Prolog: Kedudukan Kesultanan Peureulak dalam Sejarah Islam Nusantara
Kesultanan Peureulak (Perlak), yang berpusat di wilayah pesisir timur Aceh (kini Kabupaten Aceh Timur), menduduki posisi yang sangat dihormati dalam diskursus sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam di Nusantara. Berada pada simpul strategis pintu gerbang Selat Malaka, Peureulak berkembang pesat sebagai bandar niaga internasional yang disinggahi oleh para saudagar dan musafir dari jazirah Arab, Persia, Gujarat, dan Tiongkok. Para pedagang muslim ini tidak hanya bertransaksi komoditas lada dan kayu perlak (kayu ulin berkualitas tinggi untuk bahan kapal), melainkan juga menjalin ikatan pernikahan dan menyebarkan risalah Islam kepada masyarakat lokal.
Kajian mengenai dinamika kejayaan hingga runtuhnya Kesultanan Peureulak memberikan wawasan mendalam mengenai bagaimana faktor ketegangan politik internal, pergeseran rute niaga, dan perubahan konstelasi maritim regional menentukan pasang surut sebuah entitas kekuasaan di Nusantara.
Faktor-Faktor Utama Kemunduran dan Keruntuhan Peureulak
1. Konflik Suksesi Internal dan Polarisasi Politik
Salah satu pemicu utama rapuhnya stabilitas politik di Peureulak adalah adanya perpecahan tajam di lingkungan istana. Berdasarkan naskah-naskah historiografi lokal, terjadi pertentangan politik berkepanjangan antara faksi bangsawan keturunan dinasti Arab/Syed dengan bangsawan pribumi asli Peureulak. Ketegangan internal ini kerap menimbulkan perang saudara yang menguras energi pertahanan kerajaan, mengganggu jalannya roda pemerintahan, dan memecah loyalitas para petinggi militer kesultanan.
2. Tekanan Geopolitik dan Serangan Maritim Sriwijaya
Di samping ketegangan internal, Peureulak menghadapi tantangan hegemoni maritim dari Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Sumatera Selatan. Sriwijaya yang menguasai kendali lalu lintas Selat Malaka berupaya memastikan bahwa pelabuhan-pelabuhan niaga di pantai timur Sumatera tunduk pada pengaruh perdagangannya. Konflik militer laut berulang kali terjadi, melemahkan infrastruktur benteng dan pangkalan armada laut Peureulak dalam mempertahankan kedaulatan wilayah pesisirnya.
3. Pergeseran Jalur Perdagangan dan Pendangkalan Pelabuhan
Secara geografis dan ekonomi, posisi strategis pelabuhan Peureulak mengalami penurunan akibat proses sedimentasi muara sungai yang menyulitkan kapal-kapal dagang berbobot besar untuk merapat. Pada saat yang bersamaan, rute pelayaran internasional di Selat Malaka mulai melirik pelabuhan-pelabuhan baru yang memiliki perairan lebih dalam dan fasilitas niaga yang lebih aman, seperti kawasan Samudera Pasai dan kelak Kesultanan Malaka.
4. Integrasi Dinasti ke dalam Kesultanan Samudera Pasai
Keruntuhan Peureulak tidak terjadi semata-mata melalui kehancuran militer mutlak, melainkan melalui proses merger dan integrasi dinasti ke dalam Kesultanan Samudera Pasai yang sedang mengalami ekspansi kekuasaan pesat pada akhir abad ke-13 Masehi. Setelah wafatnya sultan terakhir Peureulak, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat, wilayah Peureulak secara damai disatukan dengan Samudera Pasai di bawah kepemimpinan Sultan Malik As-Saleh (Meurah Silu) yang memperistri Putri Ganggang Sari (Putri Raihani), putri dari sultan Peureulak. Penyatuan ini secara resmi menandai berakhirnya eksistensi Peureulak sebagai kesultanan independen.
Tinjauan Kritis Historiografi: Naskah Lokal vs Arkeologi Epigrafi
Dalam perspektif metodologi sejarah akademik, kajian mengenai Kesultanan Peureulak menuntut kehati-hatian dalam membedakan antara tradisi naskah kronik lokal (*manuscript historiography*) dan fakta artefak arkeologis (*epigraphic evidence*):
- Versi Naskah Lokal: Tarikh berdirinya Peureulak pada 1 Muharram 225 H (840 M) dengan sultan pertama Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah didasarkan pada naskah Idharul Haq fi Mamlakatil Peureulak karya Sayid Abdullah bin Sayid Habib Saifuddin serta hasil Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan (1963). Sumber ini menempatkan Peureulak sebagai kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara.
- Versi Arkeologi Ilmiah: Dalam historiografi arkeologi resmi yang dikembangkan para pakar sejarah (seperti Uka Tjandrasasmita, Anthony Reid, dan Claude Guillot), bukti fisik epigrafi tertua yang tidak terbantahkan mengenai berdirinya sebuah institusi kesultanan Islam berdaulat di Nusantara adalah batu nisan Sultan Malik As-Saleh bertarikh 696 H (1297 M) di Samudera Pasai, serta prasasti makam Fatimah binti Maimun bertarikh 1082 M di Leran, Gresik.
Penyandingan kedua perspektif ini bukan untuk menafikan eksistensi tradisi Peureulak, melainkan untuk memperkaya khazanah keilmuan bahwa dakwah dan komunitas muslim telah hidup berakar di pesisir Peureulak jauh sebelum Samudera Pasai memformalkan struktur kekuasaannya secara monolitik.
Kesimpulan
Runtuhnya Kesultanan Peureulak merupakan cermin hukum sejarah tentang pentingnya soliditas internal dan adaptabilitas geopolitik. Warisan peradaban Peureulak tetap abadi melalui perannya sebagai persemaian awal kader-kader da’i dan peletak dasar kebudayaan Islam di tanah rencong yang kelak dilanjutkan dengan gemilang oleh Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam.