bertarikh 686 Masehi dan mencatat ekspedisi militer Sriwijaya ke Jawa untuk menaklukkan wilayah yang tidak setia.
- Prasasti Telaga Batu: Ditemukan di Palembang, prasasti ini berisi kutukan bagi siapa saja yang memberontak terhadap kekuasaan Sriwijaya, menunjukkan struktur pemerintahan dan hierarki sosial kerajaan.
Candi
Beberapa candi peninggalan Sriwijaya antara lain:
- Candi Muaro Jambi: Terletak di Jambi, kompleks candi ini merupakan salah satu situs arkeologi terluas di Asia Tenggara dan diyakini sebagai pusat pendidikan agama Buddha pada masa Sriwijaya.
- Candi Muara Takus: Terletak di Riau, candi ini merupakan satu-satunya candi Buddha di Sumatera yang terbuat dari batu bata dan batu pasir, menunjukkan pengaruh arsitektur Sriwijaya.
Situs Arkeologi
Situs arkeologi penting lainnya meliputi:
- Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya: Terletak di Palembang, situs ini menampilkan sisa-sisa kanal, kolam, dan pulau buatan yang menunjukkan perencanaan kota yang maju pada masa Sriwijaya.
- Situs Bukit Seguntang: Terletak di Palembang, situs ini dianggap sebagai tempat suci dan pusat spiritual Sriwijaya, dengan penemuan arca Buddha dan artefak lainnya.
Peninggalan-peninggalan tersebut memberikan gambaran mengenai kemajuan peradaban, sistem pemerintahan, dan kehidupan sosial budaya Kerajaan Sriwijaya, serta peran pentingnya dalam penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.
8. Masa Kejayaan dan Kemunduran
Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, ditandai dengan dominasi perdagangan maritim di Asia Tenggara dan peran sentral dalam penyebaran agama Buddha. Namun, memasuki abad ke-11, kerajaan ini mulai mengalami kemunduran yang akhirnya mengarah pada keruntuhannya.
Masa Kejayaan
Pada masa kejayaannya, Sriwijaya menguasai jalur perdagangan utama antara India dan Tiongkok melalui Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa. Posisi strategis ini memungkinkan Sriwijaya menjadi pusat perdagangan internasional, mengendalikan distribusi komoditas seperti rempah-rempah, emas, dan hasil hutan. Selain itu, Sriwijaya menjadi pusat pembelajaran agama Buddha, menarik biksu dan cendekiawan dari berbagai wilayah. Biksu Tiongkok, I-Tsing, mencatat bahwa ia belajar di Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.
Faktor-faktor Kemunduran
Beberapa faktor yang berkontribusi pada kemunduran Sriwijaya antara lain:
- Serangan dari Kerajaan Chola: Pada tahun 1025 Masehi, Rajendra Chola I dari India Selatan melancarkan serangan besar terhadap Sriwijaya, menawan raja Sriwijaya, dan merusak infrastruktur perdagangan.
- Munculnya Pesaing Baru: Kerajaan-kerajaan seperti Kediri dan Majapahit di Jawa mulai berkembang dan menantang dominasi Sriwijaya dalam perdagangan maritim.
- Perubahan Jalur Perdagangan: Perubahan rute perdagangan internasional dan penemuan jalur baru oleh pedagang Arab dan Persia mengurangi peran strategis Sriwijaya.
- Masuknya Islam: Penyebaran Islam di Asia Tenggara mengurangi pengaruh Sriwijaya sebagai pusat agama Buddha, terutama dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai.
Keruntuhan
Serangkaian faktor tersebut menyebabkan melemahnya kekuatan Sriwijaya. Pada abad ke-13, Ekspedisi Pamalayu yang dilancarkan oleh Kerajaan Singasari dari Jawa semakin melemahkan Sriwijaya. Akhirnya, pada tahun 1377, serangan dari Majapahit menandai berakhirnya kekuasaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang dominan di Asia Tenggara.
Meskipun mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh, warisan Sriwijaya dalam bidang perdagangan, budaya, dan agama tetap berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara.
9. Warisan dan Pengaruh Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya, yang mencapai puncak kejayaannya antara abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, meninggalkan warisan dan pengaruh yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan di Asia Tenggara. Dampak tersebut mencakup bidang bahasa, budaya, agama, dan perdagangan, yang jejaknya masih dapat dirasakan hingga kini.
Pengaruh Bahasa dan Penyebaran Bahasa Melayu
Salah satu warisan penting Sriwijaya adalah perannya dalam penyebaran bahasa Melayu. Sebagai lingua franca di wilayah kekuasaannya, bahasa Melayu digunakan dalam administrasi, perdagangan, dan komunikasi antarwilayah. Penggunaan bahasa Melayu oleh Sriwijaya membantu menyebarkan bahasa ini ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu modern.
Penyebaran Agama Buddha
Sriwijaya dikenal sebagai pusat pembelajaran dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara. Banyak biksu dari berbagai negara datang untuk belajar di Sriwijaya, termasuk I-Tsing, seorang biksu Tiongkok yang tinggal di Sriwijaya pada tahun 671 Masehi. Peran Sriwijaya dalam penyebaran agama Buddha meninggalkan jejak yang masih dapat dilihat dalam tradisi dan situs-situs keagamaan di wilayah tersebut.
Warisan Arsitektur dan Seni
Pengaruh Sriwijaya dalam bidang arsitektur dan seni tercermin dalam berbagai peninggalan seperti candi Muaro Jambi di Jambi dan candi Muara Takus di Riau. Selain itu, tradisi tenun songket Palembang yang kaya akan motif dan teknik dianggap sebagai warisan budaya yang berasal dari masa kejayaan Sriwijaya.
Pengaruh dalam Perdagangan Maritim
Sebagai kerajaan maritim yang dominan, Sriwijaya menguasai jalur perdagangan utama antara India dan Tiongkok melalui Selat Malaka. Penguasaan ini tidak hanya memperkaya Sriwijaya tetapi juga mempengaruhi pola perdagangan dan interaksi budaya di Asia Tenggara. Warisan ini terlihat dalam tradisi maritim dan perdagangan yang masih berlangsung di wilayah tersebut hingga kini.
Pengaruh dalam Pembentukan Identitas Regional
Warisan Sriwijaya juga berperan dalam pembentukan identitas regional, terutama di Sumatera Selatan. Nama Sriwijaya digunakan dalam berbagai institusi dan simbol lokal, seperti Universitas Sriwijaya dan Stadion Gelora Sriwijaya, yang mencerminkan kebanggaan masyarakat terhadap sejarah dan warisan kerajaan tersebut.
Secara keseluruhan, warisan dan pengaruh Sriwijaya mencakup berbagai aspek kehidupan yang membentuk sejarah dan budaya Asia Tenggara. Meskipun kerajaan ini telah lama runtuh, jejaknya masih terasa dan menjadi bagian integral dari identitas regional hingga saat ini.
Kesimpulan
Kerajaan Sriwijaya memainkan peran krusial dalam sejarah Asia Tenggara sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha. Warisan budaya dan sejarahnya tetap menjadi bagian penting dari identitas Indonesia dan Asia Tenggara secara keseluruhan.