Kesultanan Tidore, yang berpusat di Maluku Utara, Indonesia, merupakan salah satu kerajaan Islam yang memiliki peran signifikan dalam sejarah Nusantara. Pada puncak kejayaannya, sekitar abad ke-16 hingga ke-18, kesultanan ini menguasai wilayah yang luas, termasuk bagian selatan Pulau Halmahera, Pulau Buru, Pulau Seram, dan beberapa pulau di pesisir Papua Barat. Warisan budaya dan sejarah Kesultanan Tidore masih dapat disaksikan melalui berbagai peninggalan yang tersebar di wilayah tersebut.
Istana Kadato Kie
Istana Kadato Kie, juga dikenal sebagai Kedaton Tidore, merupakan pusat pemerintahan dan kediaman resmi Sultan Tidore. Terletak di Kelurahan Soasio, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan, istana ini pertama kali dibangun pada tahun 1811 di masa pemerintahan Sultan Muhammad Tahir. Meskipun sempat mengalami kerusakan pada awal abad ke-20, istana ini telah direstorasi dan kini menjadi simbol kebesaran Kesultanan Tidore. Arsitektur istana mencerminkan gaya tradisional Melayu dengan sentuhan lokal, menampilkan ornamen dan ukiran khas yang menggambarkan kekayaan budaya Tidore. Saat ini, Kadato Kie berfungsi sebagai situs wisata sejarah yang terbuka untuk umum, memungkinkan pengunjung untuk menyaksikan langsung peninggalan kejayaan masa lalu.
Masjid Sultan Tidore
Masjid Sultan Tidore, dibangun pada tahun 1700, merupakan salah satu masjid tertua di Maluku Utara. Awalnya, masjid ini dibangun dengan konstruksi kayu, batu, pasir, dan kapur, dengan atap dari alang-alang dan daun sagu. Seiring waktu, masjid ini mengalami beberapa renovasi, namun tetap mempertahankan elemen arsitektur aslinya. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat Tidore. Keberadaan masjid ini mencerminkan peran penting Islam dalam kehidupan masyarakat Tidore sejak berabad-abad lalu.
Benteng Tahula dan Benteng Torre
Benteng Tahula dan Benteng Torre adalah dua benteng bersejarah yang dibangun oleh bangsa Eropa di Tidore. Benteng Tahula dibangun oleh Spanyol pada tahun 1610 di atas batu karang yang merupakan titik tertinggi di Tidore, berfungsi untuk mengamati wilayah perairan serta daratan Tidore. Sementara itu, Benteng Torre dibangun oleh Portugis pada tahun 1578 atas restu Sultan Gapi Baguna, dan dinamai sesuai dengan nama Kapten Portugis saat itu, De La Torre. Kedua benteng ini berperan penting dalam sejarah kolonial di Tidore, menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa penting, termasuk perlawanan terhadap penjajah. Meskipun beberapa bagian dari benteng telah mengalami kerusakan akibat usia dan kondisi alam, upaya pelestarian terus dilakukan untuk menjaga nilai sejarahnya.
Makam Sultan Nuku
Sultan Nuku adalah salah satu sultan paling terkenal dalam sejarah Kesultanan Tidore, dikenal karena perjuangannya melawan kolonialisme Belanda pada akhir abad ke-18. Makam Sultan Nuku terletak di Tidore dan menjadi situs ziarah penting bagi masyarakat setempat. Keberadaan makam ini tidak hanya sebagai tempat peristirahatan terakhir sang sultan, tetapi juga sebagai simbol perlawanan dan semangat kemerdekaan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Setiap tahun, berbagai upacara dan peringatan diadakan untuk mengenang jasa dan perjuangan Sultan Nuku dalam mempertahankan kedaulatan Tidore.
Stempel Kerajaan
Stempel kerajaan merupakan salah satu artefak penting yang menunjukkan legitimasi dan otoritas Kesultanan Tidore dalam menjalankan pemerintahan dan hubungannya dengan pihak luar. Stempel ini digunakan dalam berbagai dokumen resmi, perjanjian, dan surat menyurat, menandakan keabsahan dan kekuasaan sultan. Beberapa stempel kerajaan masih tersimpan dan dipamerkan di museum lokal, memberikan gambaran tentang sistem administrasi dan diplomasi yang diterapkan oleh Kesultanan Tidore pada masa lalu. Keberadaan stempel ini juga mencerminkan tingkat organisasi dan kompleksitas pemerintahan kesultanan dalam mengelola wilayah kekuasaannya.
Peninggalan-penginggalan tersebut tidak hanya menjadi saksi bisu dari kejayaan masa lalu Kesultanan Tidore, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat akan kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Upaya pelestarian dan pemanfaatan situs-situs bersejarah ini sangat penting untuk memastikan bahwa warisan budaya tersebut dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.