Menu Tutup

Pengertian Hormon, Kelenjar Endokrin, Hormon Seksual dan Siklus Menstruasi serta Gangguan yang Dapat Terjadi pada Sistem Hormon

Pengertian Hormon

Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan³⁴.

Hormon memiliki fungsi penting dalam mengatur berbagai proses dan sistem dalam tubuh manusia, seperti metabolisme, pertumbuhan, perkembangan, emosi, fungsi seksual, reproduksi, siklus tidur, detak jantung, tekanan darah, dan lain-lain². Hormon juga berperan dalam menjaga keseimbangan atau homeostasis tubuh saat menghadapi perubahan lingkungan¹.

Pengertian Kelenjar Endokrin

Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang menghasilkan hormon dan melepaskannya ke aliran darah. Kelenjar endokrin bersama dengan hormon-hormon yang dihasilkannya membentuk sistem endokrin. Sistem endokrin terdiri dari enam kelenjar utama, yaitu¹²:

– Kelenjar hipotalamus: terletak di bagian bawah otak dan mengendalikan sebagian besar fungsi sistem endokrin. Kelenjar ini menghasilkan hormon-hormon seperti corticotropin-releasing hormone (CRH), thyrotropin-releasing hormone (TRH), dan gonadotropin-releasing hormone (GnRH) yang merangsang pelepasan hormon lain dari kelenjar pituitari.

– Kelenjar pituitari: terletak di bagian bawah otak dan disebut sebagai “kelenjar master” karena mengendalikan sejumlah kelenjar lain. Kelenjar ini menghasilkan hormon-hormon seperti growth hormone (GH), thyroid-stimulating hormone (TSH), adrenocorticotropic hormone (ACTH), follicle-stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), prolactin, dan antidiuretic hormone (ADH) yang berpengaruh pada pertumbuhan, metabolisme, fungsi adrenal, fungsi seksual, produksi susu, dan keseimbangan cairan tubuh.

– Kelenjar tiroid: terletak di leher dan menghasilkan hormon-hormon seperti thyroxine (T4) dan triiodothyronine (T3) yang mengatur metabolisme tubuh dan pertumbuhan tulang.

– Kelenjar paratiroid: terletak di belakang kelenjar tiroid dan menghasilkan hormon parathyroid (PTH) yang mengatur kadar kalsium dan fosfor dalam darah dan tulang.

– Kelenjar adrenal: terletak di atas ginjal dan menghasilkan hormon-hormon seperti cortisol, aldosterone, adrenaline, dan noradrenaline yang berpengaruh pada respons stres, tekanan darah, keseimbangan garam dan air, serta metabolisme gula.

– Kelenjar gonad: terdiri dari indung telur (ovarium) pada wanita dan testis pada pria. Kelenjar ini menghasilkan hormon-hormon seksual seperti estrogen, progesterone, testosteron yang berpengaruh pada perkembangan karakteristik seksual sekunder, fungsi reproduksi, siklus menstruasi pada wanita, serta libido.

Pengertian Hormon Seksual

Hormon seksual adalah hormon yang berhubungan dengan fungsi seksual dan reproduksi pada manusia. Hormon seksual termasuk dalam kelompok steroid yang berasal dari kolesterol. Hormon seksual terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

– Androgen: hormon seksual yang dominan pada pria, seperti testosteron. Androgen berperan dalam perkembangan karakteristik seksual primer dan sekunder pada pria, seperti pertumbuhan penis, testis, rambut tubuh, suara, dan otot. Androgen juga berpengaruh pada libido, produksi sperma, dan fungsi ereksi.

– Estrogen: hormon seksual yang dominan pada wanita, seperti estradiol. Estrogen berperan dalam perkembangan karakteristik seksual primer dan sekunder pada wanita, seperti pertumbuhan payudara, rahim, vagina, rambut kemaluan, dan lemak tubuh. Estrogen juga berpengaruh pada siklus menstruasi, ovulasi, kepadatan tulang, dan kesehatan jantung.

– Progesteron: hormon seksual yang dominan pada wanita, terutama pada fase luteal siklus menstruasi dan kehamilan. Progesteron berperan dalam mempersiapkan rahim untuk menerima dan menopang embrio, mempertahankan kehamilan, serta mengatur perubahan payudara selama kehamilan dan menyusui.

Pengertian Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi adalah siklus bulanan yang dialami oleh wanita usia subur yang melibatkan perubahan hormon, ovarium, dan rahim. Siklus menstruasi dimulai dari hari pertama haid (perdarahan dari vagina) sampai hari pertama haid berikutnya. Rata-rata durasi siklus menstruasi adalah 28 hari, namun bisa bervariasi antara 21-35 hari.

Siklus menstruasi terdiri dari empat fase, yaitu:

– Fase menstruasi: fase ini ditandai dengan terjadinya perdarahan dari vagina selama 3-7 hari akibat peluruhan lapisan dalam rahim (endometrium) yang tidak dibuahi oleh sperma. Fase ini biasanya disertai dengan gejala seperti kram perut, nyeri punggung bawah, sakit kepala, dan perubahan mood.

– Fase folikuler: fase ini dimulai dari hari pertama haid sampai terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur matang dari ovarium). Fase ini berlangsung sekitar 10-14 hari. Pada fase ini, kelenjar pituitari melepaskan FSH yang merangsang pertumbuhan folikel (kantung yang mengandung sel telur) di ovarium. Salah satu folikel akan menjadi dominan dan menghasilkan estrogen yang merangsang penebalan endometrium untuk menerima sel telur yang dibuahi.

– Fase ovulasi: fase ini terjadi sekitar 14 hari sebelum haid berikutnya atau sekitar hari ke-14 pada siklus 28 hari. Pada fase ini, kelenjar pituitari melepaskan LH yang merangsang pelepasan sel telur matang dari folikel dominan di ovarium. Sel telur kemudian masuk ke saluran tuba (saluran yang menghubungkan ovarium dengan rahim) untuk menunggu pembuahan oleh sperma. Fase ovulasi adalah masa subur wanita dimana kemungkinan hamil paling tinggi jika melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi.

– Fase luteal: fase ini dimulai dari terjadinya ovulasi sampai sebelum haid berikutnya. Fase ini berlangsung sekitar 14 hari. Pada fase ini, folikel yang telah melepaskan sel telur akan berubah menjadi korpus luteum (jaringan kuning) yang menghasilkan progesteron. Progesteron akan membantu mempertahankan endometrium untuk menopang kehamilan jika terjadi pembuahan. Jika tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan mengecil dan menghentikan produksi progesteron. Hal ini menyebabkan endometrium luruh dan terjadi haid.

Gangguan yang Dapat Terjadi pada Sistem Hormon

Sistem hormon dapat mengalami gangguan akibat ketidakseimbangan hormon, baik terlalu banyak maupun terlalu sedikit. Gangguan hormon dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyakit yang menyebabkan gangguan hormon, seperti penyakit autoimun, tumor, infeksi, stres, obesitas, kehamilan, menopause, efek samping obat-obatan, dan faktor genetik².

Beberapa jenis gangguan hormon yang dapat terjadi pada sistem endokrin adalah:

– Hipertiroidisme: kondisi ketika kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon tiroksin. Gejala-gejalanya antara lain penurunan berat badan, detak jantung cepat atau tidak teratur, jantung berdebar, cemas, mudah gugup, gemetar halus pada tangan, dan meningkatnya sensitivitas tubuh terhadap panas¹².

– Hipotiroidisme: kondisi ketika kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon yang cukup. Gejala-gejalanya antara lain mudah lelah, sembelit, naik berat badan, dan wajah bengkak. Jika tidak diobati, hipotiroidisme dapat menyebabkan obesitas, nyeri sendi, masalah kesuburan, dan penyakit jantung¹².
– Sindrom ovarium polikistik (PCOS): kondisi ketika menstruasi sering tidak teratur akibat ketidakseimbangan hormon reproduksi. Gejala-gejalanya antara lain pertumbuhan rambut berlebih di wajah dan tubuh, jerawat, kelebihan berat badan, kista pada ovarium, dan kesulitan hamil¹².

– Diabetes: kondisi ketika pankreas tidak menghasilkan hormon insulin yang cukup atau sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik. Gejala-gejalanya antara lain haus berlebihan, sering buang air kecil, lapar terus-menerus, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, lemah, lesu, dan luka yang sulit sembuh¹².

– Sindrom Cushing: kondisi ketika kelenjar adrenal menghasilkan terlalu banyak hormon kortisol. Gejala-gejalanya antara lain wajah bulat dan merah (moon face), leher tebal (buffalo hump), perut buncit (central obesity), stretch mark ungu di kulit perut dan paha (striae rubrae), tekanan darah tinggi (hipertensi), gula darah tinggi (hiperglikemia), tulang keropos (osteoporosis), dan mudah memar¹².

– Penyakit Addison: kondisi ketika kelenjar adrenal tidak menghasilkan hormon kortisol dan aldosteron yang cukup. Gejala-gejalanya antara lain kelelahan kronis, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, kulit menjadi gelap (hiperpigmentasi), tekanan darah rendah (hipotensi), gula darah rendah (hipoglikemia), dehidrasi, sakit perut, mual, muntah, diare, dan kehilangan garam dalam keringat (hiponatremia)¹².

Sumber:
(1) Pengertian Hormon Adalah : Fungsi, Jenis, Contoh, Reproduksi. https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-hormon/.
(2) Sistem Hormon pada Manusia: Fungsi & Jenis Hormon – Gramedia.com. https://www.gramedia.com/literasi/sistem-hormon/.
(3) Hormon: Definisi, Jenis, dan Fungsi dalam Tubuh – Hello Sehat. https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/hormon/.
(4) Sistem Endokrin: Definisi, Anatomi, dan Fungsinya – Hello Sehat. https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/sistem-endokrin/.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya