Menu Tutup

Tradisi dan Upacara Adat di Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon yang terletak di pesisir utara Jawa Barat, dikenal sebagai pusat budaya yang kaya akan tradisi dan adat istiadat. Berdiri sejak abad ke-15, Kesultanan Cirebon merupakan percampuran antara budaya Jawa, Sunda, Tionghoa, serta pengaruh Islam. Hal ini menjadikan tradisi dan upacara adat di Kesultanan Cirebon unik dan sarat akan makna simbolis. Berikut adalah beberapa tradisi dan upacara adat yang hingga kini masih dilestarikan dan menjadi daya tarik bagi masyarakat serta wisatawan.

1. Panjang Jimat: Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Upacara Panjang Jimat adalah salah satu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan secara meriah di Kesultanan Cirebon, terutama di Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Prosesi ini melibatkan arak-arakan benda pusaka yang dikenal sebagai “jimat” dan dilakukan pada malam hari. Dalam upacara ini, masyarakat mempersembahkan doa dan penghormatan sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ritual Panjang Jimat juga dipercaya sebagai bentuk permohonan keselamatan bagi masyarakat Cirebon.

2. Muludan: Perayaan Tradisional Penuh Makna

Selain Panjang Jimat, tradisi Maulid Nabi lainnya yang dikenal di Cirebon adalah Muludan. Selama bulan Rabiul Awal, pusat-pusat kesultanan seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan seperti pengajian, pertunjukan seni tradisional, dan pasar rakyat. Muludan ini tak hanya sekadar perayaan, tetapi juga simbol syukur serta sarana penyebaran nilai-nilai keislaman.

3. Nadran: Ritual Syukur Laut Masyarakat Nelayan

Upacara Nadran adalah tradisi masyarakat nelayan di Cirebon yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan laut yang melimpah. Dalam upacara ini, berbagai sesajen seperti kepala kerbau, nasi tumpeng, dan hasil bumi lainnya dihanyutkan ke laut sebagai persembahan. Nadran biasanya diadakan di berbagai desa pesisir seperti Gebang, Losari, dan Gunung Jati, dan melibatkan hampir seluruh anggota masyarakat nelayan di daerah tersebut.

4. Syawalan Gunung Jati: Ziarah dan Doa di Makam Sunan Gunung Jati

Syawalan adalah tradisi yang dilakukan pada bulan Syawal atau setelah Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat Cirebon melakukan ziarah dan berdoa di makam Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Prosesi ini diisi dengan pembacaan doa dan tahlilan sebagai bentuk penghormatan kepada Sunan Gunung Jati. Bagi masyarakat Cirebon, Syawalan juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan membangun rasa kebersamaan.

5. Rajaban: Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Tradisi Rajaban dilakukan setiap tanggal 27 Rajab sebagai peringatan atas peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Cirebon sering mengadakan ziarah ke makam-makam keramat seperti makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan di Plangon, Kecamatan Sumber. Ziarah ini tidak hanya diikuti oleh keturunan para leluhur, tetapi juga oleh masyarakat umum sebagai bentuk penghormatan dan upaya untuk memperkuat iman.

6. Ganti Walit: Penggantian Atap Makam Ki Buyut Trusmi

Ganti Walit adalah upacara adat yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dengan mengganti atap makam Ki Buyut Trusmi yang terbuat dari anyaman daun kelapa (walit). Upacara ini dilaksanakan setiap tanggal 25 bulan Maulud dan melibatkan banyak warga. Selama prosesi, warga berkumpul di area makam untuk berdoa bersama, mengingat jasa leluhur, serta menjaga kebersihan dan keindahan makam.

7. Ganti Sirap: Pergantian Atap Sirap di Makam Keramat

Berbeda dengan Ganti Walit, upacara Ganti Sirap dilakukan untuk mengganti atap makam yang terbuat dari sirap (kayu tipis) di kompleks makam keramat lainnya. Upacara ini biasanya dilaksanakan setiap empat tahun sekali dengan berbagai ritual keagamaan serta pertunjukan kesenian tradisional seperti wayang kulit dan terbang. Ganti Sirap menjadi ajang bagi masyarakat untuk menunjukkan rasa bakti kepada leluhur serta memperkuat jalinan sosial antar warga.

8. Saparan: Tradisi Bulan Safar yang Sarat Makna

Saparan adalah upacara adat yang dilakukan untuk memperingati bulan Safar, yang diyakini masyarakat sebagai bulan yang penuh ujian dan cobaan. Sebagai bentuk perlindungan, warga Cirebon melakukan berbagai ritual seperti pembuatan kue apem (ngapem) dan ngirap (penyucian diri) untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari berbagai marabahaya. Tradisi Saparan menjadi momen bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran spiritual serta menjaga hubungan baik dengan Tuhan.

9. Suroan: Peringatan Bulan Muharram dengan Bubur Suro

Upacara Suroan dilakukan pada bulan Muharram (Suro) sebagai ungkapan rasa syukur atas berbagai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam pada bulan tersebut. Salah satu tradisi dalam upacara ini adalah pembuatan bubur Suro, makanan khas yang dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan. Selain sebagai wujud rasa syukur, Suroan juga menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan dan menjaga solidaritas di antara masyarakat Cirebon.

10. Pernikahan Adat Cirebon: Prosesi Sakral Penuh Simbol

Pernikahan adat Cirebon memiliki rangkaian prosesi yang unik dan penuh simbol. Dimulai dengan acara siraman atau mandi bersama sebagai simbol pensucian diri, diikuti dengan prosesi ngerik (penghilangan rambut halus) yang melambangkan kesiapan untuk memasuki kehidupan baru. Ada juga prosesi saweran, di mana koin dan beras kuning disebarkan kepada para tamu sebagai simbol kesejahteraan. Setiap tahapan pernikahan adat ini mencerminkan kearifan lokal dan ajaran Islam yang menjadi fondasi budaya Cirebon.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya