Menu Tutup

Kritik Marketplace Guru: Apa yang Salah dan Apa yang Bisa Dilakukan?

Marketplace guru adalah sebuah platform yang direncanakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk menjadi database talenta guru yang dapat diakses oleh semua sekolah¹. Platform ini bertujuan untuk mengatasi persoalan munculnya guru honorer yang terus terjadi selama bertahun-tahun dan rencananya akan diberlakukan pada 2024 mendatang¹.

Namun, sejak diumumkan oleh Menteri Nadiem Makarim pada rapat dengan Komisi X DPR RI pada 25 Mei 2023, marketplace guru menuai banyak kritikan dari berbagai pihak, terutama dari para guru dan organisasi profesi guru²³⁴. Kritikan tersebut berkisar pada istilah marketplace yang dianggap tidak sesuai dengan martabat guru sebagai profesi yang mulia, serta kekhawatiran akan dampak negatif dari sistem ini terhadap kualitas dan kesejahteraan guru.

Dalam artikel ini, saya akan membahas apa saja kritik yang muncul terhadap marketplace guru, apa yang salah dengan sistem ini, dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.

Kritik Terhadap Marketplace Guru

Beberapa kritik yang muncul terhadap marketplace guru antara lain adalah:

– Marketplace guru terkesan menumpuk target dan mengabaikan persoalan guru honorer yang sudah ada sebelumnya. Ketua Umum Forum Guru Honorer Negeri Lulus Passing Grade Seluruh Indonesia (FGHNLPGSI) Heti Kustrianingsih mengatakan bahwa seharusnya pemerintah menuntaskan dulu masalah P1 (prioritas 1) tahun ini yang menciptakan banyak guru honorer, sebelum memikirkan sistem baru yang belum berjalan². “Temen-temen bilang ini seperti perdagangan manusia. Jual beli guru,” ucapnya².

– Marketplace guru identik dengan barang dagangan dan merendahkan martabat guru. Anggota Komisi X DPR RI Dede Yusuf mengkritik penyebutan marketplace untuk guru karena istilah tersebut biasanya digunakan untuk barang atau jasa yang diperjualbelikan di pasar online³. “Guru itu profesi mulia. Jangan sampai kita menyamakan dengan barang dagangan,” katanya³. Hal senada juga diungkapkan oleh Euis Sunarti, Ketua Umum Persatuan Guru Nasional Indonesia (PGNI), yang mengatakan bahwa niat baik Nadiem malah terkesan merendahkan martabat para tenaga pengajar⁴.

– Marketplace guru berpotensi menimbulkan persaingan tidak sehat dan diskriminasi antar guru. Dudung Abdul Qodir, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), mengatakan bahwa marketplace guru justru akan membahayakan para guru, terutama yang berada di wilayah blank spot atau daerah terpencil yang kurang mendapat perhatian dan pemikiran dari semua pihak⁵. “Kalau belum dikuatkan terlebih dahulu mulai dari sistem, SDM, kemudian transformasi strukturalnya, ini akan berbahaya bagi para guru,” ungkapnya⁵. Dia juga menambahkan bahwa sistem ini bisa menimbulkan persaingan tidak sehat antar guru dan diskriminasi terhadap guru-guru tertentu⁵.

Apa yang Salah dengan Marketplace Guru?

Dari kritik-kritik di atas, dapat dilihat bahwa ada beberapa hal yang salah dengan marketplace guru, yaitu:

– Istilah marketplace tidak tepat digunakan untuk menyebut platform database talenta guru. Istilah ini memang populer di dunia bisnis online, tetapi tidak cocok untuk profesi yang berkaitan dengan pendidikan dan pembentukan karakter. Istilah ini juga bisa menimbulkan kesan bahwa guru adalah barang atau jasa yang bisa dibeli atau disewa oleh sekolah sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.

– Sistem marketplace tidak mempertimbangkan kondisi riil dan kebutuhan para guru di Indonesia. Sistem ini tampaknya hanya berfokus pada aspek teknologi dan inovasi, tanpa memperhatikan aspek lain seperti tata kelola, sumber daya manusia, struktur, kualitas, kesejahteraan, penghargaan, perlindungan, dan pembinaan karier para guru. Sistem ini juga tidak mempertimbangkan perbedaan kondisi geografis, sosial, ekonomi, budaya, dan infrastruktur antar daerah di Indonesia.

– Sistem marketplace bisa menimbulkan dampak negatif bagi para guru dan pendidikan di Indonesia. Sistem ini bisa menurunkan motivasi dan komitmen para guru dalam mengajar karena mereka merasa tidak dihargai dan tidak aman dengan status mereka. Sistem ini juga bisa menurunkan kualitas pendidikan karena sekolah bisa memilih guru-guru berdasarkan harga atau popularitas mereka, bukan berdasarkan kompetensi atau kecocokan mereka dengan kurikulum atau visi sekolah. Sistem ini juga bisa meningkatkan kesenjangan antar daerah karena sekolah-sekolah di daerah maju bisa lebih mudah mendapatkan guru-guru berkualitas daripada sekolah-sekolah di daerah tertinggal.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Memperbaiki Marketplace Guru?

Untuk memperbaiki marketplace guru agar bisa menjadi sistem yang lebih baik dan bermanfaat bagi para guru dan pendidikan di Indonesia, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:

– Mengganti istilah marketplace dengan istilah lain yang lebih sesuai dengan profesi guru. Misalnya, database talenta guru, direktori profesional guru, atau platform pengembangan karier guru. Istilah-istilah ini lebih menunjukkan bahwa tujuan dari sistem ini adalah untuk memberikan informasi tentang potensi dan kemampuan para guru kepada sekolah-sekolah yang membutuhkannya.

– Melakukan transformasi tata kelola guru terlebih dahulu sebelum menerapkan sistem baru. Transformasi ini meliputi penyiapan perguruan tinggi berkelas dunia yang bisa menghasilkan calon-calon guru unggul dan berkarakter; peningkatan penggajian dan kesejahteraan guru; penyederhanaan seleksi dan pengangkatan guru; peningkatan pembinaan pengembangan karier guru; serta pemberian penghargaan dan perlindungan bagi para guru.

– Menyesuaikan sistem dengan kondisi

Sumber:
(1) Nadiem Makarim Ganti Marketplace Guru Jadi Database Talenta Guru. https://www.sewaktu.com/news/1538945491/nadiem-makarim-ganti-marketplace-guru-jadi-database-talenta-guru.
(2) Marketplace Guru Panen Kritikan, tapi Ada Keuntungan Dijamin Happy. https://www.ayobandung.com/umum/798966699/marketplace-guru-panen-kritikan-tapi-ada-keuntungan-dijamin-happy.
(3) Kritik Penyebutan ‘Marketplace Guru’, Dede Yusuf: Itu Istilah untuk Barang. https://www.msn.com/id-id/berita/other/kritik-penyebutan-marketplace-guru-dede-yusuf-itu-istilah-untuk-barang/ar-AA1bCUu2.
(4) Guru Geram Nadiem Malah Promosikan Guru Seperti Barang Dagangan. https://www.msn.com/id-id/berita/nasional/guru-geram-nadiem-malah-promosikan-guru-seperti-barang-dagangan/ar-AA1bPwsD.
(5) Kritik Marketplace Guru Berlanjut | Republika ID. https://www.republika.id/posts/41359/kritik-marketplace-guru-berlanjut.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya