Menu Tutup

Tokoh Tokoh yang Ada di Mata Uang Indonesia

Mata uang Indonesia, yaitu rupiah, memiliki desain yang menampilkan gambar pahlawan nasional sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi atas jasa-jasa mereka dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan. Selain itu, gambar pahlawan nasional juga merupakan penanaman nilai-nilai kebangsaan dan simbol kedaulatan negara. Berikut adalah beberapa tokoh pahlawan nasional yang ada di mata uang Indonesia beserta sejarahnya.

Soekarno dan Mohammad Hatta (Pecahan Rp100 ribu)

Soekarno dan Mohammad Hatta adalah dua tokoh yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Soekarno yang memiliki nama asli Koesno Sosrodihardjo lahir pada 6 Juni 1901 dan menjadi presiden pertama Republik Indonesia. Mohammad Hatta lahir dengan nama Mohammad Athar pada 12 Agustus 1902 dan menjadi wakil presiden pertama Republik Indonesia. Keduanya berperan penting dalam memimpin perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda dan Jepang.

Djuanda Kartawidjaja (Pecahan Rp50 ribu)

Djuanda Kartawidjaja lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 14 Januari 1911. Beliau merupakan pahlawan kemerdekaan nasional yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.244/1963. Beliau juga menjabat sebagai perdana menteri Indonesia ke-10. Salah satu sumbangsih beliau yang sangat krusial adalah Deklarasi Djuanda 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia mencakup laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Sam Ratulangi (Pecahan Rp20 ribu)

Sam Ratulangi atau Gerungan Saul Samuel Jozias Ratulangi lahir di Tondano, Sulawesi Utara, pada 5 November 1890. Beliau dinobatkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 590 Tahun 1961. Pada masa penjajahan Jepang, Sam Ratulangi diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sesudah Negara RI terbentuk, Sam Ratulangi diangkat menjadi gubernur Sulawesi. Kiprahnya tak akan terlupakan dalam perjuangan melawan pembodohan dan kolonialisme Belanda di Manado.

Frans Kaisiepo (Pecahan Rp10 ribu)

Frans Kaisiepo lahir di Biak, Papua, pada 10 Oktober 1921. Beliau merupakan pahlawan kemerdekaan Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan NKRI di wilayah Papua Barat. Beliau juga salah satu dari empat orang yang menandatangani Piagam Perdjuangan Semesta Alam (PPSA) atau Manifesto Politik pada tanggal 17 Agustus 1959 yang menyatakan bahwa Papua Barat adalah bagian dari NKRI.

RA Kartini (Pecahan Rp5 ribu)

RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879. Beliau merupakan pahlawan nasional yang dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia. Beliau juga menulis surat-surat yang mengungkapkan pemikiran dan cita-citanya tentang kemajuan bangsa, khususnya kaum perempuan. Surat-surat tersebut kemudian diterbitkan dalam buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Jenderal Soedirman (Pecahan Rp2 ribu)

Jenderal Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 24 Januari 1916. Beliau merupakan pahlawan nasional yang menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama. Beliau memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda dalam Agresi Militer I dan II dengan semangat dan keberanian yang luar biasa. Meskipun sakit paru-paru, beliau tetap bergerilya di hutan-hutan Jawa.

Cut Nyak Dhien (Pecahan Rp1 ribu)

Cut Nyak Dhien lahir di Aceh Besar, Aceh, pada tahun 1848. Beliau merupakan pahlawan nasional yang berjuang melawan penjajah Belanda dalam Perang Aceh. Beliau adalah istri dari Teuku Umar, seorang panglima perang Aceh yang gugur dalam pertempuran. Setelah kematian suaminya, Cut Nyak Dhien melanjutkan perjuangan bersama putranya, Teuku Muhammad Daud Syah. Beliau terkenal sebagai pejuang wanita yang gigih dan tangguh.

Tjut Meutia (Pecahan Rp1 ribu)

Tjut Meutia lahir di Perlak, Aceh Timur, pada tahun 1870. Beliau merupakan pahlawan nasional yang juga berjuang melawan penjajah Belanda dalam Perang Aceh. Beliau adalah istri dari Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman, seorang ulama dan pejuang Aceh yang gugur dalam pertempuran. Setelah kematian suaminya, Tjut Meutia melanjutkan perjuangan bersama pasukannya yang terdiri dari kaum perempuan. Beliau gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng pada 24 Oktober 1910.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya