Menu Tutup

Perlawanan Penduduk Enrekang terhadap Penjajahan Jepang (1942-1945)

Pada tahun 1942, Jepang berhasil mengalahkan Belanda dan menguasai Hindia Belanda, termasuk Sulawesi Selatan. Jepang datang dengan membawa slogan “Asia untuk Asia” dan mengaku sebagai saudara tua bagi bangsa Indonesia. Namun, di balik slogan itu, Jepang memiliki tujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai sumber daya alam dan tenaga kerja untuk kepentingan perangnya melawan Sekutu.

Pendudukan Jepang di Enrekang

Enrekang adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terletak di dataran tinggi. Penduduk Enrekang mayoritas berprofesi sebagai petani dan pedagang. Ketika Jepang mendarat di Sulawesi Selatan, hanya ada sedikit perlawanan terhadap pendaratan Jepang di sana1. Penduduk Enrekang awalnya menyambut baik kedatangan Jepang sebagai saudara tua yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Belanda.

Namun, seiring waktu, sikap Jepang berubah menjadi kejam dan menindas. Jepang melancarkan propaganda untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan penduduk Enrekang agar mendukung perjuangan Jepang melawan Sekutu2. Jepang juga mengadakan berbagai kegiatan seperti latihan militer, kerja paksa (romusha), dan pendaftaran sukarelawan (giyugun) yang menguras tenaga dan waktu penduduk Enrekang2.

Selain itu, Jepang juga mengeksploitasi sumber daya alam Enrekang, terutama kapas dan kopi, yang merupakan komoditas penting bagi daerah dataran tinggi2. Jepang memaksa penduduk Enrekang untuk menanam kapas dan kopi dengan target yang tinggi dan harga yang rendah. Jepang juga mengambil alih perdagangan kapas dan kopi dari tangan penduduk Enrekang dan menjualnya ke luar daerah dengan harga yang tinggi2.

Akibat dari penjajahan Jepang di Enrekang adalah menderita dan miskinnya penduduk Enrekang. Banyak penduduk Enrekang yang meninggal karena kelaparan, penyakit, atau kekerasan dari tentara Jepang2. Penduduk Enrekang juga kehilangan hak-hak mereka sebagai manusia, seperti hak untuk berpendapat, beragama, dan berorganisasi2. Penduduk Enrekang juga kehilangan rasa hormat dan simpati mereka kepada Jepang sebagai saudara tua.

Perlawanan Penduduk Enrekang terhadap Penjajahan Jepang

Meskipun hidup dalam tekanan dan kesulitan, penduduk Enrekang tidak diam saja menyerah kepada penjajahan Jepang. Mereka melakukan berbagai bentuk perlawanan, baik terbuka maupun tertutup, untuk mempertahankan hak-hak dan martabat mereka sebagai bangsa Indonesia.

Salah satu bentuk perlawanan terbuka yang dilakukan oleh penduduk Enrekang adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Andi Mappanyompa pada tahun 1944. Andi Mappanyompa adalah seorang pemimpin adat dan tokoh masyarakat Enrekang yang tidak mau tunduk kepada Jepang. Ia mengorganisir sekelompok pemuda-pemudi Enrekang untuk melakukan serangan-serangan gerilya terhadap pos-pos militer dan gudang-gudang persediaan Jepang di daerah Enrekang.

Pemberontakan Andi Mappanyompa ini berhasil mengguncangkan kekuasaan Jepang di Enrekang. Banyak tentara dan pejabat Jepang yang tewas atau luka-luka akibat serangan-serangan tersebut. Pemberontakan ini juga berhasil merebut senjata-senjata dan persediaan-persediaan milik Jepang yang kemudian digunakan untuk melanjutkan perlawanan.

Namun, pemberontakan ini tidak berlangsung lama. Jepang segera mengirim bala bantuan dari Makassar untuk memadamkan pemberontakan. Jepang juga melakukan operasi pengejaran dan penangkapan terhadap para pemberontak dan pendukungnya. Banyak pemberontak yang tertangkap, ditangkap, atau dibunuh oleh Jepang. Andi Mappanyompa sendiri berhasil melarikan diri ke hutan, tetapi kemudian meninggal karena sakit.

Selain perlawanan terbuka, penduduk Enrekang juga melakukan perlawanan tertutup terhadap penjajahan Jepang. Bentuk perlawanan tertutup ini antara lain adalah menyembunyikan persediaan makanan, menolak kerja paksa, menghindari latihan militer, membantu para pemberontak, menyebarkan berita-berita tentang kekalahan Jepang di medan perang, dan mengikuti gerakan-gerakan bawah tanah yang berhubungan dengan pergerakan nasional Indonesia2.

Perlawanan-perlawanan ini menunjukkan bahwa penduduk Enrekang tidak mau menjadi budak bagi Jepang. Mereka memiliki semangat juang dan cinta tanah air yang tinggi. Mereka juga memiliki harapan dan cita-cita untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Kesimpulan

Penjajahan Jepang di Enrekang adalah salah satu babak kelam dalam sejarah Indonesia. Jepang datang dengan membawa janji-janji palsu dan kemudian berubah menjadi penjajah yang kejam dan menindas. Penduduk Enrekang mengalami berbagai penderitaan dan kesulitan akibat penjajahan Jepang. Namun, penduduk Enrekang tidak menyerah begitu saja. Mereka melakukan berbagai bentuk perlawanan, baik terbuka maupun tertutup, untuk mempertahankan hak-hak dan martabat mereka sebagai bangsa Indonesia. Perlawanan-perlawanan ini juga menjadi bagian dari perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan.

Sumber:
(1) Propaganda dan Akibatnya pada Masa Pendudukan Jepang di Enrekang (1942 …. https://www.neliti.com/publications/292868/propaganda-dan-akibatnya-pada-masa-pendudukan-jepang-di-enrekang-1942-1945.
(2) Pendudukan Jepang di Enrekang (Sulawesi Selatan), Sejarah XI SMA. https://kids.grid.id/read/473881551/pendudukan-jepang-di-enrekang-sulawesi-selatan-sejarah-xi-sma.
(3) Propaganda dan Akibatnya pada Masa Pendudukan Jepang di Enrekang (1942 …. https://www.neliti.com/publications/292868/propaganda-dan-akibatnya-pada-masa-pendudukan-jepang-di-enrekang-1942-1945.
(4) Pendudukan Jepang di Enrekang (Sulawesi Selatan), Sejarah XI SMA. https://kids.grid.id/read/473881551/pendudukan-jepang-di-enrekang-sulawesi-selatan-sejarah-xi-sma.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya