Kerajaan Demak, sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana. Namun, setelah wafatnya Sultan Trenggana pada tahun 1546, kerajaan ini mulai mengalami kemunduran yang signifikan. Beberapa faktor utama yang menyebabkan kemunduran tersebut antara lain:
1. Perebutan Kekuasaan dan Konflik Internal
Setelah wafatnya Sultan Trenggana, terjadi kekosongan kekuasaan yang memicu perebutan takhta di antara para pewarisnya. Putra Sultan Trenggana, Sunan Prawoto, naik takhta namun dibunuh oleh Arya Penangsang, penguasa Jipang, pada tahun 1549. Arya Penangsang kemudian memerintah Demak, tetapi kepemimpinannya ditentang oleh Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) dari Pajang. Konflik berkepanjangan ini melemahkan stabilitas politik dan pemerintahan Kerajaan Demak.
2. Lemahnya Kepemimpinan Pasca Sultan Trenggana
Sultan Trenggana dikenal sebagai pemimpin yang kuat dan mampu memperluas wilayah kekuasaan Demak. Setelah kematiannya, para penerusnya tidak memiliki kemampuan kepemimpinan yang setara. Sunan Prawoto lebih fokus pada kegiatan keagamaan daripada pemerintahan, sehingga banyak wilayah di bawah kekuasaan Demak mulai melepaskan diri dan menjalankan pemerintahan secara independen.
3. Intervensi Eksternal dan Munculnya Kekuatan Baru
Selain konflik internal, Demak juga menghadapi tekanan dari kekuatan eksternal. Munculnya Kesultanan Pajang di bawah kepemimpinan Jaka Tingkir menjadi ancaman bagi eksistensi Demak. Setelah berhasil mengalahkan Arya Penangsang, Jaka Tingkir memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, menandai berakhirnya dominasi Demak di Jawa.
4. Dendam Keluarga dan Pembunuhan Berantai
Pembunuhan Pangeran Sekar Seda Lepen oleh Sunan Prawoto memicu dendam dari Arya Penangsang, putra Pangeran Sekar. Arya Penangsang kemudian membunuh Sunan Prawoto sebagai balas dendam. Rangkaian pembunuhan ini menciptakan ketidakstabilan dan memperparah konflik internal di Kerajaan Demak.
5. Pemindahan Pusat Kekuasaan ke Pajang
Setelah mengalahkan Arya Penangsang, Jaka Tingkir memindahkan pusat kekuasaan dari Demak ke Pajang. Langkah ini menandai berakhirnya Kerajaan Demak sebagai kekuatan politik utama di Jawa dan awal dari dominasi Kesultanan Pajang.
Secara keseluruhan, kombinasi antara konflik internal, lemahnya kepemimpinan, intervensi eksternal, dan dendam keluarga menjadi faktor utama yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Demak setelah wafatnya Sultan Trenggana.