Menu Tutup

Philip Christison: Panglima Pasukan Sekutu di Indonesia

Philip Christison adalah seorang perwira Angkatan Darat Inggris yang pernah bertugas di Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Ia adalah Panglima Pasukan Sekutu di Indonesia pascaproklamasi kemerdekaan dan terlibat dalam Pertempuran Surabaya pada November 1945. Artikel ini akan membahas latar belakang, peran, dan kiprah Philip Christison dalam sejarah Indonesia.

Latar Belakang

Philip Christison lahir pada 17 November 1893 di Edinburgh, Skotlandia. Ia merupakan putra dari Sir Alexander Christison dan Florence. Ia bersekolah di Edinburgh Academy dan University College di Oxford, dan menjadi kadet di Officer Training Corps (OTC). Ia menjadi sukarelawan untuk Angkatan Darat Inggris pada Perang Dunia I dan mendapat berbagai promosi pangkat. Ia juga menikah dengan Dorothy Mary Hutton pada 1919 dan memiliki empat anak.

Pada Perang Dunia II, Christison bertugas di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Burma. Ia menjadi komandan dari Divisi India ke-25 dan Korps XIV. Ia berhasil memimpin pasukannya dalam pertempuran melawan Jepang dan mendapat penghargaan dari Raja George VI. Ia juga menjadi anggota dari Order of the Bath, Order of the British Empire, dan Order of St Michael and St George.

Peran

Pada Agustus 1945, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, Christison ditunjuk sebagai Panglima Pasukan Sekutu di Indonesia (AFNEI) yang bertanggung jawab untuk menerima penyerahan Jepang, membebaskan tawanan perang Sekutu, dan menjaga ketertiban di wilayah Indonesia. Ia tiba di Jakarta pada 29 September 1945 bersama dengan pasukan Inggris, India, Australia, dan Belanda.

Christison menghadapi situasi yang sulit karena Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dan membentuk pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Pihak Republik menginginkan pengakuan dari Sekutu dan penarikan pasukan Belanda yang ingin mengembalikan koloninya. Sementara itu, pihak Jepang masih memiliki kekuatan militer yang besar di Indonesia dan bersedia membantu Republik dalam melawan Belanda.

Christison berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan pihak Republik dan menghindari konfrontasi dengan Belanda. Ia mengadakan pertemuan dengan Soekarno dan Hatta pada Oktober 1945 dan menyatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk mengintervensi urusan politik Indonesia. Ia juga mengizinkan pihak Republik untuk mengambil alih fasilitas-fasilitas sipil yang ditinggalkan oleh Jepang. Namun, ia tetap menegaskan bahwa ia harus menjalankan tugasnya sebagai Panglima Pasukan Sekutu sesuai dengan instruksi dari London.

Kiprah

Salah satu kiprah terbesar Philip Christison dalam sejarah Indonesia adalah perannya dalam Pertempuran Surabaya pada November 1945. Pertempuran ini terjadi karena adanya ketegangan antara pihak Republik yang didukung oleh Jepang dan pihak Belanda yang didukung oleh Inggris. Pertempuran ini dimulai ketika pasukan Belanda mencoba untuk mengambil alih senjata-senjata Jepang yang disimpan di gudang-gudang di Surabaya. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari rakyat Surabaya yang bersenjatakan bambu runcing dan senapan-senapan sisa Jepang.

Christison berada di Surabaya saat pertempuran meletus. Ia berusaha untuk menenangkan situasi dengan mengirimkan ultimatum kepada pihak Republik untuk menyerahkan senjata-senata mereka kepada Sekutu dalam waktu 24 jam atau menghadapi serangan udara. Namun, ultimatum ini ditolak oleh pihak Republik yang bersikeras untuk mempertahankan kemerdekaan mereka. Christison kemudian memerintahkan pasukan Sekutu untuk menyerang Surabaya dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur, tank-tank, dan artileri.

Pertempuran Surabaya berlangsung selama tiga minggu dan menelan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Pihak Republik berhasil mempertahankan Surabaya dengan gigih dan heroik, meskipun menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar dari pihak Sekutu. Namun, akhirnya mereka terpaksa mundur dari Surabaya karena kehabisan amunisi dan bantuan. Christison berhasil menguasai Surabaya pada 20 November 1945 dan mengakhiri pertempuran.

Pertempuran Surabaya memiliki dampak yang besar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pertempuran ini menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia bersatu dan berani dalam mempertahankan kemerdekaannya. Pertempuran ini juga menggugah semangat perlawanan di daerah-daerah lain di Indonesia. Pertempuran ini juga mempengaruhi sikap Christison terhadap pihak Republik. Ia mengakui bahwa pihak Republik memiliki legitimasi politik dan dukungan rakyat yang luas. Ia juga menyadari bahwa pihak Belanda tidak dapat mengembalikan kekuasaannya di Indonesia tanpa perang yang berkepanjangan.

Penutup

Philip Christison meninggalkan Indonesia pada Januari 1946 dan kembali ke Inggris. Ia pensiun dari Angkatan Darat pada 1947 dan menjadi anggota Dewan Bangsawan pada 1958. Ia meninggal pada 21 Desember 1974 di usia 81 tahun.

Philip Christison adalah salah satu tokoh asing yang berperan penting dalam sejarah Indonesia. Ia adalah saksi dari perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaannya. Ia juga adalah salah satu orang yang berusaha untuk menjaga hubungan baik antara Indonesia dan Inggris, meskipun harus menghadapi tekanan dari Belanda. Ia adalah seorang panglima yang profesional, bijaksana, dan berwibawa.

Sumber:
(1) Philip Christison, Panglima Pasukan Sekutu di Indonesia – Kompas.com. https://www.kompas.com/stori/read/2021/08/20/090000079/philip-christison-panglima-pasukan-sekutu-di-indonesia.
(2) Revolusi Nasional Indonesia – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia …. https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Nasional_Indonesia.
(3) Materi Philip Christinson – Kelas 11 Sejarah Indonesia – Zenius Education. https://www.zenius.net/materi-belajar/sejarah-indonesia-lp15429/?topic=philip-christinson-lp16033.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya