Sistem kepercayaan adalah kumpulan keyakinan, nilai, dan norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan alam semesta, Tuhan, dan sesama manusia. Sistem kepercayaan merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan, karena mempengaruhi cara pandang, perilaku, dan identitas masyarakat. Oleh karena itu, mempelajari sistem kepercayaan dapat membantu kita memahami latar belakang, sejarah, dan kekayaan budaya masyarakat.
Salah satu masyarakat yang menarik untuk dikaji sistem kepercayaannya adalah masyarakat pra aksara, yaitu masyarakat yang belum mengenal tulisan sebagai alat komunikasi. Masyarakat pra aksara hidup pada zaman prasejarah, sebelum adanya catatan sejarah tertulis. Untuk mengetahui sistem kepercayaan masyarakat pra aksara, kita dapat menggunakan beberapa sumber informasi, seperti peninggalan megalitik, lukisan gua, dan tradisi lisan.
Peninggalan megalitik adalah benda-benda berukuran besar yang terbuat dari batu, seperti menhir, dolmen, sarkofagus, dan patung. Peninggalan megalitik biasanya berhubungan dengan ritual keagamaan atau pemujaan nenek moyang. Lukisan gua adalah gambar-gambar yang dibuat oleh masyarakat pra aksara di dinding gua. Lukisan gua biasanya menggambarkan aktivitas sehari-hari, hewan-hewan, atau simbol-simbol mistis. Tradisi lisan adalah cerita-cerita yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Tradisi lisan biasanya berisi tentang asal-usul, mitos, legenda, atau dongeng.
Dari sumber-sumber informasi tersebut, kita dapat mengetahui bahwa ada tiga jenis sistem kepercayaan yang berkembang pada masa pra aksara, yaitu animisme, dinamisme, dan totemisme. Ketiga sistem kepercayaan ini memiliki ciri-ciri dan praktik tersendiri yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat pra aksara. Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang ketiga sistem kepercayaan tersebut.
Animisme
Animisme adalah sistem kepercayaan yang memuja roh-roh nenek moyang. Masyarakat animis percaya bahwa nenek moyang mereka masih hidup di alam baka dan dapat memberikan perlindungan atau kutukan kepada keturunannya. Masyarakat animis juga percaya bahwa roh-roh nenek moyang dapat menjelma menjadi hewan atau tumbuhan.
Praktik animisme dalam kehidupan masyarakat pra aksara antara lain adalah ritual pemujaan, pemberian sesaji, dan penguburan mayat. Ritual pemujaan adalah upacara yang dilakukan untuk menghormati atau memohon sesuatu kepada roh-roh nenek moyang. Pemberian sesaji adalah persembahan berupa makanan, minuman, atau barang-barang lain yang diberikan kepada roh-roh nenek moyang sebagai tanda penghargaan atau permintaan maaf. Penguburan mayat adalah proses pemakaman jenazah dengan cara tertentu yang sesuai dengan adat istiadat.
Beberapa tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat animis adalah pohon besar, mata air, dan gunung. Pohon besar dianggap sebagai tempat tinggal roh-roh nenek moyang atau tempat bersemayamnya jiwa orang yang meninggal. Mata air dianggap sebagai sumber kehidupan atau tempat bersih-bersih diri dari dosa-dosa. Gunung dianggap sebagai tempat tertinggi yang dekat dengan alam baka atau tempat bertemu dengan roh-roh nenek moyang.
Dinamisme
Dinamisme adalah sistem kepercayaan yang menganggap benda-benda tertentu memiliki kekuatan ghaib. Masyarakat dinamis percaya bahwa ada benda-benda yang memiliki sifat-sifat khusus yang dapat memberikan manfaat atau bahaya kepada manusia. Masyarakat dinamis juga percaya bahwa ada benda-benda yang dapat dipengaruhi oleh roh-roh halus atau makhluk gaib.
Praktik dinamisme dalam kehidupan masyarakat pra aksara antara lain adalah penggunaan jimat, mantra, dan obat-obatan tradisional. Jimat adalah benda yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan, perlindungan, atau kekuatan kepada pemiliknya. Mantra adalah ucapan atau nyanyian yang dipercaya dapat menghasilkan efek tertentu, seperti menyembuhkan penyakit, mengusir roh jahat, atau memanggil hujan. Obat-obatan tradisional adalah bahan-bahan alami yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit atau meningkatkan kesehatan.
Beberapa benda yang dianggap memiliki kekuatan dinamis oleh masyarakat dinamis adalah batu, besi, dan api. Batu dianggap sebagai benda yang kuat, tahan lama, dan berharga. Besi dianggap sebagai benda yang tajam, keras, dan berbahaya. Api dianggap sebagai benda yang panas, terang, dan berubah-ubah.
Totemisme
Totemisme adalah sistem kepercayaan yang menganggap hewan tertentu memiliki hubungan khusus dengan kelompok sosial tertentu. Masyarakat totemis percaya bahwa ada hewan yang merupakan leluhur, saudara, atau pelindung mereka. Masyarakat totemis juga percaya bahwa ada hewan yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan mereka atau yang dapat memberikan inspirasi kepada mereka.
Praktik totemisme dalam kehidupan masyarakat pra aksara antara lain adalah pembagian kelompok berdasarkan hewan totem, larangan membunuh atau memakan hewan totem, dan penggambaran hewan totem dalam seni. Pembagian kelompok berdasarkan hewan totem adalah cara untuk menentukan identitas, asal-usul, atau hubungan kekerabatan seseorang dengan kelompoknya. Larangan membunuh atau memakan hewan totem adalah cara untuk menghormati atau menjaga keselarasan dengan hewan tersebut. Penggambaran hewan totem dalam seni adalah cara untuk mengekspresikan rasa kagum, hormat, atau cinta kepada hewan tersebut.
Beberapa hewan yang dianggap sebagai totem oleh masyarakat totemis adalah harimau, ular, dan burung. Harimau dianggap sebagai hewan yang gagah, berani, dan kuat. Ular dianggap sebagai hewan yang licin, cerdik, dan beracun. Burung dianggap sebagai hewan yang bebas, indah, dan ceria.