Al-Qur’an al-Karim adalah Kalamullah (firman Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui perantara Malaikat Jibril sebagai petunjuk mutlak, mukjizat abadi, dan obat penyembuh (syifa’) bagi penyakit kalbu manusia. Mengingat kedudukan Al-Qur’an yang teramat agung, para ulama pakar Al-Qur’an—terutama Hujjatul Islam Imam An-Nawawi dalam kitab monumentalnya At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an—merumuskan panduan adab tilawah lahiriah dan batiniah agar pembaca memperoleh kesempurnaan pahala serta pancaran hidayah Ilahi.
Landasan Al-Qur’an: Menyimak dan Mentartilkan Tilawah
Perintah memperindah dan menghayati bacaan Al-Qur’an digariskan secara tegas dalam wahyu:
وَرَتÙÙ‘Ù„Ù Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’آنَ تَرْتÙيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. Al-Muzzammil: 4).
Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu menjelaskan makna tartil adalah membaguskan pelafalan huruf-huruf hijaiyah (tajwid) dan memahami tempat-tempat waqaf (berhenti). Ketika ayat suci dikumandangkan, orang beriman diperintahkan menyimak dengan khusyuk:
ÙˆÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ Ù‚ÙØ±Ùئَ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’آن٠ÙÙŽØ§Ø³Ù’ØªÙŽÙ…ÙØ¹Ùوا Ù„ÙŽÙ‡Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†ØµÙØªÙوا لَعَلَّكÙمْ ØªÙØ±Ù’ØÙŽÙ…Ùونَ
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204).
Tujuh Adab Pokok Membaca Al-Qur’an Menurut Imam An-Nawawi
1. Ikhlas Semata Mengharap Ridha Allah Ta’ala
Niat yang bersih adalah prasyarat mutlak diterimanya ibadah tilawah. Hindari motif membaca Al-Qur’an demi popularitas, sanjungan suara merdu, atau keuntungan materiil duniawi semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا Ø£ÙÙ…ÙØ±Ùوا Ø¥Ùلَّا Ù„ÙÙŠÙŽØ¹Ù’Ø¨ÙØ¯Ùوا اللَّهَ Ù…ÙØ®Ù’Ù„ÙØµÙينَ لَه٠الدÙّينَ ØÙÙ†ÙŽÙَاءَ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5).
2. Bersuci dari Hadas Kecil dan Besar
Dianjurkan membaca Al-Qur’an dalam kondisi telah berwudhu. Adapun untuk menyentuh fisik mushaf Al-Qur’an, jumhur ulama empat madzhab mensyaratkan suci dari hadas kecil maupun besar berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
لَا يَمَسÙÙ‘ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’آنَ Ø¥Ùلَّا Ø·ÙŽØ§Ù‡ÙØ±ÙŒ
“Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ No. 468, Ad-Daraquthni No. 449; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil No. 122).
3. Membersihkan Mulut dengan Bersiwak
Mulut adalah jalan keluarnya firman Allah yang mulia. Imam An-Nawawi menegaskan sunnah muakkadah untuk membersihkan rongga mulut dan gigi dengan siwak atau sikat gigi sebelum memulai tilawah guna menghilangkan bau tak sedap dan menghormati kehadiran para malaikat penyimak wahyu.
4. Membaca Isti’adzah dan Basmalah
Sebelum memulai qira’ah, pembaca disunnahkan memohon perlindungan dari godaan setan yang terkutuk:
ÙÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ قَرَأْتَ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’آنَ ÙÙŽØ§Ø³Ù’ØªÙŽØ¹ÙØ°Ù’ Ø¨ÙØ§Ù„لَّه٠مÙÙ†ÙŽ الشَّيْطَان٠الرَّجÙيمÙ
“Maka apabila engkau membaca Al-Qur’an, mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98).
Lafaz isti’adzah yang masyhur adalah A’Å«dzubillÄhi minasy-syaithÄnir-rajÄ«m, kemudian diikuti basmalah pada setiap awal surat kecuali Surat At-Taubah.
5. Menghadap Kiblat dengan Sikap Tenang dan Khusyuk
Dianjurkan duduk di tempat yang suci dan bersih (seperti masjid atau ruang shalat rumah) dengan menghadap ke arah kiblat, mengenakan busana yang menutup aurat secara sopan, serta menjaga ketenangan jiwa (sakinah) tanpa bersandar malas atau bertingkah serampangan.
6. Mentadabburi Makna dan Meresapi Kandungan Ayat
Tilawah yang paling utama adalah yang disertai perenungan kalbu (tadabbur). Ketika membaca ayat rahmat dan surga, berhentilah sejenak memohon karunia-Nya. Ketika membaca ayat ancaman azab neraka, berhentilah sejenak memohon perlindungan dari murka-Nya. Hal inilah yang dicontohkan Rasulullah saat shalat malam hingga meneteskan air mata.
7. Memperindah Suara Tanpa Melanggar Kaidah Tajwid
Disunnahkan melagukan bacaan Al-Qur’an dengan nada yang merdu dan syahdu, selama tidak memanjangkan huruf secara berlebihan atau melanggar hukum mad, ghunnah, dan makharijul huruf:
زَيÙّنÙوا Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’آنَ Ø¨ÙØ£ÙŽØµÙ’وَاتÙÙƒÙمْ
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian.” (HR. Abu Dawud No. 1468 dan An-Nasa’i No. 1015; dinilai shahih).
| Klasifikasi Adab | Rincian Amaliah | Tujuan & Hikmah Spiritual |
|---|---|---|
| Adab Lahiriah (Zhahir) | Wudhu, bersiwak, menutup aurat, menghadap kiblat, dan melafalkan tajwid secara tartil. | Memuliakan fisik mushaf dan menjaga kesucian lisan sebagai wadah kalam Ilahi. |
| Adab Batiniah (Bathin) | Ikhlas, tadabbur makna ayat, hadirnya hati (hudhurul qalb), dan menangis karena takut kepada Allah. | Membangkitkan kepekaan nurani, menumbuhkan rasa khasy-yah, dan mengikis kekerasan hati. |
Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pembela di Hari Kiamat
Membaca Al-Qur’an dengan memenuhi adab-adabnya akan mengangkat derajat seorang mukmin bersama para malaikat yang mulia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim No. 804). Semoga lisan kita senantiasa basah dengan ayat-ayat suci dan kalbu kita senantiasa terhubung dengan cahaya petunjuk-Nya.