Menu Tutup

Oogenesis: Proses, Tahap, Ciri, dan Tempat Pembentukan Sel Telur Perempuan

Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur atau ovum di dalam ovarium atau indung telur perempuan. Sel telur merupakan sel kelamin perempuan yang berperan dalam reproduksi seksual. Proses oogenesis berbeda dengan spermatogenesis, yaitu proses pembentukan sel sperma atau sel kelamin laki-laki.

Perbedaan utama antara oogenesis dan spermatogenesis adalah jumlah dan ukuran sel hasil pembelahan. Oogenesis menghasilkan satu sel fungsional dan tiga badan kutub yang tidak fungsional, sedangkan spermatogenesis menghasilkan empat sel fungsional yang sama besar. Selain itu, ukuran sel telur lebih besar dari sel sperma karena mengandung lebih banyak sitoplasma dan nutrisi.

Oogenesis dipengaruhi oleh hormon-hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis dan ovarium. Hormon-hormon tersebut adalah:

  • Follicle Stimulating Hormone (FSH): hormon yang merangsang pertumbuhan folikel atau kantung yang mengandung oosit primer di dalam ovarium.
  • Luteinizing Hormone (LH): hormon yang merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel yang pecah (ovulasi) dan pembentukan korpus luteum atau jaringan sementara yang menghasilkan progesteron.
  • Estrogen: hormon yang dihasilkan oleh folikel dan korpus luteum yang berfungsi untuk mempersiapkan dinding rahim (endometrium) untuk menerima implantasi ovum yang telah dibuahi.
  • Progesteron: hormon yang dihasilkan oleh korpus luteum yang berfungsi untuk mempertahankan kehamilan jika terjadi pembuahan.

Hasil akhir dari oogenesis adalah ovum yang siap dibuahi oleh sel sperma. Ovum merupakan sel haploid, yaitu memiliki setengah jumlah kromosom dari sel diploid induknya. Jika ovum berhasil dibuahi oleh sel sperma, maka akan terbentuk zigot, yaitu sel diploid pertama dari individu baru.

Tahap-Tahap Oogenesis

Oogenesis terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

  • Mitosis: tahap ini terjadi sejak bayi perempuan masih berupa janin di dalam kandungan. Pada tahap ini, oogonium, yaitu sel induk dari sel telur, melakukan pembelahan mitosis secara berulang-ulang untuk menghasilkan oosit primer, yaitu sel diploid yang memiliki 46 kromosom. Jumlah oosit primer mencapai sekitar 2 juta pada saat bayi perempuan lahir, tetapi hanya sekitar 400 ribu yang tersisa pada saat mencapai usia pubertas.
  • Meiosis I: tahap ini dimulai ketika perempuan mencapai usia pubertas dan berlangsung hingga menopause. Pada tahap ini, oosit primer tumbuh menjadi lebih besar dan memasuki fase profase I dari meiosis. Pada fase ini, terjadi crossing over atau pertukaran materi genetik antara kromosom homolog. Kemudian, dipicu oleh lonjakan hormon LH, oosit primer melanjutkan meiosis I dan memasuki fase metafase I, anafase I, dan telofase I. Hasil dari meiosis I adalah oosit sekunder, yaitu sel haploid yang memiliki 23 kromosom, dan badan kutub primer, yaitu sel haploid yang tidak fungsional. Oosit sekunder mendapatkan sebagian besar sitoplasma dan organel dari oosit primer, sedangkan badan kutub primer mendapatkan sedikit atau tidak sama sekali. Oosit sekunder kemudian dilepaskan dari ovarium (ovulasi) dan masuk ke saluran tuba falopi.
  • Meiosis II: tahap ini terjadi jika oosit sekunder berhasil dibuahi oleh sel sperma. Pada tahap ini, oosit sekunder melanjutkan meiosis II dan memasuki fase metafase II, anafase II, dan telofase II. Hasil dari meiosis II adalah ovum, yaitu sel haploid yang siap menjadi bagian dari zigot jika terjadi pembuahan, dan badan kutub sekunder, yaitu sel haploid yang tidak fungsional. Ovum mendapatkan sebagian besar sitoplasma dan organel dari oosit sekunder, sedangkan badan kutub sekunder mendapatkan sedikit atau tidak sama sekali. Jika ovum tidak dibuahi dalam waktu 24 jam, maka akan mati dan dikeluarkan bersama dengan darah menstruasi.

Ciri-Ciri Oogenesis

Oogenesis memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu:

  • Menghasilkan satu sel fungsional dan tiga badan kutub yang tidak fungsional. Hal ini disebabkan oleh pembelahan meiosis yang asimetris, yaitu pembelahan yang menghasilkan sel-sel yang berbeda ukuran dan jumlah sitoplasma.
  • Meiosis terjadi secara asimetris, sehingga sel hasil pembelahan berbeda ukuran. Hal ini bertujuan untuk menghemat energi dan nutrisi yang dibutuhkan untuk proses reproduksi.
  • Proses pembentukan terjadi hanya sekali dalam sebulan. Hal ini disesuaikan dengan siklus menstruasi perempuan, yaitu siklus perubahan hormon dan fisiologis yang terjadi dalam kurun waktu sekitar 28 hari.
  • Ukuran sel lebih besar dari sel sperma. Hal ini karena sel telur mengandung lebih banyak sitoplasma dan nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan embrio jika terjadi pembuahan.

Tempat Terjadinya Oogenesis

Oogenesis terjadi di dalam ovarium atau indung telur perempuan. Ovarium merupakan organ berbentuk oval yang terletak di kedua sisi rahim. Ovarium memiliki dua fungsi utama, yaitu menghasilkan sel telur dan hormon seksual. Ovarium terdiri dari tiga lapisan, yaitu:

  • Tunika albuginea: lapisan terluar yang tersusun dari jaringan ikat padat.
  • Korteks: lapisan tengah yang mengandung folikel atau kantung yang berisi oosit primer.
  • Medula: lapisan dalam yang mengandung pembuluh darah, saraf, dan jaringan ikat longgar.

Kesimpulan

Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur di dalam ovarium perempuan. Oogenesis berbeda dengan spermatogenesis dalam hal jumlah dan ukuran sel hasil pembelahan. Oogenesis dipengaruhi oleh hormon-hormon seperti FSH, LH, estrogen, dan progesteron. Oogenesis terdiri dari beberapa tahap, yaitu mitosis, meiosis I, dan meiosis II. Oogenesis memiliki beberapa ciri-ciri, seperti menghasilkan satu sel fungsional dan tiga badan kutub yang tidak fungsional, meiosis terjadi secara asimetris, proses pembentukan terjadi hanya sekali dalam sebulan, dan ukuran sel lebih besar dari sel sperma. Oogenesis terjadi di dalam ovarium yang memiliki tiga lapisan, yaitu tunika albuginea, korteks, dan medula.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya