Menu Tutup

Pendiri Kesultanan Aceh Darussalam: Sejarah, Peran, dan Warisan Sultan Ali Mughayat Syah

Siapa yang Mendirikan Kesultanan Aceh dan Bagaimana Perkembangannya?

Kesultanan Aceh Darussalam adalah salah satu kerajaan Islam terkuat dan paling berpengaruh di Nusantara. Berlokasi di ujung utara Pulau Sumatra, Aceh memegang peranan penting dalam sejarah Indonesia, terutama dalam menyebarkan agama Islam dan melawan kolonialisme Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496 M dan menjadi pusat perdagangan yang strategis. Artikel ini akan membahas latar belakang Sultan Ali Mughayat Syah, proses pendirian, kebijakan pemerintahan, serta dampak dari Kesultanan Aceh.

Latar Belakang Sultan Ali Mughayat Syah

Sultan Ali Mughayat Syah, yang juga dikenal sebagai Raja Ibrahim, lahir dari keluarga kerajaan yang memiliki garis keturunan dengan Dinasti Meukuta Alam. Ayahnya, Sultan Syamsu Syah, adalah salah satu penguasa yang dihormati di wilayah Aceh. Ali Mughayat Syah dikenal sebagai pemimpin visioner yang memiliki kemampuan militer dan politik tinggi sejak muda. Dengan pengalaman dan pengaruhnya, ia menjadi sosok yang ideal untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Aceh, terutama karena ancaman kolonial semakin mendekat.

Pendirian Kesultanan Aceh Darussalam

Pada akhir abad ke-15, beberapa kerajaan kecil yang berada di wilayah Aceh seperti Kerajaan Lamuri, Pedir, Daya, dan Pasai hidup berdampingan dengan beragam kepentingan. Situasi geopolitik berubah setelah Portugis menaklukkan Malaka pada tahun 1511, yang menjadi ancaman besar bagi kerajaan-kerajaan di sekitar Selat Malaka. Kondisi ini menginspirasi Sultan Ali Mughayat Syah untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Aceh di bawah satu bendera yang kuat.

Melalui serangkaian kampanye militer yang berhasil, Ali Mughayat Syah menguasai kerajaan-kerajaan tetangganya dan mendirikan Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1496. Kesultanan ini menjadikan Kutaraja (sekarang Banda Aceh) sebagai ibu kotanya. Penaklukan tersebut memberi Aceh kekuatan baru untuk melawan dominasi Portugis di Selat Malaka.

Kebijakan Sultan Ali Mughayat Syah: Militer, Ekonomi, dan Diplomasi

Sebagai pendiri kesultanan, Sultan Ali Mughayat Syah segera mengambil langkah-langkah penting untuk memperkuat negara baru ini:

  1. Kekuatan Militer
    Ali Mughayat Syah segera membangun angkatan militer yang kuat, baik di laut maupun di darat, untuk melindungi kesultanan dari ancaman Portugis dan pihak lain yang berpotensi mengancam. Angkatan laut Aceh memiliki armada kapal yang dilengkapi dengan meriam, yang memungkinkan mereka untuk menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka.
  2. Ekonomi dan Perdagangan
    Dengan lokasi strategis di jalur perdagangan internasional, Kesultanan Aceh berkembang menjadi pusat perdagangan utama yang menarik pedagang dari Timur Tengah, India, hingga China. Pelabuhan-pelabuhan Aceh ramai oleh pedagang yang membawa rempah-rempah, emas, dan hasil bumi lainnya. Kebijakan ekonomi yang mendorong perdagangan ini membuat Aceh makmur dan mampu menopang kekuatan militernya.
  3. Hubungan Diplomatik dan Aliansi
    Sultan Ali Mughayat Syah menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara, seperti Demak dan Johor, serta dengan wilayah di Timur Tengah. Aliansi ini bertujuan untuk memperkuat jaringan Islam di kawasan dan melawan pengaruh Portugis yang mencoba mendominasi perdagangan Asia Tenggara.

Perlawanan Terhadap Portugis

Salah satu fokus utama Sultan Ali Mughayat Syah adalah melawan Portugis yang telah menguasai Malaka. Ia melihat kehadiran Portugis sebagai ancaman langsung terhadap perdagangan Aceh di Selat Malaka. Kesultanan Aceh tidak hanya menolak dominasi Portugis tetapi juga melakukan berbagai serangan ke wilayah yang dikuasai Portugis di Malaka. Serangan ini menandai awal dari perlawanan panjang Kesultanan Aceh terhadap kolonialisme Eropa, yang kemudian dilanjutkan oleh penerusnya.

Kejayaan Kesultanan Aceh dan Warisan Sultan Ali Mughayat Syah

Setelah wafat pada 6 Agustus 1530, Sultan Ali Mughayat Syah meninggalkan kesultanan yang telah mapan, kuat, dan dihormati. Penerusnya melanjutkan perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan dan kemakmuran Aceh. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya. Di bawah Iskandar Muda, Aceh memiliki pengaruh yang kuat di Asia Tenggara dan menguasai sebagian besar wilayah pantai barat Sumatra, Semenanjung Malaya, hingga sebagian Kalimantan.

Sultan Ali Mughayat Syah dikenang sebagai pendiri sekaligus arsitek pertama dari Kesultanan Aceh. Kegigihannya untuk mengusir Portugis dan memperkuat perdagangan Islam di wilayah Nusantara memberikan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan Islam dan ekonomi di Aceh dan sekitarnya.

Kesimpulan

Kesultanan Aceh Darussalam adalah simbol kekuatan Islam di Asia Tenggara yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Dengan kebijakan militer yang tangguh, strategi ekonomi yang cerdas, dan hubungan diplomatik yang luas, Aceh berhasil menjadi kerajaan yang kuat dan mandiri. Warisan Sultan Ali Mughayat Syah berlanjut dalam sejarah panjang Aceh, terutama dalam perlawanan melawan kolonialisme Barat yang berlangsung hingga abad ke-20.

Kesultanan ini tidak hanya berjasa dalam menyebarkan Islam tetapi juga menjadi simbol perlawanan dan persatuan bangsa melawan penjajahan. Warisan Kesultanan Aceh terus hidup dalam budaya dan sejarah Indonesia, mengingatkan kita akan pentingnya kedaulatan dan keberanian dalam menghadapi ancaman eksternal.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya