Menu Tutup

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Perlak: Faktor Internal dan Eksternal yang Memicu Keruntuhan

Kerajaan Perlak, yang berdiri pada tahun 840 M di wilayah Aceh Timur, Indonesia, dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Namun, pada tahun 1292 M, kerajaan ini mengalami keruntuhan dan kemudian bergabung dengan Kesultanan Samudera Pasai. Beberapa faktor utama yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Perlak antara lain:

1. Konflik Internal dan Perang Saudara

Kerajaan Perlak mengalami perpecahan internal yang signifikan akibat perbedaan aliran dalam Islam, yaitu antara penganut Syiah dan Sunni. Perbedaan ini memicu perang saudara yang berkepanjangan, melemahkan stabilitas politik dan sosial kerajaan. Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Syed Maulana Abbas Shah (888–913 M), konflik antara kedua kelompok ini mencapai puncaknya, menyebabkan kekosongan kekuasaan selama hampir dua tahun setelah wafatnya sultan ketiga.

2. Serangan Eksternal

Selain konflik internal, Kerajaan Perlak juga menghadapi ancaman dari luar. Pada tahun 988 M, Kerajaan Sriwijaya melakukan serangan terhadap Perlak, yang mengakibatkan gugurnya Sultan Alauddin Syed Maulana Mahmud Shah dari kelompok Syiah. Serangan ini memperburuk kondisi kerajaan dan memaksa kedua faksi untuk bersatu kembali guna menghadapi ancaman eksternal.

3. Integrasi dengan Kesultanan Samudera Pasai

Setelah wafatnya Sultan Makhdum Alauddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat pada tahun 1292 M, Kerajaan Perlak mengalami kekosongan kepemimpinan yang efektif. Situasi ini dimanfaatkan oleh Kesultanan Samudera Pasai, yang pada saat itu sedang berkembang pesat. Melalui pernikahan politik antara putri Sultan Perlak dengan pangeran Samudera Pasai, kedua kerajaan ini akhirnya bergabung, dengan Samudera Pasai mengambil alih wilayah dan kekuasaan Perlak.

4. Pergeseran Jalur Perdagangan

Perubahan jalur perdagangan di Selat Malaka juga berkontribusi pada kemunduran Kerajaan Perlak. Sebelum berdirinya Kesultanan Malaka, pelayaran di Selat Malaka lebih sering melalui sisi barat yang menyusuri pantai Sumatera, di mana Perlak berada. Namun, setelah Malaka berkembang menjadi pusat perdagangan baru, jalur pelayaran bergeser ke arah timur, mengurangi peran strategis Perlak dalam perdagangan internasional.

5. Kemunduran Ekonomi

Konflik internal dan serangan eksternal yang berkelanjutan mengganggu aktivitas ekonomi Kerajaan Perlak. Sebagai pusat perdagangan yang bergantung pada stabilitas politik, gangguan ini menyebabkan penurunan aktivitas perdagangan dan pendapatan kerajaan. Selain itu, pergeseran jalur perdagangan ke Malaka mengurangi arus pedagang yang singgah di Perlak, memperburuk kondisi ekonomi kerajaan.

6. Kurangnya Kepemimpinan yang Kuat

Setelah wafatnya Sultan terakhir, tidak ada penerus yang mampu memimpin dan mempersatukan kerajaan. Kekosongan kepemimpinan ini menciptakan vakum kekuasaan yang sulit diisi, terutama di tengah situasi politik dan ekonomi yang tidak stabil. Akibatnya, Kerajaan Perlak tidak mampu bertahan sebagai entitas politik yang mandiri dan akhirnya bergabung dengan Kesultanan Samudera Pasai.

Dengan demikian, kombinasi antara konflik internal, ancaman eksternal, perubahan jalur perdagangan, kemunduran ekonomi, dan kurangnya kepemimpinan yang efektif menjadi faktor-faktor utama yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Perlak pada akhir abad ke-13.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya