Dalam lanskap penelitian akademis di tanah air, dua istilah pengindeksan yang paling sering diperbincangkan adalah SINTA dan Scopus. Keduanya kerap dijadikan tolok ukur utama produktivitas seorang ilmuwan dan kelayakan akreditasi sebuah institusi pendidikan tinggi. Meskipun sama-sama berfungsi sebagai sistem indeksasi dan penyaring mutu karya ilmiah, terdapat perbedaan fundamental antara keduanya yang perlu dipahami secara mendalam oleh para peneliti sebelum memutuskan target diseminasi riset mereka.
1. Cakupan Geografis dan Pengelola Sistem
Perbedaan paling mendasar terletak pada skala jangkauan dan otoritas pengelola. SINTA adalah platform pangkalan data ilmiah skala nasional yang dirancang dan dikelola langsung oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Kemdiktisaintek. Tujuannya adalah memetakan dan mengukur kinerja penelitian di perguruan tinggi seluruh Indonesia. Sementara itu, Scopus adalah basis data sitasi ilmiah komersial berskala global yang dikelola oleh Elsevier, salah satu penerbit akademik terbesar di dunia yang berbasis di Belanda, dengan cakupan ribuan jurnal dari berbagai belahan benua.
2. Bahasa Pengantar Naskah
Pada jurnal-jurnal terakreditasi SINTA, terutama klaster SINTA 3 hingga SINTA 6, naskah ilmiah umumnya ditulis dalam bahasa Indonesia yang baku sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), meskipun banyak jurnal SINTA 1 dan 2 yang kini mewajibkan bahasa Inggris. Di sisi lain, jurnal yang terindeks Scopus mewajibkan penggunaan bahasa internasional resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di mana lebih dari 95% naskah ditulis dalam bahasa Inggris akademik standar (academic English) yang menuntut kejelasan tata bahasa dan keterbacaan tinggi.
3. Metodologi Penilaian dan Metrik Sitasi
SINTA mengklasifikasikan jurnal ke dalam 6 tingkatan (S1 sampai S6) berdasarkan evaluasi instrumen ARJUNA yang mencakup aspek manajemen OJS dan substansi naskah. Sementara itu, Scopus menggunakan algoritma perhitungan sitasi dinamis seperti CiteScore, SCImago Journal Rank (SJR), dan Source Normalized Impact per Paper (SNIP), yang secara otomatis membagi jurnal ke dalam empat kuartil (Q1 hingga Q4) setiap tahunnya berdasarkan seberapa sering artikel jurnal tersebut dikutip oleh peneliti global.
4. Durasi Review dan Biaya Penerbitan (APC)
Secara umum, proses penelaahan di jurnal SINTA memerlukan waktu antara 1 hingga 4 bulan, dengan biaya penerbitan (Article Processing Charges/APC) yang relatif terjangkau, bahkan banyak yang membebaskan biaya sama sekali (diamond open access). Sebaliknya, proses *peer-review* di jurnal Scopus bereputasi sering kali memakan waktu lebih panjang, berkisar antara 3 bulan hingga 1 tahun. Mengenai biaya, jurnal Scopus open access ternama membebankan APC berkisar antara ratusan hingga ribuan dolar Amerika Serikat, walaupun tersedia juga jalur penerbitan tradisional bebas biaya (subscription-based).
5. Bobot Angka Kredit (KUM) dan Dampak Riset
Dari segi penilaian karir dosen (KUM), artikel di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus memiliki bobot tertinggi (hingga 40 poin untuk Q1/Q2), yang menjadi syarat mutlak pencapaian jabatan Guru Besar. Namun, dari segi kemanfaatan lokal, riset yang terbit di jurnal SINTA sering kali memiliki dampak terapan yang lebih langsung terhadap pemecahan masalah riil masyarakat dan kebijakan pembangunan nasional di Indonesia.
Pertimbangan Strategis Pemilihan Sasaran Publikasi bagi Peneliti
Bagi seorang ilmuwan atau akademisi di Indonesia, menyusun peta jalan publikasi (publication roadmap) tahunan sangat penting untuk menyeimbangkan tuntutan institusional dengan kapasitas riset yang dimiliki. Jika penelitian yang dilakukan berfokus pada isu-isu hukum adat lokal, kearifan lokal kebudayaan nusantara, atau evaluasi kebijakan pendidikan daerah tertentu, menerbitkannya di jurnal SINTA 2 atau SINTA 3 yang berbahasa Indonesia justru akan memberikan dampak nyata yang jauh lebih luas bagi pembuat kebijakan di tingkat nasional.
Sebaliknya, jika penelitian Anda mengkaji pengembangan algoritma baru, formulasi senyawa kimia sintetis, atau uji klinis medis dengan sampel universal, mengirimkannya ke jurnal Scopus Q1 atau Q2 adalah pilihan mutlak agar temuan Anda dapat dikonfirmasi, diuji ulang, dan dikembangkan oleh komunitas peneliti internasional. Keseimbangan antara publikasi berdampak lokal di SINTA dan berdampak global di Scopus mencerminkan kematangan seorang akademisi yang berakar pada kearifan bangsa namun berwawasan global.
Dukungan Fasilitas Kampus dan Insentif Publikasi
Perguruan tinggi modern di Indonesia umumnya menyediakan berbagai skema pendampingan untuk membantu sivitas akademika menembus kedua jenis jurnal ini. Klinik manuskrip (manuscript clinic), subsidi biaya uji kemiripan Turnitin, hibah proofreading bahasa Inggris oleh penerjemah tersumpah, hingga skema insentif dana tunai bagi artikel yang terbit di Scopus dan SINTA 1-2 merupakan fasilitas yang harus dimanfaatkan secara optimal oleh dosen dan mahasiswa pascasarjana.
Strategi Publikasi Kolaboratif Dosen dan Mahasiswa
Di lingkungan universitas di Indonesia, kolaborasi penulisan antara dosen dan mahasiswa merupakan motor penggerak utama publikasi ilmiah. Sering kali terjadi dilema apakah hasil tugas akhir mahasiswa harus diarahkan ke jurnal nasional SINTA atau jurnal internasional Scopus. Pendekatan terbaik adalah melakukan asesmen bersama di tahap awal bimbingan: naskah skripsi program sarjana (S1) yang memiliki relevansi kebijakan praktis sangat ideal diarahkan menuju jurnal SINTA 2 atau SINTA 3 nasional.
Sementara itu, naskah tesis magister (S2) dan disertasi doktor (S3) yang menguji model konseptual baru atau melibatkan pengolahan big data multivariat selayaknya diproyeksikan menuju jurnal internasional Scopus kuartil menengah. Pendekatan kolaboratif yang terarah ini memungkinkan dosen membimbing penulisan metodologi dan bahasa akademik, sementara mahasiswa fokus pada pengumpulan data lapangan yang akurat.
Kesimpulan
Memilih antara jurnal SINTA atau Scopus bukanlah soal mana yang lebih baik secara mutlak, melainkan tentang kesesuaian target pembaca, kematangan data riset, dan tujuan karir akademis Anda. Riset dengan konteks lokal Indonesia dapat bersinar terang di jurnal SINTA, sementara riset dengan kontribusi teoritis universal layak diperjuangkan menembus jurnal Scopus global.