Menu Tutup

Perkembangan Kehidupan Masyarakat Pra-Aksara Berdasarkan Corak Kehidupannya

Masyarakat pra-aksara merupakan kelompok manusia yang hidup pada masa sebelum adanya tulisan. Di Indonesia, masa pra-aksara dikenal sejak manusia pertama kali muncul di wilayah ini hingga ditemukannya budaya tulisan sekitar abad ke-4 Masehi. Untuk memahami perkembangan kehidupan masyarakat pra-aksara, kita dapat mengelompokkannya berdasarkan corak kehidupan mereka, yang mencakup masa berburu dan meramu, masa bercocok tanam, dan masa perundagian. Setiap fase mencerminkan evolusi teknologi, sosial, ekonomi, serta kepercayaan manusia dalam menghadapi lingkungan dan tantangan kehidupan.

1. Masa Berburu dan Meramu

Masa berburu dan meramu adalah fase awal kehidupan manusia purba di mana mereka sepenuhnya bergantung pada alam. Masa ini berlangsung pada zaman batu tua (Paleolitikum) dan sebagian besar Mesolitikum. Kehidupan manusia pra-aksara pada masa ini disebut food gathering, yaitu mencari makan dengan cara berburu hewan dan mengumpulkan bahan makanan yang tersedia di alam. Pada masa ini, manusia belum mengenal cara bercocok tanam atau menghasilkan makanan sendiri.

a. Berburu dan Meramu Tingkat Awal

Pada tahap awal berburu dan meramu, manusia pra-aksara menggunakan peralatan yang sangat sederhana, seperti kapak perimbas yang terbuat dari batu kasar. Peralatan ini hanya digunakan untuk berburu dan memotong daging atau tulang hewan. Pola hidup mereka masih nomaden, yang berarti berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain karena mereka harus mengikuti ketersediaan sumber makanan. Saat bahan makanan di sekitar habis, mereka berpindah ke tempat lain yang lebih subur. Mereka hidup dalam kelompok kecil, dengan populasi antara 10-15 orang.

Manusia purba pada tahap ini juga hidup dalam kondisi lingkungan yang belum stabil, sering terjadi letusan gunung berapi, serta perubahan musim yang ekstrim. Pola hidup mereka sangat bergantung pada alam, baik dalam hal makanan maupun tempat tinggal.

b. Berburu dan Meramu Tingkat Lanjut

Seiring berjalannya waktu, kehidupan manusia purba berkembang ke arah yang lebih maju. Pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut, yang terjadi pada zaman batu madya (Mesolitikum), manusia mulai mengenal teknik bercocok tanam sederhana. Meskipun bercocok tanam belum menjadi sumber utama makanan, mereka mulai menanam tanaman dan hasilnya digunakan untuk menambah kebutuhan pangan yang didapat dari berburu.

Peralatan yang digunakan pada masa ini lebih maju, seperti kapak genggam (pebble) dan alat serpih (flakes) yang dibuat dari batu. Alat-alat ini digunakan untuk membantu dalam kegiatan berkebun dan berburu. Kehidupan mereka pun mulai semi-sedenter, di mana mereka tinggal di satu tempat untuk waktu yang lebih lama, meskipun pada akhirnya mereka masih berpindah-pindah tergantung pada ketersediaan sumber daya alam.

Masyarakat pada masa ini juga sudah mulai mengenal pengawetan makanan, seperti mengeringkan daging binatang buruan untuk menyimpan persediaan saat mereka kekurangan makanan. Mereka tinggal di gua-gua (abris sous roche), yang letaknya tinggi di lereng bukit, sebagai tempat perlindungan dari cuaca ekstrem dan binatang buas.

2. Masa Bercocok Tanam

Masa bercocok tanam menandai perubahan besar dalam kehidupan manusia pra-aksara. Pada fase ini, manusia mulai menghasilkan makanan sendiri melalui pertanian. Masa ini terjadi pada zaman batu muda (Neolitikum), di mana peralatan yang digunakan manusia sudah lebih canggih. Alat-alat seperti kapak persegi dan kapak lonjong diasah hingga tajam untuk membantu dalam pengolahan lahan.

a. Perkembangan Teknologi

Pada masa ini, teknologi peralatan yang digunakan oleh manusia semakin berkembang. Kapak persegi dan kapak lonjong yang diasah tajam menjadi alat utama dalam bercocok tanam. Kapak ini digunakan untuk menebang pohon dan menggali tanah, yang memungkinkan masyarakat untuk membuka lahan pertanian. Manusia pra-aksara pada masa ini mulai mengenal sistem pertanian ladang berpindah, di mana mereka membuka lahan di hutan, menanam tanaman, dan kemudian berpindah setelah tanah tidak subur lagi.

Selain itu, mereka juga mulai mengenal teknik membuat gerabah dan tembikar, yang digunakan untuk menyimpan hasil pertanian. Perhiasan dari batu, serta pakaian yang terbuat dari kulit kayu juga mulai dikenal pada masa ini. Perubahan dalam teknologi ini menunjukkan bahwa manusia sudah mulai mengelola sumber daya alam secara lebih efektif.

b. Perubahan Sosial

Perubahan corak kehidupan dari berburu dan meramu ke bercocok tanam juga membawa perubahan dalam struktur sosial masyarakat. Masyarakat mulai hidup secara menetap di suatu wilayah tertentu. Mereka membentuk kelompok yang lebih besar dan mulai mengenal norma-norma sosial yang teratur. Pembagian kerja juga lebih jelas; laki-laki bertanggung jawab membuka lahan dan mengelola pertanian, sementara perempuan mengurus rumah tangga dan mengolah hasil pertanian.

Dengan kehidupan yang lebih menetap, manusia mulai membangun pemukiman yang permanen. Desa-desa kecil mulai terbentuk, dan kehidupan sosial mereka menjadi lebih terorganisir. Pada masa ini, mereka juga mulai mengenal kepercayaan terhadap roh nenek moyang yang diwujudkan dalam bentuk pemujaan.

3. Masa Perundagian

Masa perundagian atau masa kemahiran teknik adalah masa di mana masyarakat pra-aksara mulai mengenal teknologi pembuatan alat-alat dari logam. Masa ini terjadi pada zaman perunggu dan besi. Pada fase ini, manusia pra-aksara tidak hanya hidup dari pertanian, tetapi juga dari hasil keterampilan mereka dalam membuat peralatan logam.

a. Pengaruh Kebudayaan Dongson

Kebudayaan Dongson, yang berasal dari Vietnam, memiliki pengaruh besar dalam perkembangan masyarakat pra-aksara di Indonesia pada masa perundagian. Kebudayaan ini memperkenalkan teknik pembuatan alat-alat logam, seperti perunggu dan besi, yang sangat membantu manusia dalam berbagai aktivitas. Alat-alat logam yang dibuat antara lain kapak corong, nekara, dan bejana perunggu.

Kapak corong, misalnya, digunakan untuk membajak tanah, sementara nekara digunakan dalam upacara keagamaan dan sebagai simbol status sosial. Hasil kebudayaan ini menunjukkan adanya perkembangan dalam kehidupan spiritual dan kepercayaan manusia pra-aksara.

b. Peningkatan Kemahiran Teknik

Pada masa perundagian, masyarakat pra-aksara sudah mengenal berbagai teknik untuk mencetak logam. Salah satu teknik yang digunakan adalah a cire perdue (cetak lilin hilang), di mana logam dilelehkan dan dicetak menjadi peralatan yang diperlukan. Selain itu, ada juga teknik bivalve, yang memungkinkan cetakan digunakan berulang kali.

Masyarakat pada masa ini juga sudah mengenal sistem perdagangan barter. Hasil produksi alat-alat logam tidak hanya digunakan sendiri, tetapi juga diperdagangkan dengan kelompok masyarakat lain. Selain itu, mereka sudah mengenal kerajinan tangan, seperti seni ukir, yang menunjukkan adanya peningkatan dalam aspek estetika kehidupan manusia.

4. Masa Megalitikum

Selain masa bercocok tanam dan perundagian, pada masa pra-aksara juga berkembang kebudayaan megalitikum, yaitu kebudayaan yang ditandai dengan penggunaan batu-batu besar untuk keperluan keagamaan dan ritual. Kebudayaan megalitikum berlangsung sejak zaman Neolitikum dan terus berkembang hingga zaman logam.

Bangunan megalitikum yang terkenal antara lain menhir, dolmen, punden berundak, dan sarkofagus. Menhir adalah tugu batu yang didirikan untuk menghormati arwah nenek moyang, sementara dolmen adalah meja batu yang digunakan untuk meletakkan sesaji. Punden berundak adalah bangunan bertingkat yang digunakan untuk pemujaan, dan sarkofagus adalah peti batu yang digunakan sebagai tempat pemakaman.

Sumber:

Veni Rosfenti, Dra., M.Pd. (2020). Kehidupan Masyarakat Praaksara Indonesia: Modul Sejarah Indonesia Kelas X KD 3.4 dan KD 4.4. Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS, dan DIKMEN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses dari https://repositori.kemdikbud.go.id/21619/1/X_Sejarah-Indonesia_KD-3.4_Final.pdf.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya