Menu Tutup

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno: Asal Usul, Kejayaan, dan Peninggalan Budaya

Kerajaan Mataram Kuno, juga dikenal sebagai Kerajaan Medang, merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara yang berdiri pada abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi. Kerajaan ini memainkan peran penting dalam perkembangan budaya, agama, dan politik di Jawa. Artikel ini akan membahas secara mendalam sejarah, masa kejayaan, serta peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno

Asal Usul dan Pendiri

Kerajaan Mataram Kuno didirikan oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya pada tahun 732 Masehi. Informasi ini diperoleh dari Prasasti Canggal yang ditemukan di kompleks Candi Gunung Wukir, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa Sanjaya adalah penerus Raja Sanna yang sebelumnya memerintah di Jawa. Setelah wafatnya Raja Sanna, Sanjaya mengambil alih kekuasaan dan mendirikan Kerajaan Mataram Kuno dengan pusat pemerintahan di Bhumi Mataram, yang kini dikenal sebagai Yogyakarta.

Dinasti yang Memerintah

Selama hampir tiga abad, Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh tiga dinasti utama:

  1. Wangsa Sanjaya: Dinasti ini beragama Hindu dan didirikan oleh Raja Sanjaya. Mereka memerintah di Jawa Tengah bagian utara.
  2. Wangsa Syailendra: Dinasti ini beragama Buddha Mahayana dan memerintah di Jawa Tengah bagian selatan. Mereka dikenal sebagai pembangun Candi Borobudur.
  3. Wangsa Isyana: Setelah perpindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur, dinasti ini didirikan oleh Mpu Sindok pada abad ke-10 Masehi. Mereka memerintah hingga runtuhnya kerajaan pada awal abad ke-11.

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno

Perkembangan Agama dan Budaya

Pada masa kejayaannya, Kerajaan Mataram Kuno menjadi pusat perkembangan agama Hindu dan Buddha di Jawa. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan berbagai candi megah seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Kerajaan ini juga menjadi pusat pembelajaran agama, menarik banyak pendeta dan cendekiawan dari berbagai wilayah.

Ekspansi Wilayah

Di bawah pemerintahan Raja Sanjaya dan penerusnya, Kerajaan Mataram Kuno berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga mencakup sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ekspansi ini tidak hanya memperkuat posisi politik kerajaan, tetapi juga meningkatkan pengaruh budaya dan agama mereka di Nusantara.

Perpindahan Pusat Kerajaan ke Jawa Timur

Alasan Perpindahan

Pada sekitar tahun 929 Masehi, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Beberapa faktor yang diduga menjadi alasan perpindahan ini antara lain:

  • Letusan Gunung Merapi: Erupsi dahsyat Gunung Merapi diperkirakan menghancurkan ibu kota kerajaan di Jawa Tengah, memaksa perpindahan pusat pemerintahan.
  • Ancaman dari Kerajaan Sriwijaya: Serangan dari Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Sumatera juga menjadi ancaman bagi stabilitas Kerajaan Mataram Kuno, sehingga perpindahan ke Jawa Timur dianggap sebagai langkah strategis.

Pembentukan Wangsa Isyana

Setelah perpindahan ke Jawa Timur, Mpu Sindok mendirikan Wangsa Isyana dan memerintah dengan gelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa. Periode ini menandai fase baru dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno, dengan pusat pemerintahan yang lebih dekat ke jalur perdagangan maritim.

Keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno

Peristiwa Pralaya Medang

Kerajaan Mataram Kuno mengalami keruntuhan pada awal abad ke-11 akibat peristiwa yang dikenal sebagai Pralaya Medang. Pada tahun 1016 Masehi, Raja Dharmawangsa Teguh mengadakan pernikahan putrinya dengan Airlangga. Namun, upacara tersebut diserang secara mendadak oleh Raja Wurawari yang bersekutu dengan Kerajaan Sriwijaya. Serangan ini menghancurkan ibu kota kerajaan dan menewaskan banyak pembesar kerajaan, termasuk Raja Dharmawangsa Teguh.

Dampak Keruntuhan

Setelah peristiwa Pralaya Medang, Kerajaan Mataram Kuno tidak mampu bangkit kembali. Namun, Airlangga, yang selamat dari serangan tersebut, kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur dan melanjutkan beberapa tradisi serta sistem pemerintahan dari Kerajaan Mataram Kuno.

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah salah satu peninggalan paling monumental dari Kerajaan Mataram Kuno. Dibangun pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra, candi ini merupakan candi Buddha terbesar di dunia dan menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Candi Prambanan

Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya. Candi ini didedikasikan untuk Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa, dengan candi utama setinggi 47 meter yang dipersembahkan untuk Dewa Siwa. Arsitektur candi yang megah dan relief-relief yang indah menggambarkan kisah Ramayana dan menjadi bukti tingginya peradaban Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Sewu

Terletak sekitar 800 meter di utara Candi Prambanan, Candi Sewu adalah kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur. Dibangun pada abad ke-8 oleh Wangsa Syailendra, kompleks ini terdiri dari satu candi utama yang dikelilingi oleh 240 candi perwara. Nama “Sewu” yang berarti seribu, meskipun jumlah candi tidak mencapai seribu, menunjukkan skala dan kemegahan kompleks ini.

Candi Plaosan

Candi Plaosan terdiri dari dua kompleks utama, yaitu Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Dibangun pada abad ke-9 oleh Rakai Pikatan dan permaisurinya, Pramodhawardhani, candi ini mencerminkan perpaduan antara arsitektur Hindu dan Buddha, simbol harmonisasi antara kedua agama pada masa itu.

Prasasti dan Artefak Lainnya

Selain candi-candi megah, Kerajaan Mataram Kuno juga meninggalkan berbagai prasasti yang menjadi sumber informasi penting tentang sejarah dan budaya kerajaan. Prasasti-prasasti seperti Prasasti Canggal, Prasasti Kalasan, dan Prasasti Mantyasih memberikan gambaran tentang struktur pemerintahan, kehidupan sosial, dan perkembangan agama pada masa itu.

Pengaruh dan Warisan Budaya Kerajaan Mataram Kuno

Perkembangan Seni dan Sastra

Pada masa Kerajaan Mataram Kuno, seni dan sastra mengalami perkembangan pesat. Karya-karya sastra seperti Kakawin Ramayana dan Arjunawiwaha ditulis pada periode ini, mencerminkan pengaruh budaya India yang kuat. Selain itu, seni pahat dan ukir berkembang dengan pesat, terlihat dari relief-relief yang menghiasi candi-candi peninggalan kerajaan.

Sistem Pemerintahan dan Hukum

Kerajaan Mataram Kuno memiliki sistem pemerintahan yang terstruktur dengan baik, dengan raja sebagai pemimpin tertinggi yang dibantu oleh para pejabat kerajaan. Hukum dan peraturan ditetapkan untuk mengatur kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, yang tercermin dalam berbagai prasasti yang ditemukan.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya