Masuk dan berkembangnya agama Islam di tatar Pasundan (Jawa Barat) merupakan salah satu dinamika sejarah terpenting dalam proses Islamisasi di Nusantara. Berbeda dari narasi pertempuran senjata yang kerap disalahpahami, penetrasi Islam di tanah Sunda berlangsung melalui proses damai (penetration pacifique) yang dipelopori oleh para saudagar muslim, perkawinan silang ningrat, pendirian pesantren rintisan, serta kearifan dakwah kultural para auliya yang menghormati falsafah luhur masyarakat Sunda.
Bukti Arkeologis dan Jejak Perintisan Syekh Quro (1418 M)
Jejak syiar Islam di Jawa Barat tercatat jauh sebelum berdirinya kesultanan-kesultanan pesisir. Berdasarkan naskah kuno Babad Cirebon dan Carita Purwaka Caruban Nagari, fajar dakwah di pesisir utara tatar Sunda dipelopori oleh Syekh Quro (Syekh Hasanuddin), seorang ulama terkemuka dari Campa yang berlabuh di Karawang pada tahun 1418 Masehi.
Di Karawang, Syekh Quro mendirikan pondok pesantren rintisan yang mengajarkan tilawah dan tajwid Al-Qur’an. Salah satu murid utamanya adalah Nyi Subang Larang, putri dari Ki Gedeng Tapa penguasa pelabuhan Muara Jati Cirebon. Pernikahan Nyi Subang Larang dengan penguasa Kerajaan Sunda Pajajaran, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja), melahirkan keturunan yang menjadi pilar peradaban Islam di tatar Sunda, di antaranya Raden Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana) dan Nyai Rara Santang.
Peran Sentral Sunan Gunung Jati dan Kesultanan Cirebon
Dari rahim Nyai Rara Santang yang menikah dengan Syarif Abdullah penguasa Mesir, lahirlah Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Setelah menuntut ilmu di Makkah, Baghdad, dan Campa, Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon dan meneruskan kepemimpinan pamannya (Pangeran Cakrabuana) pada tahun 1479 Masehi:
- Kemerdekaan Kesultanan Cirebon: Menjadikan Cirebon sebagai kesultanan Islam merdeka dari Pajajaran, sekaligus menjadikannya pusat koordinasi dakwah Wali Songo bagi wilayah Jawa bagian barat.
- Metode Dakwah Hikmah dan Santun: Sunan Gunung Jati menggunakan pendekatan sosial yang sangat dicintai masyarakat Sunda: membuka pos-pos pengobatan cuma-cuma, membagikan garam dan benih pertanian, serta memadukan prinsip Islam dengan kearifan lokal Sunda: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh.
- Ekspansi Dakwah ke Seluruh Tatar Sunda: Dakwah meluas secara harmonis ke Banten, Jayakarta, Cianjur, Sukabumi, Sumedang Larang, Galuh (Ciamis), hingga kaki Gunung Salak.
| Titik Episentrum Dakwah | Tokoh Pelopor | Peninggalan & Signifikansi Sejarah |
|---|---|---|
| Karawang (Pesisir Utara) | Syekh Quro (Syekh Hasanuddin) | Pesantren Quro Karawang (1418 M), pelopor institusi pendidikan Islam pertama di tanah Jawa Barat. |
| Giri Amparan Jati (Cirebon) | Syekh Datuk Kahfi (Syekh Idlafi) | Guru spiritual Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati; Kompleks Makam Astana Gunung Jati. |
| Keraton Kasepuhan & Kanoman | Pangeran Cakrabuana & Sunan Gunung Jati | Pusat tata kelola pemerintahan Islam Cirebon, Masjid Merah Panjunan, arsitektur akulturasi Jawa-Tiongkok-Arab. |
| Banten & Sunda Kelapa | Maulana Hasanuddin & Fatahillah | Pembebasan pelabuhan Jayakarta (1527 M), pendirian Kesultanan Banten maritim. |
| Priangan & Sumedang Larang | Prabu Geusan Ulun & Ratu Harisbaya | Pewaris mahkota Binokasih Pajajaran yang meneruskan kepemimpinan tatar Pasundan dalam naungan Islam. |
Transformasi Kultural: Nilai Luhur Islam dalam Jiwa Masyarakat Sunda
Keberhasilan dakwah Islam di Jawa Barat tampak pada perpaduan organik antara ajaran syariat tauhid dengan etika budaya Sunda. Ungkapan klasik para leluhur Sunda seperti “Kudu ngadek sacekna, nilas saplasna” (berlaku jujur dan adil) dan “Miasih ka nu leutik, miasih ka sasama” menemukan pembenaran teologisnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan memahami sejarah ini, masyarakat Jawa Barat dapat senantiasa merawat identitas keislaman yang ramah, toleran, dan berpegang teguh pada persatuan bangsa.