Tanah adalah lapisan teratas permukaan bumi yang terbentuk dari pelapukan batuan dan bahan organik. Tanah memiliki berbagai ciri-ciri yang menunjukkan sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Ciri-ciri tanah penting untuk diketahui karena berpengaruh pada kesuburan tanah dan jenis tanaman yang cocok ditanam di tanah tersebut.
Warna Tanah
Warna tanah merupakan salah satu ciri-ciri fisik tanah yang dapat dilihat secara langsung. Warna tanah dipengaruhi oleh komponen penyusun tanah, seperti mineral, bahan organik, air, dan udara. Warna tanah dapat menunjukkan kandungan hara, kelembaban, aerasi, dan kondisi oksidasi-reduksi tanah.
Beberapa contoh warna tanah dan maknanya adalah sebagai berikut:
- Hitam: menunjukkan kandungan bahan organik yang tinggi, biasanya terdapat di tanah gambut atau humus. Tanah ini subur dan dapat menyerap air dengan baik.
- Abu-abu: menunjukkan kandungan besi yang tinggi dalam bentuk tereduksi, biasanya terdapat di tanah aluvial atau rawa. Tanah ini basah dan kurang berudara.
- Putih: menunjukkan kandungan kapur atau garam yang tinggi, biasanya terdapat di tanah gersang atau pantai. Tanah ini kering dan kurang subur.
- Merah: menunjukkan kandungan besi yang tinggi dalam bentuk teroksidasi, biasanya terdapat di tanah laterit atau andosol. Tanah ini kaya mineral dan bersifat asam.
- Cokelat: menunjukkan kandungan bahan organik dan mineral yang seimbang, biasanya terdapat di tanah podsolik atau regosol. Tanah ini subur dan memiliki tekstur yang baik.
Tekstur Tanah
Tekstur tanah merupakan ciri-ciri fisik tanah yang dapat dirasakan dengan sentuhan. Tekstur tanah menggambarkan perbandingan relatif antara fraksi pasir, debu, dan liat dalam tanah. Tekstur tanah mempengaruhi porositas, permeabilitas, aerasi, dan retensi air tanah.
Beberapa contoh tekstur tanah dan sifatnya adalah sebagai berikut:
- Pasir: memiliki butiran kasar, tidak lengket, dan porositas tinggi. Tanah ini mudah diserap air tetapi cepat kering karena drainase yang baik.
- Debu: memiliki butiran halus, agak lengket, dan porositas sedang. Tanah ini dapat menahan air tetapi kurang berudara karena drainase yang lambat.
- Liat: memiliki butiran sangat halus, sangat lengket, dan porositas rendah. Tanah ini sulit diserap air tetapi mudah mengembang karena drainase yang buruk.
Selain ketiga fraksi tersebut, ada juga tekstur campuran yang terdiri dari kombinasi pasir, debu, dan liat dalam proporsi tertentu. Contohnya adalah lempung berpasir (sandy loam), lempung berdebu (silty loam), lempung berliat (clayey loam), dan lain-lain.
Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan ciri-ciri fisik tanah yang menggambarkan susunan atau pengelompokan butiran-butiran tanah menjadi agregat atau gumpalan. Struktur tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti bahan organik, aktivitas mikroorganisme, akar tumbuhan, hewan penggali, suhu, kelembaban, dan tekanan.
Struktur tanah dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk dasar, yaitu:
- Granular: memiliki bentuk bulat atau kubus dengan ukuran kecil (1-2 mm). Biasanya terdapat di lapisan atas permukaan tanah yang kaya bahan organik.
- Krumovoid: memiliki bentuk bulat atau lonjong dengan ukuran besar (5-10 mm). Biasanya terdapat di lapisan bawah permukaan tanah yang kurang bahan organik.
- Prisma: memiliki bentuk segi enam atau segi delapan dengan ukuran bervariasi (1-10 cm). Biasanya terdapat di lapisan dalam tanah yang kaya kapur atau garam.
- Blok: memiliki bentuk kubus atau balok dengan ukuran bervariasi (1-10 cm). Biasanya terdapat di lapisan dalam tanah yang kaya liat atau besi.
- Pelat: memiliki bentuk pipih atau lempengan dengan ukuran bervariasi (1-10 cm). Biasanya terdapat di lapisan dalam tanah yang mengalami tekanan atau kompaksi.
Struktur tanah berpengaruh pada sirkulasi air, udara, dan hara dalam tanah. Struktur tanah yang baik adalah yang memiliki agregat yang stabil, berpori, dan tidak terlalu rapat.
Sifat Kimia Tanah
Sifat kimia tanah merupakan ciri-ciri tanah yang berkaitan dengan komposisi dan reaksi kimia yang terjadi dalam tanah. Sifat kimia tanah dapat diukur dengan menggunakan alat-alat tertentu, seperti pH meter, TDS meter, EC meter, dan lain-lain.
Beberapa contoh sifat kimia tanah dan pengaruhnya adalah sebagai berikut:
- pH: menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan tanah. pH tanah berkisar antara 0 (sangat asam) hingga 14 (sangat basa), dengan 7 sebagai netral. pH tanah mempengaruhi ketersediaan hara, aktivitas mikroorganisme, dan pertumbuhan tanaman. Umumnya, tanaman tumbuh baik pada pH 5,5 hingga 7,5.
- TDS: menunjukkan jumlah total padatan terlarut dalam air tanah. TDS tanah berkisar antara 0 (sangat murni) hingga 5000 ppm (sangat kotor), dengan 500 ppm sebagai batas aman. TDS tanah mempengaruhi kualitas air, salinitas, dan kesuburan tanah. Umumnya, tanaman tumbuh baik pada TDS kurang dari 1000 ppm.
- EC: menunjukkan kemampuan air tanah untuk menghantarkan arus listrik. EC tanah berkisar antara 0 (sangat rendah) hingga 4 dS/m (sangat tinggi), dengan 0,8 dS/m sebagai batas optimal. EC tanah mempengaruhi kandungan garam, hara, dan toksisitas tanah. Umumnya, tanaman tumbuh baik pada EC kurang dari 2 dS/m.
Selain ketiga sifat tersebut, ada juga sifat kimia lainnya seperti C-organik, N-total, P-tersedia, K-tukar, dan lain-lain yang menunjukkan kandungan hara makro dan mikro dalam tanah.
Sifat Biologi Tanah
Sifat biologi tanah merupakan ciri-ciri tanah yang berkaitan dengan kehidupan organisme yang ada dalam tanah. Sifat biologi tanah dapat diamati dengan menggunakan mikroskop, lup, atau mata telanjang.
Beberapa contoh sifat biologi tanah dan perannya adalah sebagai berikut:
- Bakteri: merupakan organisme mikroskopis yang hidup di dalam atau di permukaan tanah. Bakteri berperan dalam dekomposisi bahan organik, fiksasi nitrogen, siklus sulfur, dan pengendalian penyakit.
- Jamur: merupakan organisme mikroskopis atau makroskopis yang hidup di dalam atau di permukaan tanah. Jamur berperan dalam dekomposisi bahan organik, pelarutan fosfat, simbiosis mikoriza, dan pengendalian gulma.
- Alga: merupakan organisme mikroskopis atau makroskopis yang hidup di permukaan atau lapisan atas tanah. Alga berperan dalam fotosintesis, fiksasi nitrogen, siklus karbon, dan penstabilan agregat.
- Protozoa: merupakan organisme mikroskopis yang hidup di dalam atau di permukaan tanah. Protozoa berperan dalam mineralisasi nitrogen.
- Nematoda: merupakan organisme mikroskopis yang hidup di dalam atau di permukaan tanah. Nematoda berperan dalam mineralisasi nitrogen, siklus karbon, dan interaksi tanaman-patogen.
- Cacing tanah: merupakan organisme makroskopis yang hidup di dalam atau di permukaan tanah. Cacing tanah berperan dalam pengolahan bahan organik, pembentukan agregat, peningkatan porositas, dan perbaikan aerasi.
- Serangga: merupakan organisme makroskopis yang hidup di dalam atau di permukaan tanah. Serangga berperan dalam dekomposisi bahan organik, pengendalian hama, penyerbukan, dan rantai makanan.
- Tumbuhan: merupakan organisme makroskopis yang hidup di permukaan atau lapisan atas tanah. Tumbuhan berperan dalam fotosintesis, fiksasi nitrogen, siklus karbon, dan peningkatan kesuburan.
Sifat biologi tanah berpengaruh pada kesehatan, kesuburan, dan keberlanjutan tanah. Sifat biologi tanah yang baik adalah yang memiliki keanekaragaman dan keseimbangan organisme yang tinggi.
Sumber:
(1) Ciri-Ciri Tanah dan Teksturnya – Materi Geografi Kelas 10. https://www.zenius.net/blog/ciri-ciri-tanah.
(2) Jenis-Jenis Tanah: Karakteristik dan Persebarannya di Indonesia – Tirto.ID. https://tirto.id/jenis-jenis-tanah-karakteristik-dan-persebarannya-di-indonesia-glgA.
(3) Jenis-Jenis Tanah dan Ciri-Cirinya – BibitBunga.com. https://bibitbunga.com/jenis-jenis-tanah-dan-ciri-cirinya/.
(4) 8 Ciri-ciri Tanah Subur dan Jenis-jenis Ini Baik untuk Tanaman. https://katadata.co.id/intan/lifestyle/63f5f6f57e3fb/8-ciri-ciri-tanah-subur-dan-jenis-jenis-ini-baik-untuk-tanaman.