Kesultanan Cirebon, salah satu kerajaan Islam tertua di Jawa Barat, memiliki sejarah pendirian yang menarik dan penuh makna. Kerajaan ini didirikan oleh tokoh-tokoh penting yang berperan dalam perkembangan budaya dan agama di wilayah tersebut.
Pangeran Walangsungsang: Tokoh Utama Pendiri
Pangeran Walangsungsang, juga dikenal sebagai Pangeran Cakrabuana, adalah putra pertama dari Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Pajajaran. Sebagai anak tertua, ia seharusnya menjadi penerus tahta. Namun, karena memeluk agama Islam, ia tidak diakui sebagai putra mahkota. Akibatnya, ia mendirikan pemerintahan sendiri di Cirebon pada tahun 1430 Masehi, menjadikan Cirebon sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran Islam di Jawa Barat.
Ki Gedeng Tapa: Pelopor Awal
Sebelum Pangeran Walangsungsang, wilayah Cirebon dikenal sebagai dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Ki Gedeng Tapa adalah seorang saudagar kaya di Pelabuhan Muarajati yang membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubung dan tajug. Sejak itu, pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban.
Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati): Penerus dan Penyebar Islam
Setelah Pangeran Walangsungsang, kepemimpinan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh keponakannya, Syarif Hidayatullah, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Ia memerintah dari tahun 1479 hingga 1568 Masehi. Di bawah kepemimpinannya, Cirebon mengalami masa kejayaan, terutama dalam bidang agama, politik, dan perdagangan. Sunan Gunung Jati juga berperan besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.
Kesimpulan
Pendiri Kesultanan Cirebon adalah Pangeran Walangsungsang, yang mendirikan pemerintahan di Cirebon pada tahun 1430 Masehi. Sebelumnya, wilayah ini merupakan dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Setelah Pangeran Walangsungsang, kepemimpinan dilanjutkan oleh Syarif Hidayatullah, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, yang membawa Cirebon menuju masa kejayaan dan menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Barat.