Partai Indonesia Raya (Parindra) adalah salah satu partai politik yang berperan dalam pergerakan nasional Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Partai ini didirikan pada tahun 1935 sebagai hasil penggabungan beberapa organisasi politik yang menganut asas kooperatif dengan pemerintah kolonial. Partai ini memiliki tujuan untuk mewujudkan Indonesia Mulia dan Sempurna, yaitu suatu bentuk otonomi yang lebih luas dan adil bagi bangsa Indonesia. Partai ini juga melakukan berbagai kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesadaran nasional rakyat Indonesia.
Sejarah Pendirian Parindra
Parindra didirikan pada kongres bersama antara organisasi-organisasi politik yang diadakan pada tanggal 24-26 Desember 1935 di Solo, Jawa Tengah1. Organisasi-organisasi yang terlibat dalam penggabungan ini antara lain adalah:
- Budi Utomo, organisasi pergerakan pertama yang didirikan oleh para priyayi Jawa pada tahun 19082.
- Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), klub studi yang didirikan oleh dr. Soetomo pada tahun 1930 di Surabaya, Jawa Timur3.
- Serikat Betawi, organisasi pergerakan yang mewakili kepentingan masyarakat Betawi4.
- Serikat Ambon, organisasi pergerakan yang mewakili kepentingan masyarakat Ambon4.
- Serikat Minahasa, organisasi pergerakan yang mewakili kepentingan masyarakat Minahasa4.
- Serikat Sumatera, organisasi pergerakan yang mewakili kepentingan masyarakat Sumatera4.
- Serikat Sulawesi, organisasi pergerakan yang mewakili kepentingan masyarakat Sulawesi4.
- Sumatranen Bond, organisasi pergerakan yang didirikan oleh para intelektual Sumatera pada tahun 1917.
Pendirian Parindra diprakarsai oleh dr. Soetomo, salah seorang pendiri Budi Utomo dan PBI, yang berkeinginan untuk mengakhiri fase kedaerahan dalam pergerakan nasional dan membentuk wadah perjuangan politik bersama bagi seluruh bangsa Indonesia1. Dr. Soetomo juga berpandangan bahwa perjuangan kooperatif dengan pemerintah kolonial adalah cara yang lebih rasional dan efektif untuk mencapai tujuan nasional.
Tujuan dan Asas Parindra
Parindra memiliki tujuan untuk mewujudkan Indonesia Mulia dan Sempurna, yaitu suatu bentuk otonomi yang lebih luas dan adil bagi bangsa Indonesia dalam kerangka kerajaan Belanda. Parindra tidak menuntut kemerdekaan penuh dari Belanda, tetapi mengharapkan adanya reformasi politik dan sosial yang dapat meningkatkan kedudukan dan hak-hak bangsa Indonesia di dalam negeri maupun di luar negeri.
Parindra menganut asas kooperatif atau cooperatie, yaitu bekerja sama dengan pemerintah kolonial dengan cara duduk di dalam dewan-dewan legislatif untuk waktu yang tertentu. Parindra beranggapan bahwa dengan cara ini, mereka dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah kolonial sesuai dengan kepentingan nasional dan menghindari konfrontasi yang berpotensi menimbulkan korban jiwa. Parindra juga menghormati hukum dan ketertiban yang berlaku di bawah pemerintahan kolonial.
Perjuangan dan Perkembangan Parindra
Parindra menjadi partai politik terbesar dan terpengaruh di Volksraad, badan legislatif yang didirikan oleh Belanda pada tahun 1918 sebagai wadah bagi perwakilan rakyat Hindia Belanda. Parindra memiliki 18 kursi dari total 60 kursi di Volksraad pada tahun 1939. Parindra juga aktif dalam mengajukan usulan-usulan yang berkaitan dengan kepentingan nasional, seperti usulan untuk membentuk badan perwakilan rakyat yang lebih demokratis, usulan untuk memberikan hak pilih kepada rakyat Indonesia, dan usulan untuk memberikan kewarganegaraan Belanda kepada orang-orang Indonesia.
Parindra juga melakukan berbagai kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesadaran nasional rakyat Indonesia. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Parindra antara lain adalah:
- Menyusun kaum tani dengan mendirikan Rukun Tani, organisasi petani yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani.
- Menyusun serikat pekerja perkapalan dengan mendirikan Rukun Pelayaran Indonesia (Rupelin), organisasi pekerja perkapalan yang bertujuan untuk melindungi hak-hak dan kesejahteraan pekerja perkapalan.
- Menyusun perekonomian dengan menganjurkan swadeshi, yaitu gerakan untuk memproduksi dan mengonsumsi barang-barang buatan dalam negeri.
- Mendirikan Bank Nasional Indonesia di Surabaya, bank swasta pertama yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia.
- Mendirikan percetakan-percetakan yang menerbitkan surat kabar dan majalah, seperti Daulat Rakyat, Suara Parindra, dan Indonesia Raya.
Parindra mendapatkan dukungan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada saat itu, Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, yang menggantikan Bonifacius Cornelis de Jonge pada tahun 1936. Gubernur Jenderal van Starkenborgh memodifikasi politiestaat (negara polisi) peninggalan de Jonge, menjadi beambtenstaat (negara pegawai) yang memberikan konsesi yang lebih baik kepada organisasi-organisasi yang kooperatif dengan pemerintah kolonial.
Parindra mengalami perkembangan yang pesat dalam jumlah anggota dan pengaruhnya. Pada tahun 1937, Parindra memiliki anggota lebih dari 4.600 orang dari seluruh Indonesia. Pada tahun 1939, anggota Parindra meningkat hampir tiga kali lipat menjadi 11.250 orang. Anggota Parindra sebagian besar terkonsentrasi di Jawa Timur. Pada tahun 1941, menjelang Perang Pasifik, Parindra diperkirakan memiliki anggota sebanyak 19.500 orang.
Nasib Parindra setelah Kemerdekaan Indonesia
Parindra mengalami kemunduran setelah Jepang menginvasi Hindia Belanda pada tahun 1942. Jepang membubarkan semua organisasi politik yang ada, termasuk Parindra, dan melarang segala bentuk aktivitas politik di bawah pemerintahannya. Beberapa tokoh Parindra ditangkap dan dipenjara oleh Jepang karena dianggap sebagai kolaborator Belanda atau sebagai ancaman bagi kepentingan Jepang.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Parindra tidak dapat bangkit kembali sebagai partai politik yang berpengaruh. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
- Perubahan paradigma perjuangan nasional dari kooperatif menjadi konfrontatif. Masyarakat Indonesia lebih menyukai partai-partai politik yang bersikap tegas dan radikal dalam menentang penjajahan Belanda maupun Jepang, seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI).
- Perpecahan internal di antara para anggota dan pengurus Parindra. Beberapa tokoh Parindra memilih untuk bergabung dengan partai-partai politik lain yang lebih sesuai dengan ideologi atau kepentingan mereka, seperti PNI, PKI.
- Kehilangan dukungan dari masyarakat Indonesia. Parindra dianggap sebagai partai yang konservatif, kolaboratif, dan tidak berani berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Parindra juga dianggap sebagai partai yang elit dan tidak mewakili aspirasi rakyat Indonesia yang mayoritas adalah petani dan buruh.
- Kekurangan sumber daya dan infrastruktur. Parindra tidak memiliki dana, kader, dan media yang cukup untuk mengembangkan organisasi dan menyebarkan pengaruhnya. Parindra juga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dengan anggota-anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia.
Parindra akhirnya bubar pada tahun 1950, setelah gagal mendapatkan kursi di parlemen dalam pemilihan umum tahun 1949. Beberapa tokoh Parindra yang masih aktif dalam politik antara lain adalah:
- Dr. Soetomo, yang menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) dan Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) sebelum meninggal pada tahun 1951.
- Mr. Mohammad Roem, yang menjadi anggota BP-KNIP, DPRS, dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada tahun 1950-1951.
- Mr. Mohammad Natsir, yang menjadi anggota BP-KNIP, DPRS, dan DPR serta menjabat sebagai Perdana Menteri pada tahun 1950-1951.
Parindra merupakan salah satu partai politik yang berjasa dalam pergerakan nasional Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Parindra memiliki visi untuk mewujudkan Indonesia Mulia dan Sempurna dengan cara kooperatif dengan pemerintah kolonial. Parindra juga melakukan berbagai kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesadaran nasional rakyat Indonesia. Meskipun Parindra tidak dapat bertahan hingga kemerdekaan Indonesia, Parindra tetap menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Sumber:
(1) Sejarah Partai Indonesia Raya (Parindra) – Kompas.com. https://www.kompas.com/skola/read/2020/12/25/195547569/sejarah-partai-indonesia-raya-parindra.
(2) Partai Indonesia Raya – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Indonesia_Raya.
(3) Partai Indonesia Raya (Parindra) – TribunnewsWiki.com. https://www.tribunnewswiki.com/2021/08/04/partai-indonesia-raya-parindra.
(4) Partai Indonesia Raya – STEKOM. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Partai_Indonesia_Raya.