Menu Tutup

Perjuangan & Revolusi Mempertahankan Kemerdekaan

Latar Belakang

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dimulai sejak proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pada saat itu, Indonesia masih menghadapi ancaman dari Belanda yang ingin mengembalikan kekuasaannya sebagai penguasa kolonial. Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan berusaha untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang telah dikuasai oleh Jepang selama Perang Dunia II. Belanda dibantu oleh Sekutu, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, yang memiliki kepentingan ekonomi dan politik di Indonesia.

Untuk melawan Belanda, rakyat Indonesia melakukan perlawanan dengan berbagai cara, baik secara diplomasi maupun fisik. Perlawanan diplomasi dilakukan dengan cara mengadakan perundingan-perundingan dengan pihak Belanda dan Sekutu, serta meminta dukungan dari negara-negara lain, terutama negara-negara Asia dan Afrika yang juga berjuang untuk kemerdekaan. Perlawanan fisik dilakukan dengan cara mengorganisir pasukan-pasukan bersenjata, baik militer maupun sipil, yang bertempur melawan pasukan Belanda dan Sekutu di berbagai daerah.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia berlangsung selama empat tahun, dari tahun 1945 hingga 1949. Perjuangan ini disebut juga sebagai Revolusi Indonesia atau Revolusi Nasional Indonesia, karena menandai perubahan besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Perjuangan ini berakhir dengan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 29 Desember 1949, setelah Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Perjuangan Diplomasi

Perjuangan diplomasi adalah salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari Belanda dan Sekutu. Perjuangan diplomasi ini melibatkan beberapa tokoh penting, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Roem, dan Natsir. Berikut adalah beberapa peristiwa penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia:

  • Perundingan Linggarjati: Perundingan ini dilakukan antara pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Sjahrir dan pihak Belanda yang diwakili oleh Van Mook pada November 1946 di Linggarjati, Cirebon. Hasil perundingan ini adalah kesepakatan untuk membentuk Negara Indonesia Serikat (NIS) yang terdiri dari Republik Indonesia dan negara-negara bagian lainnya di bawah pengawasan Belanda. Kesepakatan ini ditandatangani pada 15 November 1946 dan diratifikasi oleh parlemen kedua belah pihak pada Maret 19471.
  • Agresi Militer Belanda I: Agresi militer ini dilakukan oleh Belanda pada 21 Juli 1947 dengan alasan bahwa Indonesia telah melanggar perjanjian Linggarjati. Agresi ini bertujuan untuk merebut kembali wilayah-wilayah strategis yang dikuasai oleh Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Sumatera. Agresi ini berhasil dihentikan oleh Dewan Keamanan PBB yang mengeluarkan resolusi nomor 27 pada 1 Agustus 1947 yang memerintahkan gencatan senjata antara kedua belah pihak2.
  • Perjanjian Renville: Perjanjian ini merupakan hasil dari perundingan antara pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Amir Sjarifuddin dan pihak Belanda yang diwakili oleh Van Mook pada Januari 1948 di kapal USS Renville yang berlabuh di Teluk Jakarta. Perjanjian ini mengatur tentang gencatan senjata, pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia untuk mengawasi pelaksanaan perjanjian, dan penarikan pasukan Indonesia dari wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Belanda. Perjanjian ini sangat merugikan Indonesia, karena mengakibatkan Indonesia kehilangan sekitar 90% wilayahnya3.
  • Agresi Militer Belanda II: Agresi militer ini dilakukan oleh Belanda pada 19 Desember 1948 dengan alasan bahwa Indonesia telah melanggar perjanjian Renville. Agresi ini bertujuan untuk menghancurkan pemerintah Indonesia yang berpusat di Yogyakarta. Agresi ini berhasil menangkap Soekarno, Hatta, dan sebagian besar kabinet Indonesia pada 19 Desember 1948. Agresi ini juga berhasil menduduki Yogyakarta dan sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, agresi ini juga mendapat tentangan dari rakyat Indonesia yang melakukan perlawanan bersenjata dan gerilya. Agresi ini juga mendapat kecaman dari dunia internasional, terutama dari negara-negara Asia dan Afrika yang mengadakan Konferensi Asia-Afrika di New Delhi pada Januari 1949. Agresi ini juga dikecam oleh Dewan Keamanan PBB yang mengeluarkan resolusi nomor 63 pada 28 Januari 1949 yang menuntut penghentian permusuhan dan pembebasan tawanan politik Indonesia4.
  • Perjanjian Roem-Royen: Perjanjian ini merupakan hasil dari perundingan antara pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Mohammad Roem dan pihak Belanda yang diwakili oleh Van Royen pada Mei 1949 di Jakarta. Perjanjian ini mengatur tentang penghentian permusuhan, pembebasan tawanan politik Indonesia, pengembalian pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta, dan pembentukan Komisi Konsultatif Federal (KKF) yang terdiri dari perwakilan Republik Indonesia dan negara-negara bagian lainnya untuk membahas masalah-masalah federalisme.
  • Perundingan Inter-Indonesia: Perundingan ini dilakukan antara pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh Mohammad Natsir dan pemerintah negara-negara bagian lainnya yang tergabung dalam KKF pada Juli-Agustus 1949 di Yogyakarta. Perundingan ini menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri dari Republik Indonesia sebagai negara bagian utama dan negara-negara bagian lainnya sebagai negara bagian otonom. Kesepakatan ini juga menetapkan bahwa RIS akan memiliki konstitusi, presiden, perdana menteri, parlemen, bendera, lambang, dan lagu kebangsaan yang sama dengan Republik Indonesia.
  • Konferensi Meja Bundar (KMB): Konferensi ini dilakukan antara pemerintah RIS yang diwakili oleh Hatta dan pihak Belanda yang diwakili oleh Van Maarseveen pada Agustus-November 1949 di Den Haag, Belanda. Konferensi ini menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik antara kedua belah pihak dan mengakui kedaulatan RIS sebagai negara merdeka dan berdaulat. Kesepakatan ini juga mengatur tentang masalah-masalah lain, seperti status Irian Barat, hutang perang, hak-hak warga negara Belanda di Indonesia, dan hubungan ekonomi antara kedua negara. Kesepakatan ini ditandatangani pada 2 November 1949 dan diratifikasi oleh parlemen kedua belah pihak pada Desember 1949.

Perjuangan Fisik

Perjuangan fisik adalah salah satu cara yang dilakukan oleh rakyat Indonesia untuk melawan penjajahan Belanda dan Sekutu secara langsung dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Perjuangan fisik ini melibatkan banyak pasukan-pasukan militer maupun sipil yang bergerilya di berbagai daerah. Berikut adalah beberapa peristiwa penting dalam perjuangan fisik Indonesia:

  • Pertempuran Surabaya: Pertempuran ini terjadi antara pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Bung Tomo dan pasukan Inggris yang dipimpin oleh Mallaby pada Oktober-November 1945 di Surabaya. Pertempuran ini dipicu oleh insiden bendera di Hotel Yamato, di mana pasukan Inggris mencoba untuk menurunkan bendera merah putih yang dikibarkan oleh pemuda Indonesia. Pertempuran ini berlangsung sengit dan mengakibatkan banyak korban jiwa di kedua belah pihak. Pertempuran ini juga menunjukkan semangat juang dan patriotisme rakyat Indonesia yang tidak mau menyerah kepada penjajah.
  • Serangan Umum 1 Maret: Serangan ini dilakukan oleh pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto pada 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Serangan ini bertujuan untuk menggagalkan rencana Belanda untuk membentuk negara boneka bernama Negara Indonesia Timur (NIT) yang dipimpin oleh Noto Soeroto. Serangan ini berhasil merebut kembali Yogyakarta dari tangan Belanda dan membebaskan Soekarno, Hatta, dan sebagian besar kabinet Indonesia yang ditawan sejak Agresi Militer Belanda II. Serangan ini juga menggugah semangat perjuangan rakyat Indonesia dan mendapat penghargaan dari dunia internasional.
  • Pertempuran Medan Area: Pertempuran ini terjadi antara pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Yani dan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Westerling pada Desember 1949-Januari 1950 di Medan, Sumatera Utara. Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran terakhir dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, karena terjadi setelah penandatanganan KMB. Pertempuran ini disebabkan oleh penolakan Westerling untuk menyerahkan wilayah Medan kepada pemerintah RIS. Pertempuran ini berhasil dimenangkan oleh pasukan Indonesia dengan bantuan dari rakyat sipil.

Kesimpulan

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan yang panjang dan berat, tetapi juga penuh dengan keberanian dan pengorbanan dari rakyat Indonesia. Perjuangan ini melibatkan berbagai cara, baik diplomasi maupun fisik, untuk menghadapi penjajahan Belanda dan Sekutu yang tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Perjuangan ini berakhir dengan kemenangan Indonesia yang berhasil mempertahankan kedaulatannya sebagai negara merdeka dan berdaulat.

Sumber:
(1) Revolusi Indonesia: Latar Belakang, Diplomasi, Konflik, dan Dampak. https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/04/172940179/revolusi-indonesia-latar-belakang-diplomasi-konflik-dan-dampak.
(2) Materi – Perjuangan & Revolusi Mempertahankan Kemerdekaan. https://www.zenius.net/lp/topic/c7341/materi-perjuangan-and-revolusi-mempertahankan-kemerdekaan/.
(3) Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan di Masa Revolusi Fisik …. https://www.kompasiana.com/anjanidwiapriliana9800/61a3794d06310e16dc376592/perjuangan-mempertahankan-kemerdekaan-di-masa-revolusi-fisik-pertempuran-palagan-ambarawa-1945.
(4) Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia – Quipper Blog. https://www.quipper.com/id/blog/mapel/sejarah/perjuangan-mempertahankan-kemerdekaan/.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya