Menu Tutup

Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Prasasti, Catatan Asing, dan Bukti Arkeologis”

Kerajaan Sriwijaya, yang berdiri sejak abad ke-7 Masehi, merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Keberadaannya dibuktikan melalui berbagai sumber sejarah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai sumber-sumber tersebut:

1. Prasasti-Prasasti di Dalam Negeri

Prasasti merupakan sumber primer yang memberikan informasi langsung tentang Kerajaan Sriwijaya. Beberapa prasasti penting antara lain:

  • Prasasti Kedukan Bukit (683 Masehi): Ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang, prasasti ini menceritakan perjalanan suci (siddhayatra) Dapunta Hyang yang membawa 20.000 tentara dari Minanga Tamwan dan berhasil menaklukkan beberapa daerah.
  • Prasasti Talang Tuo (684 Masehi): Ditemukan di sebelah barat Palembang, prasasti ini berisi tentang pembuatan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk kemakmuran semua makhluk.
  • Prasasti Kota Kapur (686 Masehi): Ditemukan di Pulau Bangka, prasasti ini mencatat permintaan kepada para dewa untuk menjaga kesatuan Sriwijaya dan menghukum siapa saja yang bermaksud jahat.
  • Prasasti Karang Berahi (686 Masehi): Ditemukan di Jambi, prasasti ini menegaskan kekuasaan Sriwijaya atas wilayah tersebut.
  • Prasasti Telaga Batu (tanpa tahun): Ditemukan di Palembang, prasasti ini berisi kutukan terhadap siapa saja yang tidak setia kepada raja.
  • Prasasti Palas Pasemah (tanpa tahun): Ditemukan di Lampung Selatan, prasasti ini menunjukkan ekspansi Sriwijaya ke wilayah Lampung.

2. Prasasti-Prasasti di Luar Negeri

Ekspansi dan pengaruh Sriwijaya juga tercermin dalam prasasti yang ditemukan di luar Indonesia:

  • Prasasti Ligor (775 Masehi): Ditemukan di Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan, prasasti ini menyebutkan raja Sriwijaya yang berkuasa di wilayah tersebut.
  • Prasasti Nalanda (860 Masehi): Ditemukan di India, prasasti ini mencatat pembangunan biara oleh Raja Balaputradewa untuk para pelajar dari Sriwijaya.

3. Catatan dari Sumber Asing

Selain prasasti, keberadaan Sriwijaya juga didokumentasikan dalam catatan para penjelajah dan sejarawan asing:

  • Catatan I-Tsing (671-695 Masehi): Biksu Buddha dari Tiongkok ini mencatat bahwa Sriwijaya adalah pusat pembelajaran Buddha yang penting, dengan banyak biksu dan sarjana yang belajar di sana.
  • Catatan Arab dan Persia: Para pedagang Arab menyebut Sriwijaya sebagai “Zabag” atau “Sribuza”, menggambarkannya sebagai kerajaan kaya yang menghasilkan barang-barang seperti kapur barus, cengkih, dan pala.
  • Catatan India: Prasasti Tanjore di India Selatan mencatat penaklukan Sriwijaya oleh Raja Rajendra Chola I pada abad ke-11, menunjukkan interaksi dan konflik antara kedua kerajaan.

4. Bukti Arkeologis dan Peninggalan Lainnya

Selain prasasti dan catatan tertulis, bukti arkeologis seperti reruntuhan candi, artefak, dan struktur bangunan di sekitar Palembang dan wilayah lain di Sumatera Selatan memberikan gambaran tentang kemegahan dan peradaban Sriwijaya.

Melalui berbagai sumber tersebut, kita dapat memahami peran penting Kerajaan Sriwijaya dalam sejarah maritim dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya