Menu Tutup

Sejarah dan Peran Sarekat Rakyat dalam Perjuangan Rakyat Indonesia

Gerakan Sarekat Rakyat (SR) adalah salah satu gerakan perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Gerakan ini merupakan cabang dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berusaha mengorganisir massa rakyat, khususnya kaum buruh dan petani, untuk melawan eksploitasi dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial dan kaum kapitalis.

Latar Belakang

Gerakan Sarekat Rakyat (SR) lahir dari perkembangan dan perpecahan organisasi Sarekat Islam (SI), yang merupakan organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia. SI didirikan pada tahun 1912 oleh H.O.S. Tjokroaminoto, yang mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang sebelumnya dibentuk oleh H. Samanhudi pada tahun 190512. Tujuan awal SI adalah untuk memajukan kepentingan ekonomi dan sosial para pedagang Islam pribumi yang bersaing dengan pedagang Tionghoa. Namun, seiring dengan perkembangannya, SI juga menarik anggota dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk kaum buruh dan petani, dan mulai menunjukkan sikap kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda.

SI menjadi organisasi yang besar dan berpengaruh, dengan anggota mencapai lebih dari dua juta orang pada tahun 19192. SI juga memiliki sayap politik yang aktif di Volksraad (Dewan Rakyat) yang dibentuk oleh Belanda pada tahun 1918 sebagai bentuk konsesi terhadap tuntutan perwakilan rakyat. Namun, di dalam tubuh SI sendiri terdapat perbedaan pandangan dan arah perjuangan antara para pemimpin dan anggotanya. Ada yang menginginkan SI tetap sebagai organisasi sosial-ekonomi yang berbasis Islam, ada yang menghendaki SI menjadi organisasi politik yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, dan ada pula yang beraliran komunis yang mengajak SI untuk bergabung dengan gerakan revolusioner internasional.

Perkembangan

Perpecahan di dalam SI mulai terjadi pada tahun 1920, ketika PKI didirikan oleh sekelompok aktivis sosialis yang terinspirasi oleh Revolusi Rusia tahun 1917. PKI merupakan partai politik pertama di Indonesia yang secara terang-terangan menentang kolonialisme dan kapitalisme, dan menyerukan pembentukan republik rakyat Indonesia berdasarkan prinsip-prinsip komunisme. PKI juga berusaha merekrut anggota dari kalangan buruh dan petani, yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, dengan menjanjikan pembebasan dari kemiskinan dan penindasan.

Salah satu strategi PKI untuk memperluas pengaruhnya adalah dengan menyusup ke dalam SI dan membentuk sayap kiri di dalamnya. PKI berhasil mendapatkan dukungan dari sebagian besar anggota SI di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera2. PKI juga berhasil mempengaruhi beberapa tokoh SI yang berpandangan radikal, seperti Tan Malaka, Alimin, Musso, Darsono, dan Semaun. Mereka berusaha mengubah arah perjuangan SI dari nasionalis-religius menjadi sosialis-revolusioner.

Namun, upaya PKI ini mendapat tentangan dari para pemimpin SI yang moderat, seperti Tjokroaminoto, Agus Salim, Abdoel Moeis, dan Mohammad Natsir. Mereka menolak ideologi komunis yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam dan budaya Indonesia. Mereka juga khawatir bahwa gerakan revolusioner PKI akan memicu reaksi keras dari pemerintah kolonial Belanda, yang akan merugikan rakyat Indonesia.

Konflik antara sayap kanan dan sayap kiri di dalam SI semakin memuncak pada Kongres SI ke-5 di Bandung pada tahun 1921. Di kongres ini, PKI mengusulkan agar SI bergabung dengan Komintern (Komunis Internasional), sebuah organisasi yang mengkoordinasikan gerakan komunis di seluruh dunia. Usulan ini ditolak oleh mayoritas peserta kongres, yang memilih untuk mempertahankan identitas dan kemandirian SI. Akibatnya, PKI memutuskan untuk keluar dari SI dan membentuk organisasi sendiri, yaitu Sarekat Rakyat (SR)2.

SR merupakan organisasi bawahan dari PKI, yang bertugas untuk mengorganisir massa rakyat, khususnya kaum buruh dan petani, untuk melawan penjajah dan kaum kapitalis. SR memiliki struktur organisasi yang mirip dengan SI, yaitu terdiri dari cabang-cabang lokal yang tersebar di berbagai daerah. SR juga memiliki sayap politik yang aktif di Volksraad, yaitu Fraksi Komunis Indonesia (FKI), yang dipimpin oleh Semaun3.

SR berusaha menarik anggota dari kalangan rakyat bawah dengan menyuarakan isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan mereka, seperti upah minimum, hak tanah, penghapusan pajak, dan perlindungan sosial. SR juga melakukan aksi-aksi demonstrasi, mogok kerja, boikot barang-barang impor, dan sabotase terhadap perusahaan-perusahaan milik Belanda dan Tionghoa. SR juga berusaha menggalang solidaritas dengan gerakan-gerakan rakyat di luar Jawa, seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku3.

Perpecahan

Gerakan SR tidak berlangsung lama. Pada tahun 1923, PKI mengalami perpecahan internal antara kelompok sayap kanan yang dipimpin oleh Semaun dan kelompok sayap kiri yang dipimpin oleh Tan Malaka. Perpecahan ini disebabkan oleh perbedaan pandangan mengenai strategi perjuangan komunis di Indonesia. Semaun menganut aliran reformis, yang mengutamakan kerja sama dengan partai-partai nasionalis dan burjuis dalam perjuangan politik di Volksraad. Tan Malaka menganut aliran revolusioner, yang menekankan pentingnya pemberontakan bersenjata oleh rakyat melawan penjajah dan kaum kapitalis4.

Perpecahan ini juga berdampak pada SR, yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang mendukung Semaun tetap menggunakan nama SR, sedangkan kelompok yang mendukung Tan Malaka mengganti nama menjadi Partai Republik Indonesia (PRI). Kedua kelompok ini saling bersaing dalam memperebutkan pengaruh di kalangan rakyat4.

Selain itu, gerakan SR juga menghadapi tantangan dari pihak luar. Pemerintah kolonial Belanda semakin meningkatkan penindasan terhadap gerakan komunis di Indonesia. Belanda menerapkan undang-undang darurat yang memberikan wewenang kepada aparat keamanan untuk menangkap, menginterogasi, dan mengeksekusi anggota-anggota PKI dan SR tanpa proses pengadilan. Belanda juga melakukan operasi militer untuk membubarkan aksi-aksi SR di berbagai daerah4.

Di sisi lain, gerakan nasionalis Indonesia juga mulai menjauh dari gerakan komunis. Partai-partai nasionalis seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) tidak mau bersekutu dengan PKI dan SR karena khawatir akan dicap sebagai anti-agama dan anti-nasional oleh pemerintah kolonial Belanda. Partai-partai nasionalis juga merasa bahwa gerakan komunis terlalu radikal dan provokatif dalam menentang penjajah4.

Akibatnya, gerakan SR semakin terisolasi dan melemah. Pada tahun 1926-1927, PKI dan SR mencoba melakukan pemberontakan bersenjata di Jawa Barat dan Sumatera Barat. Namun, pemberontakan ini gagal total karena kurangnya persiapan, persenjataan, dan dukungan dari rakyat. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh pasukan Belanda dengan mudah, dan ribuan anggota PKI dan SR ditangkap, dibunuh, atau diasingkan.

Dampak

Gerakan SR berakhir dengan kegagalan dan kehancuran. Namun, gerakan ini tetap memiliki dampak historis bagi perjuangan rakyat Indonesia. Gerakan SR merupakan salah satu gerakan perlawanan rakyat yang paling awal dan paling besar di Indonesia. Gerakan ini juga merupakan salah satu gerakan komunis yang paling berpengaruh di Asia Tenggara. Gerakan SR menunjukkan bahwa rakyat Indonesia tidak diam dan tunduk terhadap penjajahan kolonial Belanda, tetapi berani dan gigih dalam memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan mereka.

Gerakan SR juga memberikan inspirasi dan pelajaran bagi gerakan-gerakan rakyat yang muncul kemudian. Gerakan SR mengajarkan pentingnya organisasi massa yang solid dan militan, pentingnya kesadaran politik dan ideologi yang jelas, dan pentingnya solidaritas antar-rakyat yang berbeda suku, agama, dan daerah. Gerakan SR juga mengungkapkan kelemahan-kelemahan yang harus dihindari oleh gerakan-gerakan rakyat, seperti perpecahan internal, konflik dengan gerakan-gerakan lain, dan kurangnya persiapan dan persenjataan.

Gerakan SR juga memberikan sumbangan bagi perkembangan pemikiran dan seni di Indonesia. Beberapa tokoh SR, seperti Tan Malaka, Alimin, Musso, Darsono, dan Semaun, merupakan pemikir-pemikir yang brilian dan visioner. Mereka menulis berbagai karya yang membahas tentang sejarah, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan filsafat Indonesia dari sudut pandang komunis. Beberapa karya mereka masih relevan hingga saat ini sebagai sumber ilmu pengetahuan dan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Selain itu, beberapa tokoh SR, seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Sanusi Pane, merupakan seniman-seniman yang kreatif dan inovatif. Mereka menciptakan berbagai karya sastra yang menggambarkan kehidupan dan perjuangan rakyat Indonesia dari sudut pandang realis dan humanis. Beberapa karya mereka masih dianggap sebagai karya-karya klasik dalam sastra Indonesia.

Sumber:
(1) Sarekat Islam: Latar Belakang, Perkembangan, dan Perpecahan – Kompas.com. https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/06/151727679/sarekat-islam-latar-belakang-perkembangan-dan-perpecahan.
(2) Sarekat Islam: Pendirian, Perkembangan, dan Perpecahan. https://www.kompas.com/skola/read/2020/12/21/171147069/sarekat-islam-pendirian-perkembangan-dan-perpecahan?page=all.
(3) Gerakan Sarekat Islam 1912-1921 – Repository Unja. https://repository.unja.ac.id/15543/.
(4) Sarekat Rakyat Surakarta (1923-1926) – Universitas Indonesia Library. https://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-20156935.pdf.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya