Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang berdiri pada abad ke-7 Masehi. Kerajaan ini berpusat di Palembang, Sumatera Selatan, dan memiliki pengaruh yang luas di Nusantara serta Asia Tenggara. Sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha, Sriwijaya memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia.
Asal Usul dan Pendiri Kerajaan Sriwijaya
Nama “Sriwijaya” berasal dari bahasa Sanskerta, di mana “Sri” berarti “bercahaya” atau “gemilang”, dan “Wijaya” berarti “kemenangan” atau “kejayaan”. Dengan demikian, Sriwijaya dapat diartikan sebagai “kemenangan yang gemilang”. Kerajaan ini didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa pada tahun 683 Masehi. Informasi mengenai pendirian kerajaan ini diperoleh dari Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang. Dalam prasasti tersebut, disebutkan bahwa Dapunta Hyang melakukan perjalanan suci (siddhayatra) dengan membawa 20.000 tentara dari Minanga Tamwan menuju Palembang, yang kemudian menjadi pusat kerajaan.
Silsilah Raja-Raja Kerajaan Sriwijaya
Silsilah raja-raja Sriwijaya tidak sepenuhnya terdokumentasi dengan baik, namun beberapa raja yang diketahui pernah memerintah antara lain:
- Dapunta Hyang Sri Jayanasa (683 M): Pendiri dan raja pertama Sriwijaya yang memulai ekspansi wilayah kerajaan.
- Sri Indrawarman (702 M): Raja yang dikenal menjalin hubungan diplomatik dengan Dinasti Tang di Tiongkok.
- Rudra Wikrama (728-742 M): Raja yang melanjutkan ekspansi dan memperkuat pengaruh Sriwijaya di Asia Tenggara.
- Sangramadhananjaya (775 M): Raja yang disebut dalam Prasasti Ligor, menunjukkan pengaruh Sriwijaya di Semenanjung Malaya.
- Dharanindra (778 M): Juga dikenal sebagai Rakai Panangkaran, raja yang memperluas kekuasaan hingga ke Jawa Tengah.
- Samaratungga (792 M): Raja yang dikenal sebagai pembangun Candi Borobudur di Jawa Tengah.
- Balaputradewa (856 M): Raja yang membawa Sriwijaya ke puncak kejayaan, memperkuat dominasi maritim dan hubungan internasional.
- Sri Udayadityawarman (960 M): Raja yang memerintah setelah Balaputradewa, melanjutkan kejayaan Sriwijaya.
- Sri Cudamaniwarmadewa (988 M): Raja yang dikenal menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
- Sri Marawijayatunggawarman (1008 M): Raja yang disebut dalam Prasasti Leiden, menunjukkan hubungan dengan India.
- Sri Sanggramawijayatunggawarman (1025 M): Raja yang ditawan oleh Rajendra Chola dari India Selatan, menandai awal kemunduran Sriwijaya.
Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya
Pada masa pemerintahan Balaputradewa, Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan ini menguasai jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara, termasuk Selat Malaka dan Selat Sunda, yang merupakan jalur utama perdagangan antara Tiongkok dan India. Sriwijaya juga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha, menarik banyak biksu dan cendekiawan dari berbagai negara. Hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain, seperti Dinasti Tang di Tiongkok dan Dinasti Chola di India, semakin memperkuat posisi Sriwijaya sebagai kekuatan maritim dan pusat kebudayaan di Asia Tenggara.
Kemunduran dan Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya
Kemunduran Sriwijaya dimulai pada abad ke-11, ditandai dengan serangan dari Kerajaan Chola di India Selatan pada tahun 1025 Masehi. Serangan ini mengakibatkan penawanan Raja Sri Sanggramawijayatunggawarman dan melemahnya kekuatan militer Sriwijaya. Selain itu, munculnya kerajaan-kerajaan maritim lain, seperti Kerajaan Medang di Jawa Timur, menantang dominasi Sriwijaya di wilayah tersebut. Faktor internal seperti pemberontakan daerah bawahan dan penurunan ekonomi akibat berkurangnya kontrol atas jalur perdagangan juga berkontribusi pada keruntuhan Sriwijaya. Pada abad ke-13, Sriwijaya akhirnya runtuh dan wilayahnya diambil alih oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.
Peninggalan dan Warisan Kerajaan Sriwijaya
Meskipun telah runtuh, warisan Sriwijaya masih dapat dilihat melalui berbagai peninggalan sejarah, antara lain:
- Prasasti Kedukan Bukit: Ditemukan di Palembang, berisi informasi tentang pendirian Sriwijaya oleh Dapunta Hyang.
- Prasasti Talang Tuo: Menceritakan pembangunan taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang untuk kemakmuran rakyatnya.
- Prasasti Kota Kapur: Menunjukkan ekspansi Sriwijaya ke Pulau Bangka dan ancaman terhadap mereka yang tidak tunduk pada kekuasaan Sriwijaya.
- Prasasti Telaga Batu: Berisi kutukan terhadap pejabat kerajaan yang berkhianat atau tidak setia.
- Candi Muaro Jambi: Kompleks candi Buddha yang menunjukkan pengaruh Sriwijaya dalam penyebaran agama Buddha di Sumatera.
Warisan ini menunjukkan be