Menu Tutup

Letnan Kolonel Untung Syamsuri: Kisah Pahlawan G-30-S PKI yang Loyal pada Pancasila

Sejarah perjuangan Indonesia untuk meraih kemerdekaan tidak terlepas dari kontribusi para pahlawan yang memegang teguh semangat Pancasila. Salah satu tokoh yang mencuat dalam peristiwa G-30-S PKI adalah Letnan Kolonel Untung Syamsuri, seorang perwira militer yang terlibat dalam peristiwa sejarah kontroversial tersebut.

Untung Syamsuri lahir pada 15 Maret 1930 di Blitar, Jawa Timur. Ia tumbuh dalam atmosfer perubahan sosial dan politik yang kental, di mana semangat nasionalisme dan keinginan untuk menghapuskan penjajahan sudah tumbuh subur di kalangan masyarakat Indonesia. Pendidikan militer Untung dimulai saat ia masuk Akademi Militer Nasional (AMN) pada tahun 1950, di mana tekadnya untuk mendedikasikan diri untuk melindungi bangsanya terus berkembang.

Peran Utama dalam G-30-S PKI

Letnan Kolonel Untung mencapai puncak popularitasnya pada tahun 1965 ketika ia terlibat dalam Gerakan 30 September – Partai Komunis Indonesia (G-30-S PKI). Meskipun peristiwa ini penuh kontroversi dan meninggalkan bekas hitam dalam sejarah Indonesia, Untung Syamsuri tercatat sebagai salah satu tokoh yang tetap setia pada ideologi Pancasila.

G-30-S PKI bermula dari ketegangan politik yang terjadi antara kelompok militer dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kekecewaan terhadap rezim Soekarno dan kebijakan-kebijakan yang dianggap merugikan bangsa membuat beberapa perwira militer, termasuk Untung, merasa perlu untuk bertindak. Pada 30 September 1965, mereka mencoba untuk menggulingkan pemerintah dalam upaya yang dikenal sebagai “Gerakan 30 September.”

Loyalitas pada Pancasila

Meskipun terlibat dalam peristiwa kontroversial ini, Untung Syamsuri selalu menegaskan bahwa niatnya adalah untuk melindungi Pancasila sebagai dasar negara. Ia tidak pernah berafiliasi sepenuhnya dengan agenda PKI dan tetap setia pada ideologi Pancasila sebagai panduan utama dalam berjuang untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Letnan Kolonel Untung memimpin pasukan yang menculik tujuh jenderal di Madiun, menuduh mereka sebagai dalang dalam upaya kudeta terhadap pemerintahan Soekarno. Aksi ini menciptakan kekacauan politik dan melibatkan banyak tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Namun, di tengah-tengah kekacauan tersebut, Untung Syamsuri terus menegaskan bahwa tujuannya adalah menjaga tegaknya Pancasila.

Pengaruh dan Akhir Hidup

Setelah G-30-S PKI gagal, Untung Syamsuri ditangkap dan diadili oleh pemerintah Orde Baru yang baru berkuasa di bawah kepemimpinan Soeharto. Ia dihukum penjara selama beberapa tahun, namun, seiring berjalannya waktu, beberapa pandangan masyarakat mulai melihat perannya sebagai bentuk perlawanan terhadap potensi ancaman terhadap Pancasila.

Letnan Kolonel Untung Syamsuri wafat pada 27 November 2004, namun, warisannya tetap hidup. Beberapa kalangan menganggapnya sebagai pahlawan yang berjuang demi keadilan dan tetap setia pada prinsip-prinsip Pancasila di tengah arus perubahan politik yang mengguncang Indonesia pada masa itu.

Kisah hidup Untung Syamsuri, meskipun kontroversial, memberikan perspektif yang kompleks tentang dinamika politik pada masa itu dan menyoroti kekuatan serta batasan Pancasila sebagai dasar negara. Melalui peran dan loyalitasnya pada Pancasila, Letnan Kolonel Untung Syamsuri memberikan warisan yang menginspirasi untuk terus menjaga keutuhan dan nilai-nilai dasar negara Indonesia.