Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah variasi dan variabilitas kehidupan di Bumi. Keanekaragaman hayati biasanya merupakan ukuran variasi pada tingkat genetik, spesies, dan ekosistem1
Keanekaragaman hayati merupakan dasar kehidupan di bumi yang memberi makan dan kehidupan manusia2
Keanekaragaman hayati perlu dipelajari dan dilestarikan karena memiliki nilai-nilai ekologis, ekonomis, sosial, budaya, dan estetika3
Keanekaragaman Hayati Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Indonesia memiliki sekitar 10% dari seluruh spesies tumbuhan di dunia, 12% dari spesies mamalia, 16% dari spesies reptil dan amfibi, 17% dari spesies burung, dan 25% dari spesies ikan laut1
Indonesia juga memiliki berbagai jenis ekosistem seperti hutan hujan tropis, hutan mangrove, padang rumput, rawa-rawa, danau, sungai, terumbu karang, dan laut dalam4
Keanekaragaman hayati Indonesia dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti letak geografis, iklim, sejarah geologi, dan interaksi antara spesies.
Indonesia terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Pasifik dan Hindia) yang membentuk jalur migrasi dan pertukaran spesies.
Iklim Indonesia yang tropis dan basah menghasilkan produktivitas primer yang tinggi dan kondisi yang cocok untuk pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan dan hewan.
Sejarah geologi Indonesia yang kompleks menciptakan berbagai macam bentuk relief dan tanah yang mempengaruhi distribusi spesies.
Interaksi antara spesies juga memicu proses evolusi dan adaptasi yang meningkatkan keragaman genetik dan morfologis1
Nilai-nilai Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati memiliki nilai-nilai yang dapat diklasifikasikan menjadi nilai langsung dan nilai tidak langsung.
Nilai langsung adalah nilai yang dapat diukur secara moneter atau kuantitatif dari pemanfaatan sumber daya hayati oleh manusia.
Nilai tidak langsung adalah nilai yang tidak dapat diukur secara moneter atau kuantitatif tetapi berkontribusi terhadap kesejahteraan manusia secara tidak langsung3
Nilai langsung meliputi:
- Nilai konsumtif: nilai dari sumber daya hayati yang dikonsumsi secara langsung oleh manusia seperti pangan, pakaian, obat-obatan, bahan bakar, dll.
- Nilai produktif: nilai dari sumber daya hayati yang diproduksi atau diolah menjadi barang atau jasa yang bernilai ekonomis seperti kayu, karet, minyak bumi, pariwisata, dll.
- Nilai potensial: nilai dari sumber daya hayati yang belum dimanfaatkan tetapi memiliki potensi untuk dimanfaatkan di masa depan seperti sumber daya genetik, bioteknologi, dll.
Nilai tidak langsung meliputi:
- Nilai ekologis: nilai dari sumber daya hayati yang berperan dalam menjaga fungsi-fungsi ekosistem seperti siklus air, siklus karbon, penyerapan polutan, pengendalian erosi tanah, dll.
- Nilai sosial: nilai dari sumber daya hayati yang berhubungan dengan identitas, kebudayaan, tradisi, agama, pendidikan, rekreasi, dll.
- Nilai estetika: nilai dari sumber daya hayati yang memberikan keindahan, kesenangan, inspirasi, dll.
- Nilai etis: nilai dari sumber daya hayati yang berdasarkan pada prinsip-prinsip moral atau etika seperti keadilan, kesetaraan, kewajiban moral terhadap makhluk hidup lain, dll.
Kegiatan Manusia yang Mempengaruhi Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati mengalami ancaman dan penurunan akibat dari berbagai kegiatan manusia yang tidak berwawasan lingkungan. Beberapa kegiatan manusia yang mempengaruhi keanekaragaman hayati adalah:
- Perusakan habitat: kegiatan yang merusak atau mengubah habitat alami spesies seperti pembalakan liar, pembukaan lahan, pertambangan, perkebunan, dll.
- Perburuan dan perdagangan ilegal: kegiatan yang menangkap atau membunuh spesies secara berlebihan atau melanggar hukum untuk dijual atau dikonsumsi seperti perburuan satwa liar, perdagangan kulit, gading, cula, dll.
- Pencemaran: kegiatan yang menghasilkan zat-zat berbahaya yang masuk ke lingkungan dan merusak keseimbangan ekosistem seperti pencemaran udara, air, tanah, dll.
- Perubahan iklim: kegiatan yang menyebabkan perubahan suhu, curah hujan, pola angin, dan fenomena cuaca lainnya yang mempengaruhi distribusi dan adaptasi spesies seperti pembakaran bahan bakar fosil, penebangan hutan, dll.
- Pengenalan spesies asing: kegiatan yang membawa spesies dari tempat asalnya ke tempat baru yang dapat bersaing atau memangsa spesies asli seperti invasi tanaman gulma, hama, penyakit, dll.
Keanekaragaman Hayati dan Tingkatannya
Keanekaragaman hayati dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu:
- Keanekaragaman gen: variasi genetik yang terdapat dalam suatu spesies atau populasi. Keanekaragaman gen mempengaruhi variasi fenotipik dan kemampuan adaptasi spesies terhadap lingkungan. Contoh keanekaragaman gen adalah berbagai macam warna kulit, rambut, mata, bentuk tubuh, golongan darah, dll pada manusia.
- Keanekaragaman spesies: variasi jenis-jenis makhluk hidup yang berbeda secara morfologis, fisiologis, atau genetis. Keanekaragaman spesies mempengaruhi struktur dan komposisi komunitas biotik. Contoh keanekaragaman spesies adalah berbagai macam jenis tumbuhan, hewan, jamur, bakteri, dll yang ada di bumi.
- Keanekaragaman ekosistem: variasi tipe-tipe ekosistem yang memiliki karakteristik lingkungan abiotik dan biotik yang berbeda. Keanekaragaman ekosistem mempengaruhi fungsi dan proses ekologis. Contoh keanekaragaman ekosistem adalah berbagai macam ekosistem seperti hutan hujan tropis, padang rumput, gurun pasir, terumbu karang, dll.
Manfaat Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati memiliki manfaat bagi manusia dan lingkungan hidup. Beberapa manfaat keanekaragaman hayati adalah:
- Menyediakan sumber pangan: keanekaragaman hayati merupakan sumber pangan bagi manusia dan hewan. Berbagai jenis tumbuhan dan hewan dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan seperti beras, jagung, kentang, sayur-sayuran, buah-buahan, daging, telur, susu, ikan, dll.
- Menyediakan sumber obat-obatan: keanekaragaman hayati merupakan sumber obat-obatan bagi manusia. Berbagai jenis tumbuhan dan hewan memiliki kandungan zat aktif yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti jahe, kunyit, lidah buaya, daun sirih, madu, dll.
- Menyediakan sumber bahan industri: keanekaragaman hayati merupakan sumber bahan industri bagi manusia. Berbagai jenis tumbuhan dan hewan dapat digunakan sebagai bahan baku atau bahan tambahan dalam industri seperti karet, kapas, sutra, kulit, gelatin, lilin, dll.
- Menyediakan jasa ekosistem: keanekaragaman hayati merupakan penyedia jasa ekosistem bagi manusia dan lingkungan. Jasa ekosistem adalah manfaat yang diperoleh dari fungsi-fungsi ekosistem seperti penyediaan air bersih, pengaturan iklim, penyerapan karbon, pengendalian banjir, penyerbukan, dll.
- Menyediakan nilai sosial-budaya: keanekaragaman hayati merupakan sumber nilai sosial-budaya bagi manusia. Nilai sosial-budaya adalah manfaat yang berhubungan dengan identitas, kebudayaan, tradisi, agama, pendidikan, rekreasi, dll. Contoh nilai sosial-budaya adalah kearifan lokal, ritual adat, seni rupa, musik, tari, dll.
Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati perlu dilestarikan agar tidak mengalami kepunahan atau penurunan yang dapat mengancam keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan manusia. Beberapa upaya pelestarian keanekaragaman hayati adalah:
- Pelestarian in situ: pelestarian yang dilakukan di tempat asal spesies atau ekosistem dengan cara melindungi dan mengelola habitat alami. Contoh pelestarian in situ adalah pembentukan kawasan konservasi seperti taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa, dll.
- Pelestarian ex situ: pelestarian yang dilakukan di luar tempat asal spesies atau ekosistem dengan cara memindahkan dan memelihara spesies di tempat buatan. Contoh pelestarian ex situ adalah pembentukan kawasan perlindungan seperti kebun binatang, kebun raya, bank gen, dll.
- Pelestarian on farm: pelestarian yang dilakukan di lahan pertanian dengan cara mempertahankan dan mengembangkan varietas lokal tanaman dan hewan peliharaan. Contoh pelestarian on farm adalah penerapan pertanian berkelanjutan seperti pertanian organik, agroforestri, agroekologi, dll.
- Pelestarian integratif: pelestarian yang dilakukan dengan cara mengintegrasikan berbagai pendekatan pelestarian seperti ilmiah, teknologi, hukum, ekonomi, sosial-budaya, dll. Contoh pelestarian integratif adalah penerapan konsep-konsep seperti pembangunan berkelanjutan, ekowisata, ekonomi kerakyatan, partisipasi masyarakat lokal, dll.