Kiai Ma’ruf Amin, seorang ulama besar yang lahir pada 11 Maret 1943 di Tangerang, Banten, telah menorehkan jejak panjang dalam dunia keislaman di Indonesia. Sebagai tokoh yang erat kaitannya dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, Kiai Ma’ruf Amin telah memainkan peran sentral dalam pembentukan pandangan keagamaan dan sosial di tanah air.
Pendidikan awal Kiai Ma’ruf Amin dimulai di pesantren tradisional, sebuah lembaga pendidikan Islam yang menjadi pondasi keilmuannya. Pesantren Al-Anwar, Banten, merupakan tempat beliau memulai perjalanan ilmu agama yang kemudian membentuk kepribadiannya sebagai seorang ulama. Keseriusannya dalam menapaki jalan keislaman tercermin dari tekadnya untuk terus menimba ilmu.
Peran penting Kiai Ma’ruf Amin dalam NU semakin terlihat ketika beliau dipercaya menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada periode 2005-2010. Di sini, keilmuannya tidak hanya menjadi penuntun bagi para ulama dan umat Muslim, tetapi juga memberikan arah dalam menanggapi isu-isu kontemporer yang melibatkan kehidupan umat Islam.
Namun, popularitas Kiai Ma’ruf Amin mencapai puncaknya ketika beliau diangkat sebagai Rais Aam (Ketua Umum) PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) pada Muktamar NU ke-33 tahun 2015. Posisi ini menjadikan Kiai Ma’ruf sebagai pemimpin tertinggi NU, sebuah tanggung jawab besar yang diemban dengan penuh dedikasi.
Seiring berjalannya waktu, Kiai Ma’ruf Amin terus berkembang sebagai seorang cendekiawan Muslim yang tidak hanya mengabdikan diri di bidang agama, tetapi juga di berbagai sektor kehidupan. Pemahamannya yang mendalam terhadap agama Islam dipadukan dengan pandangan yang inklusif dan moderat. Beliau secara konsisten mendorong umat Islam untuk hidup berdampingan dengan masyarakat pluralis Indonesia.
Tidak hanya di dalam negeri, reputasi Kiai Ma’ruf Amin juga merambah ke tingkat internasional. Kiprahnya dalam forum-forum keislaman internasional memperkuat citra Indonesia sebagai negara dengan tradisi Islam yang toleran dan inklusif. Beliau bukan sekadar ulama nasional, melainkan juga menjadi representasi kearifan lokal dan pemikiran global.
Pada tahun 2019, Kiai Ma’ruf Amin mengukir sejarah baru dengan terpilihnya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Joko Widodo. Pencapaian ini menjadi momentum bersejarah, karena Kiai Ma’ruf Amin menjadi ulama pertama yang menjabat sebagai Wakil Presiden di Indonesia. Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan dukungan luas terhadap kepemimpinan beliau, tetapi juga mencatatkan babak baru dalam sejarah politik Indonesia yang lebih inklusif.
Sebagai Wakil Presiden, Kiai Ma’ruf Amin terus menghadirkan kontribusi positifnya. Keterlibatannya dalam merumuskan kebijakan dan memberikan pandangan keagamaan memberikan dimensi baru bagi pemerintahan. Pemikirannya yang santun, inklusif, dan moderat menjadi nilai tambah dalam menghadapi berbagai tantangan kompleks, termasuk dalam konteks penguatan ekonomi, penanganan krisis kesehatan, dan upaya menjaga keutuhan bangsa.
Dengan segala prestasi dan dedikasi yang dimilikinya, Kiai Ma’ruf Amin tidak hanya diakui sebagai ulama besar NU, tetapi juga sebagai pemimpin nasional yang memberikan inspirasi bagi banyak kalangan. Keberhasilannya dalam menggabungkan keilmuan Islam, kepemimpinan ulama, dan tanggung jawab politik tinggi menjadi cermin dari pluralitas dan toleransi yang menjadi kekuatan Indonesia sebagai bangsa.
Dalam setiap langkah perjalanan hidupnya, Kiai Ma’ruf Amin terus menunjukkan bahwa keilmuan dan spiritualitas Islam dapat bersinergi dengan tuntutan dan dinamika kehidupan modern. Ia adalah simbol dari keberagaman Indonesia yang memperkaya, bukan memecah belah. Peninggalan pemikiran dan kontribusi positifnya akan terus menginspirasi generasi-generasi selanjutnya dalam membangun Indonesia yang lebih baik, berlandaskan nilai-nilai keadilan, toleransi, dan kebinekaan.