Menu Tutup

Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Kejayaan Maritim Nusantara

Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar yang pernah ada di Nusantara, khususnya di wilayah Sumatera, Indonesia. Berdiri sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi, Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat kekuatan ekonomi, politik, dan agama di Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya, yang pada masa itu mencakup sebagian besar wilayah Asia Tenggara, memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan peradaban di wilayah ini, termasuk dalam penyebaran agama Buddha, pengembangan perdagangan internasional, serta kontribusinya dalam pembentukan identitas kebudayaan lokal.

Sejarah Awal dan Asal Usul Nama Sriwijaya

Asal Usul Nama “Sriwijaya”

Nama “Sriwijaya” berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “Sri” yang berarti bercahaya atau kemuliaan, dan “Wijaya” yang berarti kemenangan atau kejayaan. Secara harfiah, Sriwijaya dapat diartikan sebagai “kemenangan yang cemerlang.” Nama ini bukan sekadar nama, melainkan menggambarkan kekuatan dan kejayaan kerajaan tersebut yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan. Bukti tertulis mengenai keberadaan Kerajaan Sriwijaya ditemukan dalam prasasti-prasasti yang tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, dan bahkan di Semenanjung Malaya.

Prasasti-Prasasti Penting yang Menandakan Keberadaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya pertama kali dikenal dari berbagai prasasti yang ditemukan, antara lain:

  • Prasasti Kedukan Bukit (682 M): Prasasti ini ditemukan di Palembang dan merupakan salah satu bukti tertua mengenai keberadaan Sriwijaya. Prasasti ini menyebutkan adanya seorang raja bernama Dapunta Hyang yang melakukan perjalanan suci (siddhayatra) untuk memperluas kekuasaannya.
  • Prasasti Talang Tuo (684 M): Ditemukan di dekat Palembang, prasasti ini menyebutkan tentang pembangunan taman oleh Raja Sriwijaya sebagai tempat peristirahatan dan juga menunjukkan kepedulian raja terhadap kesejahteraan rakyatnya.
  • Prasasti Kota Kapur (686 M): Ditemukan di Pulau Bangka, prasasti ini menunjukkan ambisi ekspansi Sriwijaya di wilayah Nusantara, terutama dalam mengamankan rute perdagangan di Selat Malaka dan menguasai Pulau Jawa.

Berdasarkan prasasti-prasasti tersebut, dapat diketahui bahwa Sriwijaya tidak hanya berfokus pada kekuatan politik dan militer, tetapi juga menjunjung tinggi nilai spiritual dan kesejahteraan rakyatnya.

Kejayaan dan Ekspansi Wilayah Sriwijaya

Perdagangan dan Pengaruh Maritim Sriwijaya

Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya menguasai jalur perdagangan yang sangat strategis, yaitu Selat Malaka dan Selat Sunda. Jalur ini menjadi penghubung penting antara India dan Tiongkok, sehingga Sriwijaya memainkan peran penting dalam perdagangan internasional pada masa itu. Para pedagang dari berbagai negara, termasuk Arab, India, dan Tiongkok, berlabuh di pelabuhan Sriwijaya, yang tidak hanya menjadi pusat perdagangan tetapi juga tempat bertemunya berbagai kebudayaan dan ideologi.

Dengan menguasai jalur perdagangan ini, Sriwijaya mampu memungut pajak dan tarif dari kapal-kapal yang melintasi wilayahnya. Hal ini membuat kerajaan tersebut kaya dan berpengaruh. Selain itu, Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara di sekitarnya, termasuk Tiongkok, yang terbukti dari catatan-catatan sejarah Tiongkok tentang pengiriman utusan dari Sriwijaya ke istana Tiongkok.

Ekspansi Wilayah dan Keberhasilan Militer

Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan yang kuat secara militer. Mereka memiliki angkatan laut yang tangguh yang digunakan untuk mengamankan wilayah perairan dan rute perdagangan yang dikuasainya. Selain itu, Sriwijaya juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di sekitar Sumatera dan Semenanjung Malaya, termasuk wilayah Thailand bagian selatan.

Ekspansi wilayah Sriwijaya tidak hanya bertujuan untuk memperluas kekuasaannya, tetapi juga untuk mengamankan jalur perdagangan di Asia Tenggara. Dalam perkembangannya, Sriwijaya berhasil memperluas pengaruhnya ke wilayah Jawa, Kalimantan, dan bahkan Filipina bagian selatan. Kejayaan ini menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan yang sangat disegani di Asia Tenggara.

Pengaruh Agama Buddha di Sriwijaya

Pusat Penyebaran Agama Buddha di Asia Tenggara

Sriwijaya bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara. Banyak biksu dari berbagai negara datang ke Sriwijaya untuk belajar, termasuk biksu terkenal asal Tiongkok, I-Tsing, yang mengunjungi Sriwijaya pada abad ke-7. Dalam catatannya, I-Tsing menggambarkan Sriwijaya sebagai pusat pembelajaran agama Buddha yang maju dan dihormati.

Sriwijaya juga membangun banyak vihara dan pusat keagamaan lainnya. Kerajaan ini menjalin hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan Buddha lainnya, seperti Nalanda di India. Pengaruh agama Buddha yang kuat di Sriwijaya turut membentuk identitas kebudayaan kerajaan ini dan meninggalkan banyak peninggalan sejarah dalam bentuk candi dan arca Buddha.

Penurunan dan Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya

Faktor Internal dan Eksternal dalam Keruntuhan

Meskipun sempat mencapai puncak kejayaan, Kerajaan Sriwijaya mulai mengalami kemunduran pada abad ke-11. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keruntuhan Sriwijaya meliputi:

  • Serangan dari Kerajaan Chola: Pada tahun 1025, Sriwijaya diserang oleh Kerajaan Chola dari India Selatan. Serangan ini menghancurkan pelabuhan utama Sriwijaya dan melemahkan kekuatan ekonominya.
  • Persaingan dengan Kerajaan-Kerajaan Lain: Persaingan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti Kerajaan Kediri dan Singasari di Jawa, turut melemahkan posisi Sriwijaya. Kediri dan Singasari yang semakin kuat mulai mengambil alih jalur perdagangan yang dikuasai Sriwijaya.
  • Perubahan Jalur Perdagangan: Perubahan arah jalur perdagangan dunia turut mempengaruhi Sriwijaya. Ketergantungan Sriwijaya pada jalur perdagangan laut membuatnya rentan terhadap perubahan ini, terutama dengan berkembangnya jalur perdagangan alternatif yang tidak melewati wilayah kekuasaan Sriwijaya.

Dampak dan Warisan Kerajaan Sriwijaya

Setelah runtuhnya Sriwijaya, pengaruhnya tetap terasa di wilayah Nusantara. Warisan Sriwijaya meliputi peninggalan budaya, agama, dan sejarah yang masih ada hingga saat ini. Kejayaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha menjadi cikal bakal bagi kebudayaan Melayu dan Nusantara. Jejak Sriwijaya juga masih bisa ditemukan dalam arsitektur dan kebudayaan di wilayah Sumatera, serta dalam cerita-cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya