Indonesia, yang kaya akan sejarah perjuangan kemerdekaan, tidak hanya dihiasi oleh tokoh-tokoh pria. Di antara pahlawan-pahlawan yang mempersembahkan pengorbanan mereka untuk kemerdekaan, terdapat figur tangguh bernama Maria Walanda Maramis. Pahlawan wanita ini berasal dari Minahasa, sebuah daerah di Sulawesi Utara, yang menunjukkan bahwa semangat perjuangan melintasi batasan gender.
Maria Walanda Maramis lahir pada 23 September 1872, di Tomohon, Minahasa. Dalam tinjauan awal kehidupannya, kita dapat melihat jejak perjalanan seorang perempuan yang tidak hanya berbakat intelektual, tetapi juga memiliki semangat yang kuat untuk berjuang demi keadilan dan kemerdekaan. Pendidikannya dimulai di ELS (Europese Lagere School) di Manado, dan kemudian dilanjutkan ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School) yang mencerminkan kecintaannya pada ilmu pengetahuan.
Ketertarikan Maria pada politik dan keadilan mulai terlihat saat ia terlibat dalam kegiatan sosial di Minahasa. Beliau menjadi bagian dari perkumpulan Kala Roa yang menentang kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menindas. Pada tahun 1918, Maria bergabung dengan organisasi perempuan Sarekat Islam Cabang Manado, menunjukkan kesadarannya terhadap peran perempuan dalam perjuangan melawan penjajahan.
Namun, kontribusi terbesar Maria Walanda Maramis dalam sejarah perjuangan Indonesia terjadi pada Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949. Sebagai anggota delegasi Indonesia, Maria memainkan peran kunci dalam perundingan dengan pihak Belanda. Keberaniannya dan keahliannya dalam diplomasi membuatnya diakui sebagai salah satu negosiator yang ulung.
Penting untuk mencatat bahwa Maria Walanda Maramis bukan hanya sekadar figur politik. Beliau juga dikenal sebagai seorang tokoh pendidikan dan sosial. Dalam bidang pendidikan, Maria mendirikan sekolah rakyat pertama di Minahasa, menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan taraf pendidikan masyarakat. Selain itu, Maria juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial dan amal, menunjukkan keprihatinan mendalam terhadap kesejahteraan masyarakat Minahasa.
Meskipun perjuangan Maria dalam dunia politik dan sosial sangat mengesankan, namun sayangnya, kisahnya terkadang terlupakan dalam narasi sejarah nasional. Kita perlu mengenang dan menghargai kontribusi besar dari pahlawan wanita ini, yang tidak hanya melawan penjajahan dengan pena dan kata-kata bijaknya tetapi juga dengan aksi nyata di lapangan.
Maria Walanda Maramis meninggal pada 19 Agustus 1962, tetapi warisannya tetap hidup dan memberikan inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya. Kita dapat belajar banyak dari semangatnya yang tidak pernah padam, dedikasinya terhadap pendidikan, dan ketegasannya dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia. Maria Walanda Maramis, dengan segala kebijaksanaan dan keberaniannya, adalah salah satu pahlawan wanita yang telah melangkah di jalur berbatu menuju kemerdekaan Indonesia.