Indonesia adalah negara yang kaya akan sejarah dan budaya. Banyak peristiwa penting yang terjadi di tanah air kita ini, baik yang bersifat nasional maupun lokal. Untuk mengenang dan melestarikan peristiwa-peristiwa tersebut, banyak dibangun monumen-monumen yang menjadi saksi bisu sekaligus simbol kebanggaan bangsa. Monumen-monumen ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, dan memiliki desain serta makna yang berbeda-beda. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa monumen di Indonesia yang paling populer dan menarik untuk dikunjungi.
– Monumen Nasional (Monas), Jakarta
Monas adalah salah satu monumen di Indonesia yang paling terkenal dan menjadi ikon ibu kota negara. Monas dibangun untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945. Monas mulai dibangun pada 17 Agustus 1961 atas prakarsa Presiden Soekarno, dan dirancang oleh Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono. Monas diresmikan dan dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975 oleh Presiden Soeharto.
Monas memiliki bentuk menyerupai obelisk dengan tinggi 132 meter. Di puncaknya terdapat lidah api yang dilapisi emas seberat 35 kg, yang melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia. Di dalam Monas terdapat museum sejarah nasional yang menampilkan berbagai koleksi dan diorama tentang perjalanan bangsa Indonesia dari masa pra-sejarah hingga masa kemerdekaan. Di bawah museum terdapat ruang peringatan yang menyimpan piagam proklamasi kemerdekaan dan patung Soekarno-Hatta. Di lantai atas museum terdapat dek observasi yang bisa memberikan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
– Monumen Jogja Kembali (Monjali), Yogyakarta
Monjali adalah monumen di Indonesia yang didirikan untuk mengenang peristiwa sejarah ditariknya tentara Belanda dari Yogyakarta pada 29 Juni 1949, yang menjadi penanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari kekuasaan kolonial Belanda. Monjali dibangun pada 29 Juni 1985 dengan pelaksanaan upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Peletakkan batu pertama dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Ide pembangunan monumen ini berasal dari Kolonel Soegiarto, selaku Walikotamadya Yogyakarta pada tahun 1983.
Monjali memiliki bentuk menyerupai gunung berapi dengan tinggi 25 meter. Di puncaknya terdapat patung Garuda Pancasila dengan sayap terbuka lebar, yang melambangkan cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka dan berdaulat. Di dalam Monjali terdapat museum sejarah nasional yang menampilkan berbagai koleksi dan diorama tentang perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan Belanda, khususnya di Yogyakarta sebagai ibu kota negara saat itu. Di lantai bawah museum terdapat ruang serba guna yang digunakan untuk berbagai kegiatan seni dan budaya.
– Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya)
Monumen Jalesveva Jayamahe adalah monumen di Indonesia yang menggambarkan generasi penerus bangsa yang yakin dan optimis untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia di bidang maritim. Nama Jalesveva Jayamahe sesuai dengan motto angkatan laut yang berarti Di Laut Kita Berjaya. Monumen ini dibangun oleh Pimpinan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Maritim Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan Laksamana TNI Muhammad Arifin serta dirancang oleh I Nyoman Nuarta pada 1993.
Monumen Jalesveva Jayamahe memiliki bentuk menyerupai patung seorang prajurit angkatan laut yang sedang berdiri tegak di atas kapal perang. Patung ini memiliki tinggi 30,6 meter dan berat 60 ton, yang menjadikannya sebagai patung perunggu terbesar di Indonesia. Patung ini juga dilengkapi dengan sistem hidrolik yang bisa menggerakkan tangannya untuk memberi hormat. Di bawah patung terdapat museum angkatan laut yang menampilkan berbagai koleksi dan informasi tentang sejarah dan perkembangan angkatan laut Indonesia.
– Monumen Panca Benua (Ground Zero), Bali
Monumen Panca Benua atau Ground Zero adalah monumen di Indonesia yang dibangun untuk mengenang peristiwa memilukan yang terjadi pada tahun 2002, yaitu pengeboman Bom Bali 1 & 2 yang menewaskan 202 orang dari berbagai negara. Peristiwa ini terjadi pada 12 Oktober 2002 di beberapa tempat di kawasan Legian, Kuta, antara lain Paddy’s Pub, Sari Club, dan dekat Kantor Konsulat AS. Monumen ini berdiri di lokasi bekas Sari Club yang hancur akibat ledakan bom.
Monumen Panca Benua memiliki bentuk menyerupai gapura Bali dengan ukiran-ukiran khas. Di bagian atas gapura terdapat lima lambang benua yang melambangkan asal korban yang meninggal. Di bagian bawah gapura terdapat papan nama yang mencantumkan 202 nama korban beserta negara asalnya. Di sekitar monumen terdapat taman yang ditanami pepohonan hijau dan bunga warna-warni yang menghias sekitar monumen. Setiap tahunnya pada tanggal 12 Oktober, monumen ini ramai dikunjungi oleh kerabat korban dan masyarakat sekitar untuk mengenang peristiwa berdarah itu.
– Monumen Kretek Indonesia (Kudus)
Monumen Kretek Indonesia adalah monumen di Indonesia yang dibangun untuk mengukuhkan Kudus sebagai Kota Kretek atau kota asal dari rokok kretek, yaitu rokok yang dicampur dengan cengkeh. Monumen ini dibangun oleh salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, yaitu PT Djarum, sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada para perintis industri rokok kretek di Kudus. Pembangunan monumen ini dimulai pada awal tahun 2013 hingga tahun 2015.
Monumen Kretek Indonesia memiliki bentuk menyerupai gerbang dengan dua tiang besar yang dihiasi dengan ukiran-ukiran khas Kudus. Di atas gerbang terdapat tulisan “Gerbang Kudus Kota Kretek” dengan huruf Arab dan Latin. Di bawah gerbang terdapat patung-patung tokoh-tokoh penting dalam sejarah rokok kretek di Kudus, antara lain Nitisemito, Jamhari, dan Bapak Suhadi. Di sekitar monumen terdapat taman yang ditanami dengan tanaman cengkeh dan tembakau sebagai bahan baku rokok kretek.
beberapa monumen di Indonesia lainnya, seperti:
– Monumen Yesus Memberkati (Manado)
– Monumen Pancasila Tenggarong (Kutai Kartanegara)
– Monumen Palagan Ambarawa (Semarang)
– Monumen Pers Nasional (Surakarta)
– Monumen Ampera (Palembang)