Latar belakang penelitian adalah bagian penting dalam sebuah proposal, skripsi, atau makalah ilmiah. Latar belakang penelitian menjelaskan alasan, masalah, gap, dan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan. Latar belakang penelitian juga harus menunjukkan relevansi, signifikansi, dan kontribusi dari penelitian tersebut bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Langkah-langkah Membuat Latar Belakang Penelitian
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda ikuti untuk membuat latar belakang penelitian yang baik dan benar:
- Memilih topik yang tepat. Topik penelitian harus sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang Anda sebagai peneliti. Topik penelitian juga harus memiliki ruang lingkup yang jelas, spesifik, dan terukur. Anda dapat menggunakan pertanyaan penelitian sebagai alat untuk membatasi topik Anda.
- Melakukan studi literatur dan mencari data pendukung. Studi literatur adalah proses mencari, membaca, dan menganalisis sumber-sumber ilmiah yang berkaitan dengan topik penelitian Anda. Studi literatur dapat membantu Anda mengetahui perkembangan terkini, teori-teori, konsep-konsep, istilah-istilah, metode-metode, dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan topik Anda. Studi literatur juga dapat membantu Anda menemukan data pendukukung berupa fakta, statistik, grafik, tabel, atau gambar yang dapat memperkuat argumen Anda.
- Menentukan tujuan dan masalah penelitian. Tujuan penelitian adalah apa yang ingin Anda capai atau jawab melalui penelitian Anda. Tujuan penelitian harus spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan berbatas waktu (SMART). Masalah penelitian adalah kesenjangan atau gap antara kondisi ideal dan kondisi nyata yang menjadi latar belakang penelitian Anda. Masalah penelitian harus jelas, relevan, signifikan, dan dapat diuji secara ilmiah.
- Menjelaskan relevansi penelitian. Relevansi penelitian adalah keterkaitan atau hubungan antara topik penelitian Anda dengan bidang ilmu, disiplin ilmu, atau konteks tertentu yang menjadi fokus Anda. Relevansi penelitian dapat ditunjukkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Mengapa topik ini penting untuk diteliti? Apa manfaat atau implikasi dari penelitian ini? Bagaimana penelitian ini dapat mengisi gap atau mengatasi masalah yang ada?
- Menyebutkan batasan penelitian. Batasan penelitian adalah keterbatasan atau kendala yang dihadapi oleh peneliti dalam melakukan penelitian. Batasan penelitian dapat berupa aspek-aspek seperti ruang lingkup, waktu, sumber daya, sampel, instrumen, metode, atau variabel yang mempengaruhi kualitas atau generalisasi dari hasil penelitian. Batasan penelitian harus diakui dan dijelaskan oleh peneliti agar pembaca dapat memahami kelemahan dan kekuatan dari penelitian tersebut.
Contoh Latar Belakang Penelitian
Berikut adalah contoh latar belakang penelitian dengan topik “Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Kinerja Karyawan pada PT XYZ”:
Latar Belakang
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, mengerti, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi diri sendiri dan orang lain secara efektif (Goleman, 1995). Kecerdasan emosional dianggap sebagai salah satu faktor penting yang mempengaruhi kinerja karyawan di tempat kerja (Mayer et al., 2008). Kinerja karyawan adalah hasil atau output dari pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan sesuai dengan standar atau tujuan yang ditetapkan oleh organisasi (Armstrong, 2006). Kinerja karyawan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, seperti motivasi, kompetensi, kepemimpinan, budaya organisasi, lingkungan kerja, dan lain-lain (Robbins dan Judge, 2013).
Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan di berbagai sektor dan industri (Salovey dan Mayer, 1990; Goleman, 1998; Bar-On, 2000; Carmeli, 2003; Wong dan Law, 2002; Sy et al., 2006; Lopes et al., 2006; O’Boyle et al., 2011). Namun, penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja karyawan dapat bervariasi tergantung pada konteks dan karakteristik organisasi yang berbeda (Mayer et al., 2004; Jordan et al., 2006; Joseph dan Newman, 2010; Cote et al., 2011). Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja karyawan pada organisasi tertentu dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mungkin berperan sebagai moderator atau mediator.
Salah satu organisasi yang menarik untuk diteliti adalah PT XYZ, sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa konsultansi manajemen. PT XYZ memiliki visi untuk menjadi perusahaan konsultan terkemuka di Indonesia dengan memberikan solusi-solusi inovatif dan berkualitas kepada klien-kliennya. Untuk mencapai visi tersebut, PT XYZ membutuhkan karyawan yang memiliki kinerja tinggi dan dapat beradaptasi dengan tantangan dan perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis. Kecerdasan emosional dapat menjadi salah satu aspek yang dapat membantu karyawan PT XYZ untuk meningkatkan kinerja mereka.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Kinerja Karyawan pada PT XYZ”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja karyawan pada PT XYZ dan faktor-faktor apa saja yang memoderasi atau memediasi pengaruh tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang psikologi organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi PT XYZ sebagai organisasi dalam meningkatkan kinerja dan kesejahteraan karyawannya.
Sumber:
- Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. New York: Bantam Books.
- Mayer, J.D., Salovey, P., & Caruso, D.R. (2008). Emotional intelligence: New ability or eclectic traits? American Psychologist, 63(6), 503-517.
- Armstrong, M. (2006). A handbook of human resource management practice. London: Kogan Page.
- Robbins, S.P., & Judge, T.A. (2013). Organizational behavior. Boston: Pearson.
- Salovey, P., & Mayer, J.D. (1990). Emotional intelligence. Imagination, Cognition and Personality, 9(3), 185-211.
- Goleman, D. (1998). Working with emotional intelligence. New York: Bantam Books.
- Bar-On, R. (2000). Emotional and social intelligence: Insights from the emotional quotient inventory. In R. Bar-On & J.D.A. Parker (Eds.), The handbook of emotional intelligence: Theory, development, assessment and application at home, school and in the workplace (pp.363-388). San Francisco: Jossey-Bass.
- Carmeli, A. (2003). The relationship between emotional intelligence and work attitudes, behavior and outcomes: An examination among senior managers. Journal of Managerial Psychology, 18(8), 788-813.
- Wong, C.S., & Law, K.S. (2002). The effects of leader and follower emotional intelligence on performance and attitude: An exploratory study. The Leadership Quarterly, 13(3), 243-274.
- Sy, T., Tram, S., & O’Hara, L.A. (2006). Relation of employee and manager emotional intelligence to job satisfaction and performance. Journal of Vocational Behavior, 68(3), 461-473.
- Lopes, P.N., Grewal, D., Kadis, J., Gall, M., & Salovey, P. (2006). Evidence that emotional intelligence is related to job performance and affect and attitudes at work. Psicothema, 18(Suplemento), 132-138.
- O’Boyle Jr, E.H., Humphrey, R.H., Pollack, J.M., Hawver, T.H., & Story, P.A. (2011). The relation between emotional intelligence and job performance: A meta-analysis. Journal of Organizational Behavior, 32(5), 788-818.
- Mayer, J.D., Roberts, R.D., & Barsade, S.G. (2004). Human abilities: Emotional intelligence. Annual Review of Psychology, 59(1), 507-536.
- Jordan, P.J., Ashkanasy, N.M., Härtel, C.E., & Hooper, G.S. (2002). Workgroup emotional intelligence: Scale development and relationship to team process effectiveness and goal focus. Human Resource Management Review, 12(2), 195-214.
- Joseph, D.L., & Newman, D.A. (2010). Emotional intelligence: An integrative meta-analysis and cascading model. Journal of Applied Psychology, 95(1), 54-78.
- Cote, S., Lopes, P.N., Salovey, P., & Miners, C.T. (2010). Emotional intelligence and leadership emergence in small groups. The Leadership Quarterly, 21(3), 496-508.
Kesimpulan dan Saran
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa latar belakang penelitian adalah bagian yang sangat penting dalam sebuah penelitian ilmiah. Latar belakang penelitian harus dapat menjelaskan alasan, masalah, gap, tujuan, relevansi, dan batasan dari penelitian yang akan dilakukan. Latar belakang penelitian juga harus disusun dengan sistematis dan logis dengan menggunakan data pendukung yang valid dan terpercaya.
Untuk membuat latar belakang penelitian yang baik dan benar, peneliti harus mengikuti langkah-langkah berikut:
- Memilih topik yang tepat
- Melakukan studi literatur dan mencari data pendukung
- Menentukan tujuan dan masalah penelitian
- Menjelaskan relevansi penelitian
- Menyebutkan batasan penelitian
Peneliti juga harus memperhatikan aspek-aspek seperti keterkaitan antara kalimat-kalimat dalam latar belakang penelitian, konsistensi penggunaan istilah dan gaya bahasa, serta pengutipan sumber-sumber yang sesuai dengan kaidah ilmiah.
Sumber:
(1) Cara Membuat Latar Belakang Penelitian / Proposal / Skripsi. https://mjurnal.com/skripsi/latar-belakang-proposal-penelitian-skripsi/.
(2) Cara Membuat Latar Belakang Makalah dalam Sebuah Penelitian – Tirto.ID. https://tirto.id/cara-membuat-latar-belakang-makalah-dalam-sebuah-penelitian-eeJi.
(3) 6 Langkah Cara Membuat Latar Belakang Skripsi – Deepublish Store. https://deepublishstore.com/blog/cara-membuat-latar-belakang-skripsi/.
(4) Cara Menulis Latar Belakang Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. https://karyatulisku.com/cara-menulis-latar-belakang-penelitian-kualitatif-dan-kuantitatif/.