Kedatangan Islam
Islam masuk ke Sulawesi Selatan tidak diketahui secara pasti kapan waktunya. Namun, menurut beberapa sumber, Islam sudah ada sebelum Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi kerajaan Islam pada abad ke-16 . Hal ini dibuktikan dengan adanya perkampungan Islam di Makassar yang dihuni oleh orang-orang yang berasal dari Campa, Pattani, Johor, dan Minangkabau.
Salah satu penyebar agama Islam yang terdahulu di Sulawesi Selatan adalah Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman yang berasal dari Patani. Ia disebutkan telah mengislamkan Raja Wolio dari Buton pada tahun 1564 dan mengajarkan agama kepada penduduk setempat yang baru saja memeluk Islam.
Pengislaman Kerajaan Gowa-Tallo
Kerajaan Gowa-Tallo merupakan kerajaan yang paling berpengaruh dalam sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-10, Tonipalangga, sudah terdapat perkampungan Islam di Makassar. Kemudian, pada masa Raja Gowa ke-11, Toni Jallo, berdiri sebuah masjid di Sulawesi Selatan.
Pada tahun 1605, Raja Tallo sekaligus mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkang Daeng Manyonri’, memeluk Islam bersama dengan Raja Gowa ke-14, I Manga’rangi Daeng Manrabia. Mereka mendapat nama Islam, yaitu Sultan Abdullah Awwalul Islam dan Sultan Alauddin.
Sultan Alauddin kemudian mengundang tiga mubaligh dari Koto Tengah, Minangkabau yang berada di Aceh, untuk mengajarkan Islam di Sulawesi Selatan. Mereka dikenal sebagai Dato’ Tallu di Makassar atau Datu’ Tellu di Bugis, yaitu Dato’ri Bandang (Abdullah Makmur alias Khatib Tunggal), Dato’ri Pattimang (Sulaiman alias Khatib Sulung), dan Dato’ri Tiro (Abdul Jawad alias Khatib Bungsu). Mereka berperan penting dalam proses Islamisasi di Sulawesi Selatan.
Pada tahun 1607, Sultan Alauddin mengeluarkan dekrit bahwa Kerajaan Gowa sebagai kerajaan Islam dan pusat Islamisasi di Sulawesi Selatan. Islam menjadi agama kerajaan dan agama masyarakat. Untuk merealisasikan dekrit itu, Sultan Alauddin mengirim utusan ke kerajaan-kerajaan tetangga dengan membawa hadiah untuk para raja. Kerajaan-kerajaan yang menyambut baik antara lain Sawitto, Balanipa di Mandar, Bantaeng, dan Selayar.
Perluasan Pengaruh Islam
Selain dengan jalan damai, penyebaran Islam juga dilakukan dengan peperangan oleh Kerajaan Gowa-Tallo. Tiga kerajaan Bugis: Bone, Wajo, dan Soppeng yang tergabung dalam aliansi Tellunpoccoe (tiga kerajaan besar), menolak seruan agar memeluk Islam. Maka, pecahlah perang antara Kerajaan Gowa-Tallo melawan Kerajaan Bugis pada tahun 1611.
Perang ini disebut sebagai musu selleng (perang pengislaman) oleh orang Bugis. Perang ini berlangsung selama beberapa tahun dengan hasil bervariasi. Pada akhirnya, Kerajaan Bugis menyerah dan menerima Islam sebagai agama mereka. Raja Bone, La Tenritatta Arung Palakka, menjadi salah satu tokoh yang berjasa dalam mengislamkan rakyatnya.
Penyebaran Islam juga dilakukan oleh Kerajaan Gowa-Tallo ke wilayah-wilayah di luar Sulawesi Selatan, seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua. Hal ini dimungkinkan karena Kerajaan Gowa-Tallo memiliki kekuatan militer dan maritim yang besar. Mereka juga menjalin hubungan dagang dengan pedagang-pedagang dari Arab, Persia, India, Cina, dan Eropa.
Perkembangan Islam di Masa Kolonial
Pada abad ke-17, Kerajaan Gowa-Tallo mengalami kemunduran akibat campur tangan Belanda yang ingin menguasai perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Belanda bersekutu dengan Kerajaan Bone dan menyerang Kerajaan Gowa-Tallo. Pada tahun 1669, Sultan Hasanuddin dari Gowa menandatangani Perjanjian Bongaya yang mengakui kedaulatan Belanda atas wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Gowa-Tallo.
Perjanjian ini juga melarang penyebaran Islam ke wilayah-wilayah yang berada di bawah pengaruh Belanda. Hal ini menyebabkan terhambatnya proses Islamisasi di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Namun, Islam tetap bertahan dan berkembang di tengah-tengah tekanan kolonial. Beberapa tokoh yang berperan dalam mempertahankan dan mengembangkan Islam di masa kolonial antara lain:
- Syekh Yusuf al-Makassari (1626-1699), seorang ulama dan pejuang yang melawan Belanda dan kemudian dibuang ke Afrika Selatan. Ia dikenal sebagai salah satu wali songo di Afrika Selatan karena banyak mengajarkan Islam kepada penduduk setempat.
- Sultan Muhammad Idrus Tumenanga Ri Balla Pangkana (1739-1812), raja Bone yang memperkuat syariat Islam di kerajaannya dan mendirikan madrasah-madrasah untuk pendidikan agama.
- Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812), seorang ulama yang berasal dari Banjar yang belajar di Makassar dan kemudian menulis kitab Sabilal Muhtadin yang menjadi rujukan bagi umat Islam di Kalimantan Selatan.
- Syekh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875), seorang ulama yang berasal dari Sambas yang belajar di Makassar dan kemudian menjadi guru bagi banyak ulama di Nusantara, seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Abdul Karim Amrullah.