Menu Tutup

6 Oktober Hari Cerebral Palsy Sedunia

Apa itu Cerebral Palsy?

Cerebral palsy adalah suatu kondisi yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk menggerakkan dan mengoordinasikan otot-otot tubuhnya. Cerebral palsy disebabkan oleh kerusakan pada otak yang terjadi sebelum, selama, atau sesudah kelahiran. Kerusakan ini dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi motorik, sensorik, kognitif, komunikasi, dan perilaku.

Cerebral palsy adalah kondisi yang bersifat permanen dan tidak dapat disembuhkan. Namun, dengan berbagai terapi dan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan individu, orang-orang dengan cerebral palsy dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan mengembangkan potensi mereaka.

Fakta-Fakta Penting tentang Cerebral Palsy

Prevalensi, Distribusi, dan Faktor Risiko

Menurut data dari World Health Organization (WHO), diperkirakan bahwa sekitar 17 juta orang di dunia memiliki cerebral palsy. Mayoritas dari mereka tinggal di negara-negara berkembang, di mana akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan masih terbatas.

Di Indonesia, jumlah orang dengan cerebral palsy belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2018 terdapat sekitar 1,2 juta orang dengan disabilitas fisik di Indonesia, yang mencakup orang-orang dengan cerebral palsy.

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya cerebral palsy antara lain adalah:

  • Prematuritas atau kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu
  • Berat badan lahir rendah atau kurang dari 2,5 kg
  • Infeksi pada ibu hamil atau bayi baru lahir
  • Kekurangan oksigen pada otak bayi saat proses kelahiran
  • Kelainan genetik atau kromosom
  • Trauma kepala pada bayi atau anak-anak

Jenis-Jenis Cerebral Palsy

Cerebral palsy dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan gejala dan tingkat keparahan yang dialami oleh penderitanya. Jenis-jenis cerebral palsy antara lain adalah:

  • Spastik: merupakan jenis cerebral palsy yang paling umum, yaitu sekitar 80% dari semua kasus. Pada jenis ini, otot-otot tubuh menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan. Spastik dapat memengaruhi satu sisi tubuh (hemiplegia), bagian bawah tubuh (diplegia), atau seluruh tubuh (quadriplegia).
  • Diskinetik: merupakan jenis cerebral palsy yang ditandai dengan gerakan-gerakan yang tidak terkontrol, seperti menggeliat, mengejang, atau bergetar. Diskinetik dapat memengaruhi wajah, tangan, kaki, atau seluruh tubuh.
  • Ataksik: merupakan jenis cerebral palsy yang jarang terjadi, yaitu sekitar 5% dari semua kasus. Pada jenis ini, koordinasi dan keseimbangan tubuh terganggu. Orang-orang dengan ataksik sering mengalami kesulitan dalam berjalan, berbicara, atau melakukan aktivitas lain yang membutuhkan gerakan halus.
  • Campuran: merupakan jenis cerebral palsy yang menggabungkan dua atau lebih jenis lainnya. Misalnya, seseorang dapat memiliki spastik dan diskinetik secara bersamaan .

Komplikasi Kesehatan

Orang-orang dengan cerebral palsy dapat mengalami berbagai komplikasi kesehatan yang berkaitan dengan kondisi mereka. Beberapa komplikasi kesehatan yang mungkin dialami antara lain adalah:

  • Gangguan penglihatan: seperti rabun jauh, rabun dekat, strabismus (mata juling), nistagmus (gerakan mata yang tidak normal), atau kebutaan.
  • Gangguan pendengaran: seperti tuli, tuli sebagian, atau tuli sensorineural (kerusakan pada saraf pendengaran).
  • Gangguan bicara: seperti disartria (kesulitan mengucapkan kata-kata), apraksia (kesulitan mengoordinasikan gerakan mulut untuk berbicara), atau afasia (kehilangan kemampuan berbahasa).
  • Gangguan kognitif: seperti keterlambatan perkembangan, gangguan belajar, gangguan perhatian, gangguan hiperaktif, atau gangguan spektrum autis.
  • Gangguan emosional: seperti depresi, kecemasan, stres, atau gangguan suasana hati.
  • Gangguan sosial: seperti isolasi, kesepian, kurangnya teman, atau diskriminasi .

Terapi dan Perawatan

Cerebral palsy tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikelola dengan berbagai terapi dan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan individu. Tujuan dari terapi dan perawatan adalah untuk meningkatkan fungsi motorik, sensorik, kognitif, komunikasi, dan perilaku, serta untuk mencegah atau mengatasi komplikasi kesehatan yang mungkin timbul.

Beberapa jenis terapi dan perawatan yang dapat diberikan antara lain adalah:

  • Terapi fisik: bertujuan untuk melatih kekuatan, fleksibilitas, keseimbangan, dan koordinasi otot-otot tubuh. Terapi fisik dapat melibatkan latihan gerak, pijat, peregangan, atau penggunaan alat bantu seperti tongkat, kursi roda, atau alat ortopedi.
  • Terapi okupasi: bertujuan untuk membantu orang-orang dengan cerebral palsy dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti makan, mandi, berpakaian, atau bermain. Terapi okupasi dapat melibatkan latihan keterampilan motorik halus, adaptasi lingkungan, atau penggunaan alat bantu seperti sendok khusus, sikat gigi elektrik, atau mainan edukatif.
  • Terapi wicara: bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan berbahasa orang-orang dengan cerebral palsy. Terapi wicara dapat melibatkan latihan pengucapan kata-kata, pemahaman makna, ekspresi emosi, atau penggunaan alat bantu seperti buku gambar, komputer suara, atau papan komunikasi.
  • Terapi perilaku: bertujuan untuk mengubah perilaku negatif yang mungkin ditunjukkan oleh orang-orang dengan cerebral palsy, seperti menangis terus-menerus, marah-marah, atau agresif. Terapi perilaku dapat melibatkan pemberian pujian, hadiah, hukuman ringan, atau teknik relaksasi.
  • Terapi musik: bertujuan untuk merangsang perkembangan otak dan meningkatkan kesejahteraan psikologis orang-orang dengan cerebral palsy. Terapi musik dapat melibatkan mendengarkan musik, bernyanyi, bermain alat musik, atau menari .

Selain terapi-terapi di atas, orang-orang dengan cerebral palsy juga dapat memerlukan perawatan medis yang berkaitan dengan kondisi mereka. Beberapa jenis perawatan medis yang dapat diberikan antara lain adalah:

  • Obat-obatan: dapat digunakan untuk mengurangi gejala cerebral palsy seperti kekakuan otot (spasme), nyeri otot (spastisitas), kejang (epilepsi), atau depresi. Beberapa contoh obat-obatan yang dapat digunakan adalah baclofen (untuk spasme), botulinum toxin (untuk spastisitas), fenitoin (untuk epilepsi), atau fluoksetin (untuk depresi).
  • Operasi: dapat dilakukan untuk memperbaiki kelainan struktural pada otak atau tulang belakang yang menyebabkan cerebral palsy. Operasi juga dapat dilakukan untuk memperbaiki kelainan pada otot atau sendi yang mengganggu gerakan tubuh. Beberapa contoh operasi yang dapat dilakukan adalah selective dorsal rhizotomy (untuk memotong saraf yang menyebabkan spastisitas), tendon release (untuk memotong tendon yang menyebabkan kontraktur), atau osteotomy (untuk memotong tulang yang menyebabkan deformitas).
  • Perawatan lain: dapat meliputi penggunaan alat bantu seperti kacamata, alat bantu dengar, gigi palsu, atau kateter, serta pemberian nutrisi yang seimbang dan cukup, pencegahan infeksi, atau imunisasi .

Cara-Cara untuk Membantu Orang-Orang dengan Cerebral Palsy

Tips bagi Keluarga dan Orang Tua

Mempunyai anak dengan cerebral palsy dapat menjadi tantangan bagi keluarga dan orang tua. Namun, dengan dukungan yang tepat, mereka dapat memberikan perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan oleh anak mereka. Berikut ini adalah beberapa tips bagi keluarga dan orang tua yang memiliki anak dengan cerebral palsy:

  • Cari informasi yang akurat tentang cerebral palsy dari sumber-sumber yang terpercaya, seperti dokter, terapis, atau organisasi yang bergerak di bidang ini. Informasi yang benar dapat membantu Anda memahami kondisi anak Anda dan menentukan langkah-langkah yang terbaik untuknya.
  • Bergabung dengan komunitas atau organisasi yang peduli terhadap orang-orang dengan cerebral palsy, baik secara online maupun offline. Anda dapat berbagi pengalaman, mendapatkan saran, atau menemukan teman sejawat yang menghadapi situasi yang sama dengan Anda.
  • Memberikan dukungan emosional dan finansial kepada anak Anda. Anak Anda membutuhkan rasa aman, percaya diri, dan dicintai oleh keluarga. Anda juga perlu mempersiapkan biaya-biaya yang diperlukan untuk terapi dan perawatan anak Anda, serta mencari bantuan dari pihak-pihak yang bersedia membantu jika diperlukan.
  • Jaga kesehatan fisik dan mental Anda sendiri. Mengurus anak dengan cerebral palsy dapat menimbulkan stres dan kelelahan bagi Anda. Anda perlu menjaga pola makan, istirahat, dan olahraga yang sehat, serta mencari waktu untuk bersantai dan menikmati hobi Anda. Anda juga dapat mencari dukungan dari keluarga, teman, atau konselor jika Anda merasa tertekan atau depresi.

Saran bagi Masyarakat Umum

Masyarakat umum juga dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan orang-orang dengan cerebral palsy. Berikut ini adalah beberapa saran bagi masyarakat umum yang ingin membantu orang-orang dengan cerebral palsy:

  • Sebarkan informasi yang positif dan edukatif tentang cerebral palsy kepada orang-orang di sekitar Anda. Anda dapat menggunakan media sosial, blog, podcast, atau media lainnya untuk menyampaikan fakta-fakta penting seputar kondisi ini, serta menginspirasi orang-orang dengan kisah-kisah sukses dari orang-orang dengan cerebral palsy.
  • Hormati hak dan martabat orang-orang dengan cerebral palsy sebagai manusia yang sama dengan Anda. Anda dapat menunjukkan sikap ramah, sopan, dan terbuka kepada mereka. Anda juga dapat melibatkan mereka dalam kegiatan sosial atau profesional yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau donasi yang berkaitan dengan cerebral palsy. Anda dapat menjadi relawan, sponsor, atau donatur untuk organisasi-organisasi yang bergerak di bidang ini. Anda juga dapat menghadiri acara-acara seperti seminar, workshop, konser, atau lomba yang bertujuan untuk menggalang dana atau kesadaran tentang cerebral palsy.
  • Hindari diskriminasi dan stigma negatif terhadap orang-orang dengan cerebral palsy. Anda tidak boleh mengejek, menghina, atau mengucilkan mereka karena kondisi mereka. Anda juga tidak boleh meragukan kemampuan atau potensi mereka karena cerebral palsy.
Posted in Ragam

Artikel Lainnya