Nusantara adalah sebutan untuk wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera hingga Papua, yang kini menjadi bagian dari negara Indonesia. Nusantara memiliki kekayaan alam yang melimpah, terutama rempah-rempah, yang menarik perhatian bangsa-bangsa Eropa sejak abad ke-15. Bangsa-bangsa Eropa yang datang pertama kali ke Nusantara antara lain Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Mereka memiliki berbagai motif dan dampak dalam menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Portugis: Penjelajah dan Penakluk Pertama
Portugis adalah bangsa Eropa yang paling pertama masuk ke Nusantara setelah mengintari benua Afrika. Mereka dipimpin oleh Vasco da Gama, yang berhasil mencapai India pada tahun 1498. Dari India, mereka mendengar tentang keberadaan rempah-rempah di Maluku, yang merupakan sumber utama pala dan cengkih. Maka, pada tahun 1511, armada Portugis di bawah komando Alfonso de Albuquerque menyerang dan menaklukkan Malaka, sebuah pelabuhan penting yang menguasai perdagangan di Asia Tenggara. Dari Malaka, Portugis mengirimkan beberapa ekspedisi ke Maluku, dan berhasil mendirikan benteng dan pos perdagangan di Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda. Portugis juga berusaha menyebarkan agama Katolik di Nusantara, dengan mendirikan gereja-gereja dan sekolah-sekolah misi.
Portugis tidak hanya berdagang dan beragama di Nusantara, tetapi juga terlibat dalam konflik politik antara kerajaan-kerajaan setempat. Portugis bersekutu dengan Ternate melawan Tidore, yang didukung oleh Spanyol. Portugis juga bersaing dengan Aceh, yang merupakan kerajaan Islam terkuat di Sumatera. Selain itu, Portugis juga menghadapi perlawanan dari rakyat dan penguasa lokal, yang tidak senang dengan sikap sombong dan sewenang-wenang mereka. Salah satu contoh perlawanan tersebut adalah Pemberontakan Gowa melawan Portugis pada tahun 1539.
Spanyol: Penjelajah Samudera Pasifik
Spanyol masuk ke Nusantara setelah mengintari Benua Amerika dan mengarungi Samudera Pasifik. Mereka dipimpin oleh Ferdinand Magellan, yang berlayar dari Spanyol pada tahun 1519 dengan tujuan mencari jalan baru menuju Asia. Magellan berhasil menemukan Selat Magellan di ujung selatan Amerika Selatan, dan melanjutkan perjalanannya ke arah barat. Pada tahun 1521, ia tiba di Filipina, sebuah kepulauan yang belum dikenal oleh bangsa Eropa. Di sana, ia terlibat dalam pertempuran dengan raja setempat, Lapu-Lapu, dan gugur sebagai korban. Namun, sebagian dari awak kapalnya berhasil melanjutkan perjalanan hingga kembali ke Spanyol pada tahun 1522, dengan membawa rempah-rempah dari Maluku. Mereka menjadi orang-orang pertama yang mengelilingi dunia dengan kapal.
Spanyol kemudian mengklaim Filipina sebagai jajahannya, dan menjadikannya sebagai basis untuk mengembangkan perdagangan dan penyebaran agama Katolik di Asia Tenggara. Spanyol juga mencoba menandingi Portugis di Maluku, dengan mendukung Tidore melawan Ternate. Namun, persaingan antara Spanyol dan Portugis berakhir pada tahun 1529, ketika Spanyol menjual haknya atas Maluku kepada Portugis dengan harga 350 ribu ducat (mata uang emas). Sejak itu, Spanyol hanya fokus pada Filipina sebagai jajahannya di Asia Tenggara.
Belanda: Pendiri VOC dan Penguasa Nusantara
Belanda pertama kali mendarat di Banten pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Mereka datang dengan tujuan mencari rempah-rempah dan mengusir Portugis dari Nusantara. Untuk mencapai tujuan tersebut, Belanda membentuk sebuah perusahaan dagang bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada tahun 1602, yang diberi hak monopoli perdagangan dan kekuasaan politik di Asia oleh pemerintah Belanda. VOC kemudian membangun benteng-benteng dan kantor-kantor dagang di berbagai tempat di Nusantara, seperti Jakarta, Makassar, Palembang, Jambi, Banjarmasin, dan Maluku. VOC juga menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lokal, baik dengan cara bersekutu, berdagang, maupun berperang.
Salah satu contoh hubungan antara VOC dan kerajaan lokal adalah Perjanjian Bongaya pada tahun 1667, yang mengakhiri perang antara VOC dan Gowa. Dalam perjanjian tersebut, Gowa menyerahkan sebagian besar wilayahnya kepada VOC, dan mengakui kedaulatan VOC di Sulawesi Selatan. Perjanjian ini juga membatasi hak Gowa untuk berdagang dengan bangsa asing lainnya. Perjanjian ini merupakan salah satu bentuk campur tangan VOC dalam urusan politik dan ekonomi kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Inggris: Pesaing dan Sekutu Belanda
Inggris juga tertarik dengan rempah-rempah di Nusantara, dan mulai mengirimkan armada-armadanya ke sana pada awal abad ke-17. Inggris bersaing dengan Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, terutama di Maluku. Inggris mendirikan pos-pos dagang di Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda, yang sering diserang oleh Belanda. Konflik antara Inggris dan Belanda mencapai puncaknya pada tahun 1623, ketika terjadi pembantaian yang dikenal sebagai Peristiwa Amboyna. Dalam peristiwa tersebut, Belanda menangkap dan mengeksekusi sejumlah pedagang Inggris yang diduga berkomplot untuk merebut benteng Belanda di Ambon.
Akibat dari peristiwa tersebut, Inggris mundur dari Maluku dan memusatkan perhatiannya pada India sebagai jajahannya di Asia. Namun, Inggris tidak sepenuhnya meninggalkan Nusantara. Mereka masih mempertahankan pos-pos dagangnya di Sumatera, seperti Bengkulu dan Padang. Inggris juga sempat menguasai Jakarta pada tahun 1811-1816, ketika Belanda diserbu oleh Prancis. Pada masa itu, Inggris dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles, yang dikenal sebagai pendiri Singapura. Raffles melakukan beberapa reformasi di Jawa, seperti menghapus sistem tanam paksa dan mengadakan penelitian tentang sejarah dan budaya Jawa.
Kesimpulan
Bangsa-bangsa Eropa datang ke Nusantara dengan berbagai motif, seperti mencari rempah-rempah, menyebarkan agama Kristen, menaklukkan wilayah baru, dan mendapatkan kekayaan. Mereka juga membawa berbagai dampak bagi kerajaan-kerajaan dan masyarakat di Nusantara, baik positif maupun negatif. Dampak positif antara lain adalah terbukanya hubungan dagang dan diplomasi antara Nusantara dan dunia luar, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dampak negatif antara lain adalah terjadinya eksploitasi sumber daya alam dan manusia, serta terpecah-belahnya kesatuan politik dan budaya Nusantara.
Sumber:
(1) Sejarah Latar Belakang Kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia – Tirto.ID. https://tirto.id/sejarah-latar-belakang-kedatangan-bangsa-eropa-ke-indonesia-ghnZ.
(2) Kedatangan Bangsa Eropa ke Nusantara – Kompas.com. https://www.kompas.com/skola/read/2022/08/22/120000569/kedatangan-bangsa-eropa-ke-nusantara-.
(3) Sejarah Kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia (Nusantara) Singkat. https://ensiklopediasli.blogspot.com/2015/06/sejarah.kedatangan.bangsa.eropa.ke.nusantara.html.
(4) Sejarah Kedatangan Bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara. https://vanlith1.sdstrada.sch.id/2023/03/14/kedatangan-bangsa-bangsa-eropa-ke-nusantara/.
(5) undefined. https://t.me/kompascomupdate.