Lampung adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi perkebunan yang besar. Berbagai komoditas perkebunan unggulan, seperti kopi, lada, kakao, karet, kelapa sawit, dan tebu, menjadi sumber pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Lampung. Namun, potensi perkebunan ini juga menghadapi berbagai tantangan dan hambatan, baik dari segi produksi, pengolahan, pemasaran, maupun regulasi. Oleh karena itu, diperlukan sinergi dan konsolidasi dari semua pihak, termasuk pemerintah, swasta, akademisi, dan petani, untuk mengembangkan sektor perkebunan di Lampung secara berkelanjutan.
Produksi Perkebunan di Lampung
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung1, produksi perkebunan di Lampung pada tahun 2020 mencapai 126 persen dari target yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perkebunan di Lampung tidak terlalu terdampak oleh pandemi Covid-19. Komoditas perkebunan yang mencatatkan produksi tertinggi adalah tebu, dengan realisasi 263,84 persen dari target. Selain itu, komoditas lain yang juga melampaui target adalah kopi (125,48 persen), karet (129,91 persen), kakao (114 persen), dan kelapa sawit (102,91 persen). Sementara itu, komoditas yang masih di bawah target adalah lada (97,06 persen).
Komoditas perkebunan yang menjadi andalan Lampung adalah kopi robusta. Lampung merupakan produsen kopi terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 30 persen dari total produksi nasional2. Kopi Lampung memiliki cita rasa yang khas dan diminati oleh pasar domestik maupun internasional. Pada tahun 2020, produksi kopi Lampung mencapai 118.127 ton dari target 94.139 ton1. Selain kopi robusta, Lampung juga mengembangkan kopi arabika di beberapa daerah seperti Tanggamus dan Pesisir Barat.
Lada hitam juga merupakan komoditas perkebunan unggulan Lampung yang memiliki nilai ekspor tinggi. Lada hitam Lampung dikenal sebagai salah satu lada terbaik di dunia karena memiliki kadar minyak atsiri yang tinggi2. Pada tahun 2020, produksi lada hitam Lampung mencapai 9.706 ton dari target 10.000 ton1. Meskipun mengalami penurunan produksi akibat serangan hama dan penyakit serta perubahan iklim, lada hitam Lampung tetap diminati oleh pasar internasional seperti India, China, Amerika Serikat, dan Eropa.
Kakao juga merupakan komoditas perkebunan yang cukup potensial di Lampung. Kakao Lampung memiliki kualitas biji yang baik dan cocok untuk diolah menjadi cokelat. Pada tahun 2020, produksi kakao Lampung mencapai 11.400 ton dari target 10.000 ton1. Kakao Lampung banyak diekspor ke negara-negara seperti Malaysia, Singapura, China, dan Jepang.
Karet merupakan komoditas perkebunan yang memiliki peran penting dalam perekonomian Lampung. Karet merupakan bahan baku industri ban, sarung tangan medis, dan produk karet lainnya. Pada tahun 2020, produksi karet Lampung mencapai 129.910 ton dari target 100.000 ton1. Karet Lampung banyak diekspor ke negara-negara seperti China, Amerika Serikat, Jerman, dan Korea Selatan.
Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan yang cukup kontroversial di Lampung. Di satu sisi, kelapa sawit memberikan kontribusi besar bagi pendapatan daerah dan lapangan kerja. Di sisi lain, kelapa sawit juga menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat adat. Pada tahun 2020, produksi kelapa sawit Lampung mencapai 1.029.100 ton dari target 1.000.000 ton1. Kelapa sawit Lampung banyak diekspor ke negara-negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, dan Uni Eropa.
Tebu merupakan komoditas perkebunan yang mengalami peningkatan produksi yang signifikan di Lampung. Hal ini disebabkan oleh adanya program revitalisasi pabrik gula dan pengembangan lahan tebu oleh pemerintah. Pada tahun 2020, produksi tebu Lampung mencapai 2.638.400 ton dari target 1.000.000 ton1. Tebu Lampung digunakan untuk memenuhi kebutuhan gula nasional dan juga diekspor ke negara-negara seperti China, Thailand, dan Filipina.
Tantangan dan Hambatan Perkebunan di Lampung
Meskipun memiliki potensi yang besar, sektor perkebunan di Lampung juga menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang harus diatasi. Beberapa tantangan dan hambatan tersebut antara lain adalah:
- Keterbatasan lahan. Lahan perkebunan di Lampung semakin terbatas akibat alih fungsi lahan, konversi lahan, dan konflik lahan. Hal ini menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas tanaman perkebunan. Selain itu, lahan perkebunan juga mengalami degradasi akibat erosi, pencemaran, dan perubahan iklim.
- Rendahnya teknologi dan inovasi. Teknologi dan inovasi yang digunakan oleh petani perkebunan di Lampung masih rendah. Hal ini berdampak pada rendahnya efisiensi, efektivitas, dan daya saing produk perkebunan. Selain itu, teknologi dan inovasi yang ada juga belum merata dan belum sesuai dengan kebutuhan petani.
- Kurangnya modal dan akses pembiayaan. Modal dan akses pembiayaan merupakan faktor penting dalam pengembangan sektor perkebunan. Namun, banyak petani perkebunan di Lampung yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan modal dan akses pembiayaan yang mudah, murah, dan cepat. Hal ini menyebabkan petani perkebunan tidak mampu meningkatkan kapasitas produksi dan pengolahan produk perkebunan.
- Lemahnya rantai nilai dan pemasaran. Rantai nilai dan pemasaran produk perkebunan di Lampung masih lemah dan tidak terintegrasi. Hal ini menyebabkan produk perkebunan tidak memiliki nilai tambah yang tinggi dan tidak mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional. Selain itu, produk perkebunan juga menghadapi masalah kualitas, standar, sertifikasi, dan traceability yang menjadi syarat dalam perdagangan global.
- Kurangnya dukungan kebijakan dan regulasi. Kebijakan dan regulasi yang berkaitan dengan sektor perkebunan di Lampung masih kurang mendukung pengembangan potensi perkebunan secara optimal. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian, ketidakkonsistenan, ketidakharmonisan, dan ketidaksinkronan antara kebijakan dan regulasi pusat dan daerah. Selain itu, kebijakan dan regulasi yang ada juga belum responsif terhadap dinamika pasar dan kepentingan petani.
Strategi Pengembangan Perkebunan di Lampung
Untuk mengatasi tantangan dan hambatan yang ada, diperlukan strategi pengembangan sektor perkebunan di Lampung secara berkelanjutan. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain adalah:
- Melakukan optimalisasi lahan dengan menerapkan sistem pertanian berkelanjutan, melakukan rehabilitasi lahan kritis, menyelesaikan konflik lahan, dan melindungi lahan pertanian dari alih fungsi lahan.
- Meningkatkan teknologi dan inovasi dengan melakukan penelitian dan pengembangan tanaman perkebunan, menyediakan sarana dan prasarana pertanian yang memadai, memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada petani, serta meningkatkan kerjasama antara pemerintah, swasta, akademisi, dan petani.
- Memperluas modal dan akses pembiayaan dengan memberikan insentif fiskal dan non-fiskal kepada pelaku usaha perkebunan, menyediakan skema pembiayaan yang mudah, murah, dan cepat, serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan bagi petani.
- Meningkatkan rantai nilai dan pemasaran dengan melakukan diversifikasi produk perkebunan, meningkatkan kualitas, standar, sertifikasi, dan traceability produk perkebunan, membangun jejaring pemasaran yang luas dan efisien, serta meningkatkan akses pasar domestik maupun internasional.
- Meningkatkan dukungan kebijakan dan regulasi dengan melakukan harmonisasi, sinkronisasi, konsolidasi, dan evaluasi kebijakan dan regulasi yang berkaitan dengan sektor perkebunan, serta meningkatkan partisipasi dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta antara pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Kesimpulan
Sektor perkebunan di Lampung memiliki potensi yang besar untuk menjadi sumber pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Lampung. Namun, sektor perkebunan ini juga menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang harus diatasi dengan strategi pengembangan yang berkelanjutan. Dengan demikian, sektor perkebunan di Lampung dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah maupun nasional.
Sumber:
(1) Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. https://lampung.bps.go.id/subject/54/perkebunan.html.
(2) Gubernur Lampung Soroti Potensi Pertanian dan Perkebunan sebagai … – VOI. https://voi.id/berita/299337/gubernur-lampung-soroti-potensi-pertanian-dan-perkebunan-sebagai-pendukung-ketahanan-pangan-dan-ekonomi-nasional.
(3) Cara Disbun Lampung Maksimalkan Potensi Komoditas Perkebunan. https://lampung.tribunnews.com/2021/05/24/cara-disbun-lampung-maksimalkan-potensi-komoditas-perkebunan.