Menu Tutup

Sejarah Masuknya Islam ke DKI Jakarta

Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk DKI Jakarta. Menurut sensus BPS tahun 2010, sekitar 85,36% atau sebanyak 8.200.796 jiwa penduduk Jakarta menganut agama Islam. ¹ Namun, bagaimana sejarah masuknya Islam ke wilayah ini? Artikel ini akan membahas secara singkat tentang perkembangan Islam di Jakarta dari abad ke-15 hingga abad ke-19.

Islam di Sunda Kelapa

Islam pertama kali masuk ke Jakarta sekitar awal abad ke-15, yaitu saat wilayah ini masih bernama Sunda Kelapa dan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, penyebar agama Islam pertama di wilayah ini adalah Syekh Hasanuddin (Syekh Quro) yang datang dari Champa. Ia menikah dengan penduduk setempat dan mendirikan pondok pesantren Quro pada tahun 1428 di Tanjungpura, Karawang. ²³

Selanjutnya penyebaran Islam juga dilakukan oleh para menak Pajajaran yang telah memeluk Islam, serta para pendatang baik dari wilayah Nusantara lainnya maupun para pedagang muslim asal Cina, Gujarat, atau Arab. ² Menurut penulis sejarah Jakarta Adolf Heuken, masjid tertua di Jakarta yang saat ini masih berdiri ialah Masjid Al-Anshor yang terletak di Jl. Pengukiran II, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat Masjid ini dibangun pada pertengahan abad ke-17 oleh komunitas Khoja, yaitu para pedagang muslim India.

Islam di Jayakarta

Pada tahun 1527, Kesultanan Demak mengalahkan Kerajaan Sunda dan menjadikan wilayah Sunda Kelapa sebagai bagian dari kesultanan. Kesultanan Demak kemudian mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti kota kemenangan. Pada tahun 1529, Kesultanan Banten yang berada di barat Jayakarta mulai memperluas wilayah kekuasaannya ke timur dan memasuki Jayakarta. Pada tahun 1570, Kesultanan Banten membangun benteng di muara Ciliwung yang kemudian dinamakan Benteng Speelwijk.

Di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Kesultanan Banten semakin kuat dan memperluas kekuasaannya ke seluruh wilayah Jayakarta. Islam semakin berkembang di Jayakarta dan menjadi agama mayoritas di sana. Beberapa masjid dan makam ulama dibangun di Jayakarta sebagai pusat ibadah dan dakwah Islam.

Islam di Batavia

Pada tahun 1619, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda berhasil merebut Jayakarta dari tangan Kesultanan Banten. VOC kemudian mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan kolonial Belanda di Nusantara. Namun, pengaruh Islam tetap kuat di wilayah tersebut, terutama di kalangan masyarakat pribumi. Bahkan, VOC pun terpaksa mengakui keberadaan Islam dan memperbolehkan penduduk Batavia untuk menjalankan ibadah Islam.

Seiring berjalannya waktu, Islam semakin memperkuat pengaruhnya di Batavia. Pada abad ke-19, para ulama Islam seperti Kiai Saleh Darat dan Kiai Haji Abdul Karim Oei Kaim Tjie membawa ajaran Islam ke Batavia dan memperkuat pengaruhnya di kalangan masyarakat. Mereka juga membuka pondok pesantren sebagai pusat pendidikan Islam.

Islam di Jakarta

Pada masa penjajahan Jepang, Islam semakin diperkuat di Batavia karena Jepang membebaskan umat Islam dari segala bentuk diskriminasi. Setelah Indonesia merdeka, nama Batavia diganti menjadi Jakarta dan menjadi ibu kota negara. Islam semakin berkembang di Jakarta dan kini menjadi agama mayoritas di wilayah tersebut. Berbagai masjid, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam dibangun di Jakarta sebagai bentuk pengembangan ajaran Islam di ibu kota.

Sumber:
(1) Islam di Daerah Khusus Ibukota Jakarta – Wikipedia bahasa Indonesia …. https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta.
(2) Sejarah Masuknya Islam ke Jakarta Lengkap – Akurat.co. https://akurat.co/sejarah-masuknya-islam-ke-jakarta-lengkap.
(3) PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI JAKARTA ABAD XVII – XIX – Neliti. https://media.neliti.com/media/publications/291921-penyebaran-agama-islam-di-jakarta-abad-x-017458ff.pdf.

Posted in Keislaman

Artikel Lainnya