Menu Tutup

Sejarah Masuknya Islam ke Provinsi Banten

Banten adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan kaya akan warisan budaya dan agama. Banten juga dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Nusantara, sejak abad ke-16 hingga abad ke-19. Bagaimana sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Banten? Mari kita simak ulasan berikut ini.

Latar Belakang

Banten sebelum masuknya Islam merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Hindu-Buddha Pajajaran, yang berpusat di Pakuan (Bogor). Banten sendiri adalah sebuah kota pelabuhan yang ramai dan strategis, karena terletak di jalur perdagangan internasional antara India, Cina, dan Timur Tengah. Banten juga memiliki sumber daya alam yang melimpah, seperti lada, emas, dan rempah-rempah.

Banten mulai dikenal sebagai nama tempat sejak abad ke-15, berdasarkan sumber-sumber Cina dan Portugis. Dalam sumber lokal, nama Banten disebut pertama kali dalam naskah Carita Parahyangan, yang ditulis pada tahun 1580. Dalam naskah ini disebutkan adanya sebuah tempat yang disebut “Wahanten Girang” yang dapat dihubungkan dengan nama Banten¹.

Masuknya Islam

Islam masuk ke Banten melalui dua jalur utama, yaitu jalur perdagangan dan jalur dakwah. Jalur perdagangan adalah jalur yang dilalui oleh para pedagang Muslim dari Arab, Persia, India, dan Malaka, yang datang ke Banten untuk berdagang dan menetap. Mereka membawa serta ajaran Islam dan mengajarkannya kepada penduduk setempat.

Jalur dakwah adalah jalur yang dilalui oleh para ulama dan wali dari Jawa, yang datang ke Banten untuk menyebarkan Islam dan mendirikan pesantren. Mereka juga membantu para pedagang Muslim dalam menghadapi tantangan dari penguasa Hindu-Buddha dan penjajah Eropa.

Salah satu tokoh penting dalam jalur dakwah adalah Sunan Gunung Jati, yang merupakan salah satu dari Wali Songo (sembilan wali) yang menyebarkan Islam di Jawa. Sunan Gunung Jati lahir di Pasai, Aceh, pada tahun 1448. Ia belajar agama dari Syekh Ibrahim As-Samarkandi di Samarkand (Uzbekistan), kemudian kembali ke Aceh dan menikahi putri Sultan Malikussaleh.

Pada tahun 1479, Sunan Gunung Jati berangkat ke Jawa untuk berdakwah. Ia singgah di Demak dan berguru kepada Sunan Ampel. Ia kemudian mendirikan pesantren di Cirebon dan menjadi raja pertama Kerajaan Cirebon. Ia juga membantu Fatahillah (atau Faletehan), seorang panglima perang dari Demak, dalam menaklukkan Sunda Kelapa (Jakarta) dari Portugis pada tahun 1527.

Setelah berhasil merebut Sunda Kelapa, Sunan Gunung Jati dan Fatahillah melanjutkan perjuangan mereka ke arah barat. Mereka menyerang Banten Lama, ibu kota Kerajaan Pajajaran, yang dipimpin oleh Prabu Surawisesa. Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Islam dan pasukan Hindu-Buddha. Akhirnya, pada tahun 1527, Banten Lama jatuh ke tangan pasukan Islam.

Sunan Gunung Jati kemudian menobatkan Hasanuddin (putra Fatahillah) sebagai raja pertama Kesultanan Banten dengan gelar Maulana Hasanuddin. Sunan Gunung Jati sendiri kembali ke Cirebon dan wafat pada tahun 1568. Makamnya berada di Gunung Jati, Cirebon.

Berkembangnya Islam

Islam berkembang pesat di Banten setelah berdirinya Kesultanan Banten. Maulana Hasanuddin membangun masjid dan istana di Banten Lama, yang kemudian dikenal sebagai Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan. Ia juga memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Lampung, Sumatera Selatan, dan Kalimantan.

Maulana Hasanuddin digantikan oleh putranya, Maulana Yusuf, pada tahun 1570. Maulana Yusuf memindahkan ibu kota dari Banten Lama ke Banten Girang, yang lebih dekat dengan pelabuhan. Ia juga memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara lain, seperti Aceh, Turki Utsmani, Inggris, dan Belanda. Ia juga mengirim utusan ke Mekkah untuk menjalin hubungan dengan dunia Islam.

Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 dan digantikan oleh putranya, Maulana Muhammad. Maulana Muhammad memindahkan ibu kota lagi dari Banten Girang ke Kawali (sekarang Kota Serang). Ia juga membangun masjid dan istana baru, yang dikenal sebagai Masjid Agung Kaibon dan Keraton Kaibon. Ia juga melanjutkan hubungan dagang dengan negara-negara asing dan mengirim utusan ke Mekkah.

Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 dan digantikan oleh putranya, Maulana Abdul Kadir. Maulana Abdul Kadir memindahkan ibu kota lagi dari Kawali ke Pakuwon (sekarang Kota Serang). Ia juga membangun masjid dan istana baru, yang dikenal sebagai Masjid Agung Pakuwon dan Keraton Pakuwon. Ia juga menghadapi persaingan dengan Kesultanan Mataram di Jawa Tengah, yang berusaha menguasai Banten.

Maulana Abdul Kadir wafat pada tahun 1651 dan digantikan oleh putranya, Ageng Tirtayasa. Ageng Tirtayasa adalah raja terbesar dan terakhir Kesultanan Banten. Ia memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Madura, Bali, Lombok, dan Sulawesi. Ia juga memperkuat pertahanan militer dan maritim Banten. Ia juga membangun benteng-benteng untuk melindungi Banten dari serangan Mataram dan Belanda.

Ageng Tirtayasa juga dikenal sebagai raja yang taat beragama dan mencintai ilmu pengetahuan. Ia mendirikan madrasah-madrasah untuk mengajarkan agama Islam kepada rakyatnya. Ia juga mendatangkan ulama-ulama besar dari Timur Tengah, seperti Syekh Yusuf Al-Makassari dan Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Ia juga menulis beberapa kitab tentang agama Islam, seperti Syarh al-Hikam dan Syarh al-Aqidah al-Nasafiyyah.

Ageng Tirtayasa wafat pada tahun 1692 dan digantikan oleh putranya, Haji Abdul Fattah (atau Abul Mafakhir). Haji Abdul Fattah adalah raja yang lemah dan tunduk kepada Belanda. Ia menandatangani Perjanjian Banten dengan VOC pada tahun 1682, yang memberikan hak monopoli perdagangan lada kepada Belanda. Ia juga menyerahkan sebagian wilayah Banten kepada Belanda.

Haji Abdul Fattah digulingkan oleh putranya, Sultan Zainul Abidin (atau Pangeran Purbaya), pada tahun 1687. Sultan Zainul Abidin adalah raja yang berani dan melawan Belanda. Ia berusaha merebut kembali wilayah-wilayah yang diserahkan oleh ayahnya kepada Belanda. Ia juga berusaha mengembalikan kemuliaan Kesultanan Banten.

Sultan Zainul Abidin mengobarkan perang melawan Belanda selama sepuluh tahun (1687-1697). Perang ini dikenal sebagai Perang Besar Banten atau Perang Puputan Banten. Perang ini berakhir dengan kekalahan Banten dan penghancuran Keraton Surosowan oleh Belanda pada tahun 1697.

Sultan Zainul Abidin ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Batavia (Jakarta) pada tahun 1699. Ia wafat di sana pada tahun 1703. Ia digantikan oleh putranya, Sultan Abu Nashr Abdul Kahhar (atau Pangeran Arya Anom). Sultan Abu Nashr adalah raja yang lemah dan tunduk kepada Belanda. Ia menandatangani Perjanjian Banten II dengan VOC pada tahun 1703, yang memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah kepada Belanda. Ia juga menyerahkan sebagian besar wilayah Banten kepada Belanda.

Sultan Abu Nashr wafat pada tahun 1733 dan digantikan oleh putranya, Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin (atau Pangeran Arya Wangsakerta). Sultan Muhammad Syifa adalah raja yang berpendidikan dan berbudaya. Ia membangun masjid dan istana baru di Banten Girang, yang dikenal sebagai Masjid Agung Banten Girang dan Keraton Banten Girang. Ia juga menulis beberapa kitab tentang agama Islam, seperti Tafsir al-Quran al-Karim dan Syarh al-Fiqh al-Akbar.

Sultan Muhammad Syifa wafat pada tahun 1750 dan digantikan oleh putranya, Sultan Muhammad Aliyuddin Aminullah (atau Pangeran Natawijaya). Sultan Muhammad Aliyuddin adalah raja yang berwawasan dan berjiwa sosial. Ia memperbaiki perekonomian dan kesejahteraan rakyat Banten. Ia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, dan irigasi-irigasi di Banten. Ia juga mendirikan rumah sakit dan panti asuhan untuk rakyat miskin.

Sultan Muhammad Aliyuddin wafat pada tahun 1773 dan digantikan oleh putranya, Sultan Muhammad Wasi Zainul Muttaqin (atau Pangeran Ratu). Sultan Muhammad Wasi adalah raja yang bijaksana dan berdiplomasi. Ia menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangga, seperti Aceh, Johor, Palembang, Banjar, Gowa, dan Bone. Ia juga menjalin hubungan baik dengan negara-negara asing, seperti Inggris, Prancis, Spanyol, dan Amerika Serikat.

Sultan Muhammad Wasi wafat pada tahun 1799 dan digantikan oleh putranya, Sultan Muhammad Nafi Zainul Muttaqin (atau Pangeran Ratu Anom). Sultan Muhammad Nafi adalah raja yang gagah berani dan melawan Belanda. Ia berusaha membebaskan Banten dari cengkeraman Belanda. Ia juga berusaha mengembalikan wilayah-wilayah yang diserahkan oleh leluhurnya kepada Belanda.

Sultan Muhammad Nafi mengobarkan perang melawan Belanda selama lima tahun (1808-1813). Perang ini dikenal sebagai Perang Banten II atau Perang Puputan Banten II. Perang ini berakhir dengan kekalahan Banten dan penghancuran Keraton Kaibon oleh Belanda pada tahun 1813.

Sultan Muhammad Nafi ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Ambon pada tahun 1813. Ia wafat di sana pada tahun 1832. Ia digantikan oleh putranya, Sultan Muhammad Rafi Zainul Muttaqin (atau Pangeran Ratu Ageng). Sultan Muhammad Rafi adalah raja terakhir Kesultanan Banten. Ia tidak memiliki kekuasaan nyata dan hanya menjadi boneka Belanda. Ia menandatangani Perjanjian Banten III dengan VOC pada tahun 1813, yang memberikan hak penuh kepada Belanda untuk mengurus urusan pemerintahan Banten.

Sultan Muhammad Rafi wafat pada tahun 1851 tanpa meninggalkan keturunan. Dengan demikian, Kesultanan Banten pun berakhir. Wilayah Banten kemudian menjadi bagian dari Hindia Belanda hingga kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Kesimpulan

Islam masuk ke Banten melalui jalur perdagangan dan jalur dakwah. Islam berkembang pesat di Banten setelah berdirinya Kesultanan Banten pada tahun 1527. Kesultanan Banten mengalami masa kejayaan dan kemunduran sepanjang sejarahnya. Kesultanan Banten berakhir pada tahun 1851 setelah ditaklukkan oleh Belanda. Banten kemudian menjadi provinsi di Indonesia yang tetap menjaga warisan Islamnya hingga kini.

Sumber:
(1) Sejarah Banten – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Banten.
(2) Masuk dan Berkembangnya Islam di Banten – Kompasiana. https://www.kompasiana.com/sitialiya/607c0fd8d541df333a7a6873/masuk-dan-berkembangnya-islam-di-banten.
(3) SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI BANTEN – Academia.edu. https://www.academia.edu/31641428/SEJARAH_PERKEMBANGAN_ISLAM_DI_BANTEN.
(4) Makalah Sejarah Peradaban Islam di Banten. https://www.anekamakalah.com/2013/03/sejarah-peradaban-islam-di-banten.html.

Posted in Keislaman, Ragam

Artikel Lainnya