Menu Tutup

Perjuangan Pra Belanda: Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajah Sebelum Kedatangan Belanda

Bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perjuangan melawan penjajahan. Sebelum Belanda datang, bangsa Indonesia sudah menghadapi berbagai bangsa asing yang mencoba menguasai wilayah dan sumber daya alam di Nusantara. Beberapa bangsa asing yang pernah menjajah Indonesia sebelum Belanda adalah Portugis, Spanyol, Inggris, dan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Namun, bangsa Indonesia tidak tinggal diam dan melakukan berbagai perlawanan untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya. Berikut adalah beberapa contoh perjuangan pra belanda yang dilakukan oleh bangsa Indonesia.

Perlawanan terhadap Portugis

Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang datang ke Nusantara pada abad ke-16. Mereka datang dengan tujuan untuk mencari rempah-rempah dan menyebarkan agama Kristen. Portugis berhasil mendirikan benteng dan pos perdagangan di beberapa tempat, seperti Malaka, Ternate, Ambon, Solor, Flores, dan Timor. Namun, kehadiran Portugis juga menimbulkan konflik dengan kerajaan-kerajaan lokal yang ada di Nusantara.

Salah satu kerajaan yang melawan Portugis adalah Kesultanan Aceh. Kesultanan Aceh merupakan kerajaan Islam terbesar dan terkuat di Sumatera pada saat itu. Aceh berperang melawan Portugis untuk mengusir mereka dari Malaka, yang merupakan pusat perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara. Perang Aceh-Portugis berlangsung selama lebih dari 60 tahun (1568-1629) dengan beberapa kali gencatan senjata. Salah satu tokoh perlawanan Aceh terhadap Portugis adalah Sultan Iskandar Muda, yang memimpin Aceh pada masa keemasannya (1607-1636). Sultan Iskandar Muda berhasil memperluas wilayah Aceh hingga ke Selat Malaka, Sumatera Barat, dan sebagian Jawa Barat. Ia juga memperkuat angkatan laut Aceh dengan membangun armada kapal perang yang besar dan modern. Sultan Iskandar Muda juga dikenal sebagai penguasa yang toleran terhadap agama lain, seperti Hindu, Buddha, dan Kristen1.

Kerajaan lain yang melawan Portugis adalah Kesultanan Ternate. Kesultanan Ternate merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia yang berdiri sejak abad ke-13. Ternate merupakan salah satu penghasil rempah-rempah utama di dunia, terutama cengkeh. Portugis tertarik untuk menguasai Ternate karena nilai ekonomi dan strategisnya. Portugis berhasil mendirikan benteng di pulau Ternate pada tahun 1522 dengan bantuan Sultan Bayanullah. Namun, hubungan antara Portugis dan Ternate menjadi buruk karena campur tangan Portugis dalam urusan politik dan agama di Ternate. Pada tahun 1570, Sultan Baabullah, putra Sultan Bayanullah, memimpin perlawanan terhadap Portugis. Ia berhasil mengusir Portugis dari Ternate pada tahun 1575 dengan bantuan Kesultanan Demak dan Kesultanan Banten2.

Perlawanan terhadap Spanyol

Spanyol adalah bangsa Eropa kedua yang datang ke Nusantara pada abad ke-16. Spanyol datang dengan tujuan yang sama dengan Portugis, yaitu mencari rempah-rempah dan menyebarkan agama Kristen. Spanyol berhasil mendirikan benteng dan pos perdagangan di beberapa tempat, seperti Filipina, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua. Namun, kehadiran Spanyol juga menimbulkan konflik dengan kerajaan-kerajaan lokal yang ada di Nusantara.

Salah satu kerajaan yang melawan Spanyol adalah Kerajaan Gowa-Tallo. Kerajaan Gowa-Tallo merupakan kerajaan Islam terbesar dan terkuat di Sulawesi Selatan pada saat itu. Gowa-Tallo berperang melawan Spanyol untuk mengusir mereka dari Sulawesi Utara, yang merupakan wilayah kekuasaan Gowa-Tallo. Perang Gowa-Tallo-Spanyol berlangsung selama 16 tahun (1605-1621) dengan beberapa kali gencatan senjata. Salah satu tokoh perlawanan Gowa-Tallo terhadap Spanyol adalah Sultan Hasanuddin, yang memimpin Gowa-Tallo pada masa kejayaannya (1653-1669). Sultan Hasanuddin berhasil memperluas wilayah Gowa-Tallo hingga ke Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Nusa Tenggara. Ia juga memperkuat angkatan laut Gowa-Tallo dengan membangun armada kapal perang yang besar dan modern. Sultan Hasanuddin juga dikenal sebagai penguasa yang toleran terhadap agama lain, seperti Hindu, Buddha, dan Kristen3.

Kerajaan lain yang melawan Spanyol adalah Kerajaan Tidore. Kerajaan Tidore merupakan kerajaan saingan Ternate yang juga berdiri sejak abad ke-13. Tidore merupakan salah satu penghasil rempah-rempah utama di dunia, terutama pala. Spanyol tertarik untuk menguasai Tidore karena nilai ekonomi dan strategisnya. Spanyol berhasil mendirikan benteng di pulau Tidore pada tahun 1521 dengan bantuan Sultan Gapi Baguna. Namun, hubungan antara Spanyol dan Tidore menjadi buruk karena campur tangan Spanyol dalam urusan politik dan agama di Tidore. Pada tahun 1578, Sultan Saifuddin, putra Sultan Gapi Baguna, memimpin perlawanan terhadap Spanyol. Ia berhasil mengusir Spanyol dari Tidore pada tahun 1580 dengan bantuan Kesultanan Aceh dan Kesultanan Johor.

Perlawanan terhadap Inggris

Inggris adalah bangsa Eropa ketiga yang datang ke Nusantara pada abad ke-17. Inggris datang dengan tujuan untuk mencari rempah-rempah dan menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan lokal di Nusantara. Inggris berhasil mendirikan benteng dan pos perdagangan di beberapa tempat, seperti Banten, Jakarta, Makassar, Bengkulu, dan Jambi. Namun, kehadiran Inggris juga menimbulkan konflik dengan kerajaan-kerajaan lokal yang ada di Nusantara.

Salah satu kerajaan yang melawan Inggris adalah Kesultanan Banten. Kesultanan Banten merupakan kerajaan Islam terbesar dan terkuat di Jawa Barat pada saat itu. Banten berperang melawan Inggris untuk mengusir mereka dari Banten, yang merupakan pusat perdagangan rempah-rempah di Jawa Barat. Perang Banten-Inggris berlangsung selama 10 tahun (1682-1692) dengan beberapa kali gencatan senjata. Salah satu tokoh perlawanan Banten terhadap Inggris adalah Sultan Ageng Tirtayasa, yang memimpin Banten pada masa keemasannya (1651-1682). Sultan Ageng Tirtayasa berhasil memperluas wilayah Banten hingga ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan. Ia juga memperkuat angkatan laut Banten dengan membangun armada kapal perang yang besar dan modern. Sultan Ageng Tirtayasa juga dikenal sebagai penguasa yang toleran terhadap agama lain, seperti Hindu, Buddha, dan Kristen.

Kerajaan lain yang melawan Inggris adalah Kesultanan Mataram. Kesultanan Mataram merupakan kerajaan Islam terbesar dan terkuat di Jawa Tengah pada saat itu. Mataram berperang melawan Inggris untuk mengusir mereka dari Jakarta, yang merupakan wilayah kekuasaan Mataram. Perang Mataram-Inggris berlangsung selama 5 tahun (1618-1623) dengan beberapa kali gencatan senjata. Salah satu tokoh perlawanan Mataram terhadap Inggris adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang memimpin Mataram pada masa keemasannya (1613-1645). Sultan Agung Hanyakrakusuma berhasil memperluas wilayah Mataram hingga ke Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Lombok, dan Sumbawa. Ia juga memperkuat angkatan laut Mataram dengan membangun armada kapal perang yang besar dan modern. Sultan Agung Hanyakrakusuma juga dikenal sebagai penguasa yang toleran terhadap agama lain, seperti Hindu, Buddha, dan Kristen.

Perlawanan terhadap VOC

VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah perusahaan dagang Belanda yang didirikan pada tahun 1602. VOC datang dengan tujuan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Nusantara. VOC berhasil mendirikan benteng dan pos perdagangan di banyak tempat, seperti Jakarta, Maluku, Banda, Makassar, Palembang, dan Jambi. Namun, kehadiran VOC juga menimbulkan konflik dengan kerajaan-kerajaan lokal yang ada di Nusantara.

Salah satu kerajaan yang melawan VOC adalah Kesultanan Banten. Kesultanan Banten kembali berperang melawan VOC untuk mengusir mereka dari Banten, yang merupakan pusat perdagangan rempah-rempah di Jawa Barat. Perang Banten-VOC berlangsung selama 20 tahun (1680-1700) dengan beberapa kali gencatan senjata. Salah satu tokoh perlawanan Banten terhadap VOC adalah Sultan Haji, yang memimpin Banten pada masa kemundurannya (1682-1687). Sultan Haji berhasil menggagalkan rencana VOC untuk menyerbu Banten pada tahun 1683 dengan bantuan Kesultanan Mataram dan Kesultanan Cirebon.

Kerajaan lain yang melawan VOC adalah Kerajaan Banjar. Kerajaan Banjar merupakan kerajaan Islam terbesar dan terkuat di Kalimantan Selatan pada saat itu. Banjar berperang melawan VOC untuk mengusir mereka dari Banjar, yang merupakan pusat perdagangan lada di Kalimantan Selatan. Perang Banjar-VOC berlangsung selama 15 tahun (1705-1720) dengan beberapa kali gencatan senjata. Salah satu tokoh perlawanan Banjar terhadap VOC adalah Sultan Tahmidullah II, yang memimpin Banjar pada masa keemasannya (1700-1733). Sultan Tahmidullah II berhasil mempertahankan wilayah Banjar dari serangan VOC dengan bantuan Kesultanan Gowa-Tallo dan Kesultanan Sambas.

Sumber:
(1) Materi Perjuangan Pra Belanda – Kelas 11 Sejarah Indonesia. https://www.zenius.net/materi-belajar/sejarah-indonesia-lp15429/?topic=perjuangan-pra-belanda-lp16818.
(2) Perlawanan Indonesia terhadap Belanda sampai Awal Abad 20 – Ruangguru. https://www.ruangguru.com/blog/strategi-perlawanan-bangsa-indonesia-terhadap-penjajahan-belanda.
(3) Materi Perjuangan Pra Belanda Perlawanan Di Banten Sultan Ageng …. https://www.zenius.net/materi-belajar/sejarah-indonesia-lp15429/perjuangan-kedaerahan-melawan-penjajahan-lp16017/perjuangan-pra-belanda%20%3E%20perlawanan-di-banten-sultan-ageng-tirtayasa-lp16818-lp24893/.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya