Tektonisme adalah salah satu proses alam endogen yang menyebabkan terjadinya perubahan letak lapisan permukaan bumi. Perubahan ini dapat berupa pengangkatan, penurunan, lipatan, atau patahan pada struktur tanah di suatu daerah. Tektonisme dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik yang menyusun kerak bumi. Tektonisme dapat terjadi secara vertikal (ke atas atau ke bawah) maupun horizontal (mendatar). Tektonisme dapat membentuk berbagai bentang alam, seperti pegunungan, lembah, danau, pulau, dan lain-lain. Tektonisme juga dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan dan kehidupan manusia, baik positif maupun negatif.
Jenis-Jenis Tektonisme
Berdasarkan luas wilayah yang dipengaruhi dan jenis gerakannya, tektonisme dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu epirogenesa dan orogenesa.
Epirogenesa
Epirogenesa adalah proses perubahan bentuk daratan yang disebabkan oleh tenaga lambat dari dalam bumi dengan arah vertikal, baik ke atas maupun ke bawah melewati daerah yang sangat luas. Epirogenesa dapat mengakibatkan terjadinya patahan dan lipatan pada lapisan batuan. Epirogenesa sendiri terbagi menjadi dua macam, yaitu epirogenesa positif dan epirogenesa negatif.
Epirogenesa Positif
Epirogenesa positif adalah gerakan yang mengakibatkan turunnya lapisan kulit bumi, sehingga permukaan air laut terlihat naik dan daratan menurun. Akibat gerakan ini adalah tenggelamnya pulau-pulau atau daratan yang rendah. Contoh epirogenesa positif adalah tenggelamnya Pulau Jawa bagian utara akibat penurunan permukaan bumi sekitar 1-2 meter per abad 1.
Epirogenesa Negatif
Epirogenesa negatif adalah gerakan yang mengakibatkan naiknya lapisan kulit bumi, sehingga permukaan air laut terlihat turun dan daratan menaik. Akibat gerakan ini adalah munculnya pulau-pulau baru atau daratan yang tinggi. Contoh epirogenesa negatif adalah munculnya Pulau Jawa bagian selatan akibat pengangkatan permukaan bumi sekitar 4-5 meter per abad 1.
Orogenesa
Orogenesa adalah pergerakan lempeng tektonik yang sangat cepat dan meliputi wilayah yang sempit. Orogenesa biasanya disertai proses pelengkungan (warping) dan lipatan (folding) yang terjadi akibat adanya tekanan pada arah mendatar pada lapisan batuan yang lentur. Lipatan terbentuk dari dua bentuk dasar yaitu sinklinal dan antiklinal. Sinklinal adalah lipatan yang cekung ke bawah, sedangkan antiklinal adalah lipatan yang cekung ke atas.
Orogenesa juga dapat menyebabkan terjadinya patahan (faulting) dan retakan (jointing) akibat tekanan horizontal dan vertikal yang sangat kuat. Patahan adalah permukaan bumi hasil dari gerakan tekanan horizontal dan vertikal yang menyebabkan lapisan bumi menjadi retak dan patah 2. Patahan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu horst dan graben (slenk).
Horst adalah bagian tanah yang naik di antara dua patahan, sedangkan graben adalah bagian tanah yang turun di antara dua patahan 3. Retakan adalah celah-celah sempit pada batuan akibat tekanan dari dalam bumi 3. Salah satu contoh hasil orogenesa adalah deretan Lekukan Mediterania 2.
Dampak Tektonisme bagi Lingkungan
Tektonisme dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan dan kehidupan manusia, baik positif maupun negatif. Berikut adalah beberapa dampak tektonisme bagi lingkungan:
Dampak Positif
- Tektonisme dapat membentuk berbagai bentang alam yang indah dan menarik, seperti pegunungan, lembah, danau, pulau, dan lain-lain. Bentang alam ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata, pertanian, perikanan, dan lain-lain.
- Tektonisme dapat menyediakan sumber daya alam yang bermanfaat, seperti mineral, batubara, minyak bumi, gas alam, dan lain-lain. Sumber daya alam ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, energi, dan lain-lain.
- Tektonisme dapat mempengaruhi iklim dan cuaca di suatu daerah. Misalnya, pegunungan yang terbentuk akibat tektonisme dapat menghalangi angin laut sehingga menyebabkan hujan di sebelah barat pegunungan (daerah hulu) dan kering di sebelah timur pegunungan (daerah hilir).
Dampak Negatif
- Tektonisme dapat menyebabkan bencana alam yang merugikan, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, tanah longsor, dan lain-lain. Bencana alam ini dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kerugian materiil, korban jiwa, dan trauma psikologis bagi manusia.
- Tektonisme dapat menyebabkan perubahan ekosistem yang tidak sesuai dengan kondisi aslinya. Misalnya, tenggelamnya pulau-pulau akibat epirogenesa positif dapat mengancam keberadaan flora dan fauna yang hidup di pulau tersebut. Munculnya pulau-pulau baru akibat epirogenesa negatif juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut di sekitarnya.
- Tektonisme dapat menyebabkan konflik sosial antara manusia yang tinggal di daerah yang terkena dampak tektonisme. Misalnya, pengungsi dari daerah yang terkena bencana alam akibat tektonisme dapat menimbulkan masalah sosial di daerah tujuan pengungsian. Konflik juga dapat terjadi antara negara-negara yang memiliki klaim atas wilayah yang terbentuk akibat tektonisme.
Sumber:
(1) Tektonisme: Pengertian, Jenis, dan Dampaknya – Kompas.com. https://www.kompas.com/skola/read/2022/09/05/163000169/tektonisme–pengertian-jenis-dan-dampaknya.
(2) Tektonisme – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Tektonisme.
(3) Pengertian Tektonisme dan Dampaknya bagi Lingkungan. https://kumparan.com/berita-update/pengertian-tektonisme-dan-dampaknya-bagi-lingkungan-1ww9MNa5rEZ.