Ketimpangan adalah suatu keadaan yang menunjukkan adanya perbedaan atau kesenjangan antara individu, kelompok, atau wilayah dalam hal akses dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia. Ketimpangan dapat terjadi dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan sebagainya. Ketimpangan dapat berdampak negatif bagi kesejahteraan, keadilan, stabilitas, dan pertumbuhan masyarakat.
Untuk mengukur dan menganalisis ketimpangan, kita perlu memahami dimensi-dimensi yang terkait dengan fenomena ini. Dimensi ketimpangan adalah aspek-aspek yang dapat dijadikan sebagai indikator atau variabel untuk menilai tingkat dan bentuk ketimpangan yang terjadi. Berdasarkan berbagai sumber1234, dimensi ketimpangan dapat dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu:
Dimensi Konsumsi
Dimensi konsumsi berkaitan dengan perbedaan kesempatan atau kemampuan individu atau kelompok untuk memenuhi kebutuhan dasar dan tambahan mereka. Kebutuhan dasar meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Kebutuhan tambahan meliputi rekreasi, hiburan, transportasi, komunikasi, dan sebagainya. Individu atau kelompok yang memiliki akses dan pemanfaatan sumber daya yang lebih baik akan cenderung memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi daripada yang lain.
Salah satu cara untuk mengukur dimensi konsumsi adalah dengan menggunakan pendekatan pengeluaran atau pendapatan. Pengeluaran adalah jumlah uang yang dikeluarkan oleh individu atau kelompok untuk membeli barang dan jasa yang dibutuhkan atau diinginkan. Pendapatan adalah jumlah uang yang diperoleh oleh individu atau kelompok dari berbagai sumber, seperti gaji, upah, bunga, sewa, laba, dan sebagainya. Pengeluaran dan pendapatan dapat digunakan sebagai proxy atau proksi untuk mengetahui tingkat konsumsi individu atau kelompok.
Salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengukur ketimpangan konsumsi adalah rasio gini. Rasio gini adalah suatu angka antara 0 dan 1 yang menunjukkan tingkat ketimpangan distribusi pengeluaran atau pendapatan dalam suatu populasi. Semakin mendekati 0, berarti semakin merata distribusinya. Semakin mendekati 1, berarti semakin timpang distribusinya.
Dimensi Partisipasi
Dimensi partisipasi berkaitan dengan perbedaan kesempatan atau kemampuan individu atau kelompok untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka. Partisipasi dapat dilakukan dalam berbagai bidang, seperti politik, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan sebagainya. Individu atau kelompok yang memiliki akses dan pemanfaatan sumber daya yang lebih baik akan cenderung memiliki tingkat partisipasi yang lebih tinggi daripada yang lain.
Salah satu cara untuk mengukur dimensi partisipasi adalah dengan menggunakan pendekatan hak asasi manusia (HAM) atau human rights. Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang melekat pada setiap manusia tanpa memandang ras, etnis, agama, gender, usia, status sosial, dan sebagainya. Hak asasi manusia meliputi hak sipil dan politik (misalnya hak berpendapat, berserikat, memilih dan dipilih), hak ekonomi, sosial, dan budaya (misalnya hak atas pekerjaan layak, pendidikan berkualitas, kesehatan prima), hak solidaritas (misalnya hak atas perdamaian, lingkungan hidup bersih), dan sebagainya. Individu atau kelompok yang dapat menikmati hak asasi manusia secara penuh akan cenderung memiliki tingkat partisipasi yang lebih tinggi daripada yang lain.
Salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengukur ketimpangan partisipasi adalah indeks demokrasi. Indeks demokrasi adalah suatu angka antara 0 dan 10 yang menunjukkan tingkat demokrasi dalam suatu negara. Demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan yang berdasarkan prinsip-prinsip kedaulatan rakyat, kebebasan, kesetaraan, keadilan, dan hak asasi manusia. Indeks demokrasi dihitung berdasarkan lima kriteria, yaitu proses pemilihan, fungsi pemerintah, partisipasi politik, budaya politik, dan kebebasan sipil. Semakin mendekati 0, berarti semakin tidak demokratis. Semakin mendekati 10, berarti semakin demokratis.
Dimensi Aksesibilitas
Dimensi aksesibilitas berkaitan dengan perbedaan kesempatan atau kemampuan individu atau kelompok untuk mengakses dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sumber daya dapat berupa barang, jasa, informasi, teknologi, infrastruktur, dan sebagainya. Individu atau kelompok yang memiliki akses dan pemanfaatan sumber daya yang lebih baik akan cenderung memiliki tingkat aksesibilitas yang lebih tinggi daripada yang lain.
Salah satu cara untuk mengukur dimensi aksesibilitas adalah dengan menggunakan pendekatan inklusi atau exclusion. Inklusi adalah suatu kondisi di mana individu atau kelompok dapat mengakses dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara adil dan merata. Exclusion adalah suatu kondisi di mana individu atau kelompok tidak dapat mengakses dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia karena adanya hambatan atau diskriminasi. Hambatan atau diskriminasi dapat bersifat struktural (misalnya aturan, kebijakan, norma), institusional (misalnya lembaga, organisasi, birokrasi), atau interpersonal (misalnya perilaku, sikap, stereotip).
Salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengukur ketimpangan aksesibilitas adalah indeks pembangunan manusia (IPM) atau human development index (HDI). Indeks pembangunan manusia adalah suatu angka antara 0 dan 1 yang menunjukkan tingkat pembangunan manusia dalam suatu negara. Pembangunan manusia adalah suatu proses yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara holistik dan berkelanjutan. Indeks pembangunan manusia dihitung berdasarkan tiga dimensi, yaitu harapan hidup sehat, pendidikan yang layak, dan standar hidup yang layak. Semakin mendekati 0, berarti semakin rendah pembangunan manusianya. Semakin mendekati 1, berarti semakin tinggi pembangunan manusianya.
Sumber:
(1) Masalah Ketimpangan Sosial di Masyarakat – Zenius Education. https://www.zenius.net/blog/ketimpangan-sosial.
(2) Analisis Dimensi Ketimpangan Ekonomi di Indonesia. https://kumparan.com/sri-harjanto-adi-pamungkas/analisis-dimensi-ketimpangan-ekonomi-di-indonesia-1yEVHJBp2or.
(3) Teori Ketimpangan Sosial Klasik & Modern | Sosiologi Kelas 12. https://www.ruangguru.com/blog/teori-ketimpangan-sosial.
(4) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. https://siat.ung.ac.id/files/wisuda/2017-1-1-60201-912413010-bab1-15072017044157.pdf.