Maulid Nabi Muhammad SAW adalah perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang diyakini terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awwal dalam kalender Hijriyah. Perayaan ini telah menjadi tradisi masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Namun, siapa sebenarnya yang pertama kali mengadakan peringatan Maulid Nabi? Bagaimana sejarah dan latar belakangnya? Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengutip sumber dari NU Online.
Khalifah Fathimiyah: Pelopor Peringatan Maulid Nabi
Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, orang yang pertama kali merayakan Maulid Nabi adalah Khalifah Fathimiyah yang bernama Al-Mu’izz li Dinillah1. Beliau adalah putra dari Abdullah al-Mahdi dari Dinasti Mahdawiyah yang juga berasal dari Tunis1. Al-Mu’izz li Dinillah memerintah Mesir pada tahun 361-365 H (972-975 M) setelah berhasil mengalahkan Dinasti Ibnu Thalun1. Salah satu perintah pertama yang diinstruksikan Al-Mu’izz li Dinillah setelah itu adalah mendirikan masjid Jami’ Al-Azhar1, yang kemudian menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam terkemuka.
Al-Mu’izz li Dinillah juga memerintahkan penduduk Mesir untuk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Azhar pada tahun 363 H (974 M)1. Perintah ini dilakukan agar teladan, ajaran, dan kepemimpinan mulia Nabi Muhammad SAW bisa terus menginspirasi warga Mesir dan umat Islam pada umumnya2. Sebelumnya, Al-Mu’izz li Dinillah juga telah memerintahkan penduduk Madinah dan Makkah untuk merayakan Maulid Nabi di Masjid Nabawi dan rumah-rumah mereka2. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Mu’izz li Dinillah memiliki perhatian besar terhadap Nabi Muhammad SAW beserta situs-situs sejarah peninggalan beliau.
Syamsud Daulah: Pelopor Peringatan Maulid Nabi dari Ahlusunnah
Meskipun Khalifah Fathimiyah merupakan orang yang pertama kali mengadakan peringatan Maulid Nabi, namun beliau beraqidah Syi’ah Ismailiyah1, yang berbeda dengan mayoritas umat Islam yang beraqidah Ahlusunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, ada juga yang menganggap bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan Maulid Nabi dari kalangan Ahlusunnah adalah Syamsud Daulah1, seorang raja dari Dinasti Seljuk di Irak pada abad ke-11 M3. Syamsud Daulah melakukan peringatan Maulid Nabi atas perintah dari Nizamul Mulk1, seorang perdana menteri dan ulama terkemuka pada masa itu.
Peringatan Maulid Nabi yang dilakukan oleh Syamsud Daulah dirayakan secara besar-besaran, dengan tujuan untuk mempersatukan umat Islam yang sedang berkecamuk dalam perang Salib1. Peringatan ini juga bertujuan untuk meneguhkan kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Peringatan Maulid Nabi oleh Syamsud Daulah kemudian menyebar ke berbagai wilayah lainnya, seperti Suriah, Mesir, Turki, India, dan Indonesia3.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan Maulid Nabi adalah Khalifah Fathimiyah yang bernama Al-Mu’izz li Dinillah, yang memerintah Mesir pada abad ke-10 M. Namun, beliau beraqidah Syi’ah Ismailiyah, yang berbeda dengan mayoritas umat Islam yang beraqidah Ahlusunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, ada juga yang menganggap bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan Maulid Nabi dari kalangan Ahlusunnah adalah Syamsud Daulah, seorang raja dari Dinasti Seljuk di Irak pada abad ke-11 M.
Sumber:
(1) Ketum PBNU Jelaskan Sejarah Awal Peringatan Maulid Nabi – NU Online. https://nu.or.id/nasional/ketum-pbnu-jelaskan-sejarah-awal-peringatan-maulid-nabi-zLYN6.
(2) Sejarah Maulid Nabi Muhammad | NU Online. https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/sejarah-maulid-nabi-muhammad-kugjj.
(3) Sejarah Islam: Inilah Raja Pertama yang Merayakan Maulid Nabi | NU …. https://jatim.nu.or.id/keislaman/sejarah-islam-inilah-raja-pertama-yang-merayakan-maulid-nabi-JGgpY.
(4) Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap, 12 Rabiul Awal Kelahiran …. https://www.suara.com/news/2023/09/17/070500/sejarah-maulid-nabi-muhammad-saw-lengkap-12-rabiul-awal-kelahiran-rasulullah-hingga-tradisi.