Wawancara adalah salah satu tahap penting dalam proses seleksi pekerjaan, beasiswa, atau kegiatan lainnya. Wawancara bertujuan untuk mengenal lebih jauh calon kandidat, menilai kompetensi dan keterampilan mereka, serta mengetahui motivasi dan minat mereka. Namun, tidak semua wawancara berjalan dengan lancar. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan wawancara tidak berhasil atau gagal. Berikut ini adalah beberapa faktor penyebabnya:
1. Kurang persiapan
Persiapan adalah kunci utama untuk menghadapi wawancara. Persiapan meliputi hal-hal seperti: mempelajari profil perusahaan atau lembaga yang akan mewawancarai, menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, memperhatikan penampilan dan etika berpakaian, serta berlatih menjawab pertanyaan-pertanyaan umum yang sering ditanyakan dalam wawancara. Jika calon kandidat kurang persiapan, maka ia akan kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, tidak dapat menunjukkan kelebihan dan keunggulan dirinya, serta tidak dapat memberikan kesan positif kepada pewawancara.
2. Tidak percaya diri
Percaya diri adalah sikap yang penting untuk ditunjukkan dalam wawancara. Percaya diri menunjukkan bahwa calon kandidat memiliki kemampuan dan potensi untuk mengisi posisi atau mendapatkan kesempatan yang ditawarkan. Percaya diri juga dapat meningkatkan kredibilitas dan profesionalisme calon kandidat. Sebaliknya, jika calon kandidat tidak percaya diri, maka ia akan terlihat gugup, ragu-ragu, atau bahkan takut dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hal ini dapat menimbulkan kesan negatif bagi pewawancara, seperti kurang kompeten, kurang siap, atau kurang serius.
3. Tidak fokus
Fokus adalah kemampuan untuk memusatkan perhatian dan pikiran pada satu hal atau topik tertentu. Fokus sangat dibutuhkan dalam wawancara, karena calon kandidat harus dapat mendengarkan dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara, serta memberikan jawaban yang relevan dan tepat. Jika calon kandidat tidak fokus, maka ia akan mudah terganggu oleh hal-hal lain yang ada di sekitarnya, seperti suara bising, ponsel berdering, atau orang-orang yang lewat. Hal ini dapat mengurangi konsentrasi dan kualitas jawaban calon kandidat, serta menunjukkan kurangnya minat dan respek kepada pewawancara.
4. Tidak jujur
Jujur adalah sifat yang sangat dihargai dalam wawancara. Jujur berarti memberikan informasi atau jawaban yang sesuai dengan fakta dan kebenaran, tanpa ada niat untuk menipu atau menyembunyikan sesuatu. Jika calon kandidat jujur, maka ia akan dapat membangun kepercayaan dan integritas dengan pewawancara, serta menunjukkan sikap bertanggung jawab dan etis. Sebaliknya, jika calon kandidat tidak jujur, maka ia akan berisiko untuk terbongkar kebohongannya oleh pewawancara, baik melalui pengecekan dokumen, referensi, atau sumber lainnya. Hal ini dapat merusak reputasi dan citra calon kandidat, serta menghilangkan kesempatan untuk lolos dari wawancara.
5. Tidak sopan
Sopan adalah perilaku yang menghormati dan menghargai orang lain, terutama dalam situasi formal seperti wawancara. Sopan meliputi hal-hal seperti: menggunakan bahasa yang sopan dan santun, memberi salam dan perkenalan yang baik, menjaga kontak mata dan bahasa tubuh yang positif, serta mengucapkan terima kasih dan pamit yang sopan. Jika calon kandidat sopan, maka ia akan dapat memberikan kesan yang baik dan ramah kepada pewawancara, serta menunjukkan sikap yang beradab dan berbudaya. Sebaliknya, jika calon kandidat tidak sopan, maka ia akan terlihat kasar, sombong, atau tidak menghormati pewawancara. Hal ini dapat menimbulkan kesan yang buruk dan tidak menyenangkan bagi pewawancara, serta menurunkan nilai dan kualitas calon kandidat.