Ketahanan industri adalah kemampuan suatu industri untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah perubahan lingkungan bisnis yang dinamis dan tidak pasti. Ketahanan industri merupakan salah satu faktor penting yang menentukan daya saing dan kesejahteraan suatu negara.
Konsep Ketahanan Industri
Konsep ketahanan industri berasal dari bidang ekologi, yang mengacu pada kemampuan suatu sistem ekologis untuk mempertahankan fungsi dan strukturnya meskipun mengalami gangguan atau stres. Konsep ini kemudian diterapkan pada berbagai bidang lain, termasuk industri.
Menurut [Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD)], ketahanan industri dapat didefinisikan sebagai “kemampuan suatu industri untuk menyerap gangguan, meminimalkan kerugian, pulih dengan cepat, dan memanfaatkan peluang yang muncul dari perubahan lingkungan” . Ketahanan industri mencakup dua aspek, yaitu:
- Ketahanan statis, yaitu kemampuan suatu industri untuk menyerap gangguan dan meminimalkan kerugian tanpa mengubah struktur dan prosesnya secara signifikan. Contoh ketahanan statis adalah memiliki cadangan modal, sumber daya manusia, bahan baku, atau teknologi yang dapat digunakan saat terjadi krisis.
- Ketahanan dinamis, yaitu kemampuan suatu industri untuk beradaptasi dan berkembang dengan mengubah struktur dan prosesnya sesuai dengan perubahan lingkungan. Contoh ketahanan dinamis adalah melakukan inovasi, diversifikasi produk, atau kolaborasi dengan pihak lain untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Industri
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketahanan industri antara lain:
- Karakteristik industri, seperti ukuran, struktur, komposisi, ketergantungan, dan kompleksitas industri. Industri yang besar, terdiversifikasi, memiliki banyak pelaku, dan rendah ketergantungannya terhadap faktor eksternal cenderung lebih tahan terhadap gangguan daripada industri yang kecil, terkonsentrasi, memiliki sedikit pelaku, dan tinggi ketergantungannya terhadap faktor eksternal.
- Karakteristik gangguan, seperti sumber, jenis, intensitas, durasi, frekuensi, dan prediktabilitas gangguan. Gangguan yang berasal dari luar industri, bersifat negatif, tinggi intensitasnya, lama durasinya, sering frekuensinya, dan sulit diprediksi cenderung lebih merusak daripada gangguan yang berasal dari dalam industri, bersifat positif, rendah intensitasnya, pendek durasinya, jarang frekuensinya, dan mudah diprediksi.
- Karakteristik respon, seperti kecepatan, fleksibilitas, koordinasi, kreativitas, dan efektivitas respon. Respon yang cepat, fleksibel, terkoordinasi, kreatif, dan efektif cenderung lebih meningkatkan ketahanan industri daripada respon yang lambat, kaku, tidak terkoordinasi, tidak kreatif, dan tidak efektif.
Strategi-strategi untuk Meningkatkan Ketahanan Industri
Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan industri antara lain:
- Meningkatkan kapasitas adaptif, yaitu kemampuan suatu industri untuk mengenali perubahan lingkungan dan meresponsnya secara tepat. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan akses informasi, pengetahuan, teknologi, sumber daya manusia, modal sosial, dan kelembagaan yang relevan dengan industri.
- Meningkatkan kapasitas transformatif, yaitu kemampuan suatu industri untuk mengubah struktur dan prosesnya sesuai dengan perubahan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan inovasi, diversifikasi produk, kolaborasi, integrasi, dan keterbukaan terhadap peluang baru yang muncul dari perubahan lingkungan.
- Meningkatkan kapasitas pemulihan, yaitu kemampuan suatu industri untuk memulihkan fungsi dan strukturnya setelah mengalami gangguan. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan cadangan, redundansi, modularitas, dan fleksibilitas dalam industri.
- Meningkatkan kapasitas pencegahan, yaitu kemampuan suatu industri untuk mengurangi risiko dan dampak negatif dari gangguan. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan identifikasi, analisis, mitigasi, dan manajemen risiko dalam industri.