Perlawanan Tionghoa di Indonesia mencatat banyak peristiwa tragis yang menjadi bagian sejarah perjuangan melawan penjajahan. Salah satu episode yang menarik perhatian adalah Tragedi Banjarmasin tahun 1859. Peristiwa ini mencerminkan ketegangan antara komunitas Tionghoa dan penguasa kolonial Belanda, yang pada waktu itu sedang berusaha mengukuhkan kekuasaannya di wilayah Nusantara.
Pada abad ke-19, Tionghoa telah menjadi bagian integral dari kehidupan di Indonesia, terutama dalam sektor perdagangan. Namun, hubungan antara komunitas Tionghoa dan Belanda tidak selalu harmonis. Tragedi Banjarmasin mencuat ketika Belanda mencoba mengeksploitasi ekonomi dan politik di wilayah tersebut, mengakibatkan perlawanan sengit dari kalangan Tionghoa.
Dalam konteks Banjarmasin, kebijakan kolonial Belanda yang merugikan ekonomi Tionghoa dan mencampuri urusan dalam komunitas tersebut memicu ketegangan yang terus tumbuh. Perlawanan tersebut tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi politik dan sosial yang kompleks.
Para pemimpin komunitas Tionghoa di Banjarmasin, yang merasa terancam oleh kebijakan-kebijakan kolonial, memutuskan untuk bersatu dan melawan penindasan tersebut. Mereka membentuk aliansi yang kuat untuk melawan hegemoni Belanda dan mempertahankan hak-hak mereka. Tragedi ini mencapai puncaknya ketika pertempuran antara pasukan Tionghoa dan Belanda pecah di Banjarmasin.
Pertempuran sengit terjadi di berbagai wilayah, menciptakan pemandangan yang penuh dengan kehancuran dan kepedihan. Kedua belah pihak mengalami kerugian besar, namun semangat perlawanan Tionghoa tetap berkobar. Mereka tidak hanya melawan untuk melindungi kepentingan ekonomi, tetapi juga untuk mempertahankan identitas dan martabat mereka.
Pertempuran di Banjarmasin pada tahun 1859 menciptakan luka yang mendalam dalam sejarah perlawanan Tionghoa di Indonesia. Meskipun perjuangan mereka tidak selalu berhasil, keberanian dan tekad komunitas Tionghoa untuk melawan penjajahan memberikan inspirasi bagi generasi selanjutnya. Tragedi Banjarmasin adalah cerminan dari ketegangan sosial dan politik yang melibatkan berbagai pihak di masa kolonial, dan menjadi bagian integral dari narasi sejarah Indonesia yang kaya dan kompleks.